Menanti Duta

Berkat teman saya yang baik hati, impian untuk bertemu Duta, si vokalis utama Sheila On 7, sekaligus penyanyi idola zaman SMU ( :mrgreen: ), akhirnya kesampaian. Setelah sekitar setengah jam menanti di tempat pertemuan, yang ditunggu akhirnya datang juga. Tapi ternyata Om Duta belum ikut bersama rombongan. Yang nongol hanya Om Eros dan Om Adam. eros

adam

Sembari menunggu, kami menyibukkan diri dengan berfoto ria plus cipika-cipiki . Menit demi menit berlalu, batang hidung Om Duta belum juga nongol. What took him so long?

“Dia sudah on the way..” kata seseorang dari luar. “On the way mana, nih? On the way ke bandara? On the way ke hotel? On the way mau mandi? On the way lagi pakaian? Yang jelas dong, ah, on the way-nya… ” celetuk teman saya. πŸ˜€

Tiba-tiba seseorang masuk dan kami semua menoleh ke arah pria yang baru saja datang itu. Duta, kah? Lagi-lagi, bukan. Ada tiga atau empat kali kami mengalami hal seperti itu. Menyangka yang datang adalah Duta, ternyata bukan.

Menanti kedatangan seseorang (apalagi jika judulnya orang penting), yang telah ditentukan kapan waktunya, memang mesti bermodalkan kesabaran ekstra. Lantas bagaimana pula menanti kedatangan Yesus (yang sudah pasti seseorang Yang Maha Penting) yang kedua kalinya untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, yang kapan harinya tidak diketahui siapa pun, kecuali Allah sendiri? Mesti sabar tak terhingga pastinya….

Berhubung jam telah menunjukkan waktu makan siang, kami pun mengambil penganan untuk disantap. Saat menikmati makan siang itulah, Duta yang ternyata bertubuh cungkring itu, muncul! Tempat pertemuan pun heboh dibuatnya! Makan pun nggak santai jadinya! Ya, iyalah! Gimana mau santai? Penyanyi idola, gitu lho!! πŸ˜€

Singkat kata singkat cerita, Duta akhirnya duduk di hadapan saya! Sekali lagi, di hadapan saya! Bisakah Anda bayangkan betapa gembiranya saya?! Saking gembiranya, saya tak bisa berkata-kata. Bahkan untuk memotret dirinya dari sudut yang memadai pun tidak terpikirkan lagi oleh saya. Kalau bukan karena diingatkan teman saya itu, kemungkinan besar saya pulang tanpa barang bukti berupa foto bareng bersama Duta. Saya pun tersadar dan segera mengumpulkan “nyawa” untuk mengabadikan doi. πŸ˜€

 

duta

 

Kalau kamu lagi menanti apa, kawans? Menanti gaji? Menanti kekasih? Menanti pulang? πŸ˜€

Advertisements

10 thoughts on “Menanti Duta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s