Kacamata 3D

Terus terang, saya tidak begitu nyaman menonton film menggunakan kacamata 3 dimensi (3D). Gambarnya yang menjadi terlalu ‘hidup’, membuat mata saya sakit. Telinga saya pun lelah menjadi tempat si gagang kacamata menggelayut. Maka jika terpaksa harus menonton film 3D, biasanya beberapa menit setelah film diputar, kacamatanya saya buka dan sepanjang film saya menonton layar bioskop yang kabur.

kacamata

Hal ini mengingatkan saya bahwa dalam memandang hal-hal yang terjadi di sekitar kita setiap hari, kita dihadapkan pada dua pilihan. Apakah mau melihatnya dari sisi yang jelas (meskipun kadang menyakitkan), atau dari sisi yang kabur?

Seperti pengalaman saya tempo hari yang menghabiskan waktu dua hari di rumah sakit. Dari penglihatan saya yang daya jangkaunya terbatas, saya hanya melihatnya sebagai kerugian. Buang waktu dua hari nambah-nambahin beban hidup (pinjam istilahnya Jo). Tapi dari kacamata 3D, tidaklah demikian. Pada hari kedua, obat yang sehari sebelumnya tidak terdapat di apotik rumah sakit akibat kehabisan stok, akhirnya bisa saya peroleh. Juga tak disangka, saya bertemu seorang teman yang ternyata mengidap penyakit yang sama dan bisa bertukar info dengannya.

Jadi dari sisi mana Anda mau melihatnya?

Advertisements

7 thoughts on “Kacamata 3D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s