Lower Your Expectations

…… So that you’ll have a great experience.

Itulah respon saya mengenai topik tips traveling di ASEAN dalam salah satu episode Indonesia Travel Chat (#idtc) di linimasa twitter sekitar dua tahun lalu. Tujuan saya mengatakan itu adalah, agar Anda tidak terlampau kecewa ketika harapan maupun impian yang Anda harapkan ketika berjalan-jalan ternyata tidak sepenuhnya bisa terwujud. Tapi percayalah, melakukannya tidak semudah mengucapkannya. 😀

12

Samosir, Desember 2013

Pagi itu kami telah menyusun rencana kepergian kami ke Pangururan dengan matang. Namun siangnya, datanglah dua pria bertubuh tinggi. Ternyata ibu mereka meninggal dunia. Dan maksud kedatangan mereka adalah untuk mengundang pihak keluarga dari ibu mereka (hula-hula istilahnya dalam bahasa Batak), agar dapat hadir dalam acara adatnya di Onan Runggu.

Keluarga saya sebetulnya tidak begitu mengenal keluarga pria bertubuh tinggi ini. Oleh sebab itu kami memberikan beberapa nama yang menurut kami bisa dibilang masih keluarga dekat mereka. Tapi rupanya mereka telah mendatangi nama-nama yang kami sebutkan itu. Dan semuanya mengatakan bahwa keluarga sayalah yang lebih layak/seharusnya datang ke acara adat ibu mereka yang meninggal tersebut.

Karena kami masih menghargai adat Batak, kami pun tak kuasa menolak undangan mereka. Bahwasanya lebih penting menghadiri acara adat orang meninggal daripada jalan-jalan. Perubahan rencana kami godok malamnya. Setelah acara adat selesai, kami akan menempuh jalan darat melalui perbukitan agar dapat melihat Danau Toba dari ketinggian. Lalu malamnya kami tiba di Pangururan dan menginap di sana.

Esok paginya, disambut udara dingin sekitar 19 derajat Celcius, kami bersiap berangkat. Berjalan kaki menuju dermaga, kami melewati jalanan berbatu dan sebagian beraspal beton. Di dermaga kami menunggu kapal yang telah dipesan oleh pihak yang telah mengundang kami sehari sebelumnya, yang akan membawa kami ke Onan Runggu.

2

Cuaca cerah membuat pelayaran kami menyenangkan. Berada di antara langit biru, danau yang gemerlapan dihujani sinar mentari, pegunungan Bukit Barisan di sebelah kiri, Pulau Samosir di sebelah kanan, mengingatkan saya akan Milford Sound di Selandia Baru.

Danau Toba dengan Pulau Samosirnya sebetulnya tak kalah cantik. Hanya saja (mungkin) kemampuan kita dalam mengelolanya belum mencapai tingkat untuk menjadikannya objek wisata berkelas internasional macam Milford Sound.

4

Tapi pernah ada teman yang sewot gara-gara mendengar impian saya yang menginginkan pariwisata Samosir bangkit. Menurutnya, jika satu daerah sudah diekspos habis-habisan sebagai objek wisata, biasanya pelacuran pun akan tumbuh subur di daerah itu. Jadi dia kurang setuju jika pariwisata Samosir bangkit. Teman saya itu lebih senang dengan keadaan Samosir yang seperti sekarang, yang tidak terlalu terkenal seperti saudara sepupunya, Bali.

Lamunan saya buyar ketika suami mengajak berfoto. Saya pun mengiyakannya. Kapan lagi bisa berfoto berduaan dengan kekasih hati di tengah Danau Toba yang indah? 🙂

10

Sorenya, setelah menuntaskan misi kami sebagai hula-hula di acara adat orang meninggal itu, kami pun pamit kepada seluruh rombongan yang tadinya satu kapal bersama kami. Kami menjelaskan rencana kami yang hendak melanjutkan perjalanan melalui darat menuju Pangururan dan tidak ikut pulang naik kapal bersama mereka.

Lantas dengan apa kami menuju Pangururan? Di sela-sela acara adat, kami mencari informasi tentang kendaraan yang tersedia sampai sore, yang bisa kami sewa ke Pangururan. Tapi kami lupa bahwa kami sedang bepergian di Samosir. Tempat di mana ‘berangkat’ belum tentu berarti ‘berangkat’ dan ‘ada’ belum tentu berarti ‘ada’. Intinya, tempat di mana tidak mudah mendapatkan kendaraan yang bisa digunakan sewaktu-waktu.

Maka alangkah dongkolnya saya, ketika kami diberitahu bahwa kendaraan yang akan kami sewa tidak bisa membawa kami ke Pangururan. Padahal hari itu saya sudah sangat yakin bahwa impian jalan-jalan akan terwujud. Tapi rupanya, yakin saja belum cukup.

Kini tak ada pilihan lain, kami harus pulang. Dan satu-satunya cara untuk pulang adalah dengan kapal yang kami tumpangi pagi tadi. Yang mana menurut perhitungan saya, saat ini pasti sedang bersiap pulang. Kalau kami tak cepat bergerak, kami akan ketinggalan. Dan kalau kami ketinggalan, masak iya kami harus berenang?

Dengan setengah berlari ke arah kapal, saya mendapatinya tengah bergerak mundur. Saya pun berteriak memanggilnya kembali. Untunglah si kapal mendengar teriakan kami dan ia pun mendekat ke arah kami.

lower your expectations

Grand Plan

Di dalam kapal saya duduk bermuram durja memejamkan mata, merenungi harapan serta rencana perjalanan yang berantakan. Sementara bebukitan yang kami lewati di seberang danau sana, berkejaran sambil seolah tertawa terpingkal-pingkal mengejek saya,

“Pulang nih, ye… Kecian, deh, lo. Makanya jadi orang jangan kelewat pede….”

Jika detik itu ada orang yang mengatakan kepada saya bahwa semua itu terjadi karena Tuhan berkehendak lain, dan bahwasanya itu adalah grand plan-Nya, karena Tuhan tidak memberi apa yang kami inginkan melainkan apa yang kami butuhkan, kemungkinan besar orang tersebut akan langsung saya ceburkan ke danau!

Sekarang, tentu saya sudah bisa tertawa terbahak-bahak bila mengingat kejadian itu. Bahwasanya apapun yang terjadi dalam hidup ini, pastilah atas sepengetahuan dan seizin Tuhan. Dan bisa jadi tahun lalu kami gagal jalan-jalan, agar tahun depan ketika kami sekeluarga berkumpul, kami bisa mengelilingi Samosir dalam formasi lengkap.

Tentunya akan sangat bijaksana jika kami menggunakan kendaraan sendiri agar lebih fleksibel berjalan-jalan di Samosir. Entah itu dengan kapal sendiri, mobil sendiri, atau motor sendiri. Maksud saya disewa, bukan beli. 😀 Mana tahan kalau beli kapal. 😛

***

Oiya, kejadian ini mengilhami tulisan 32 My Age yang saya ikut sertakan dalam giveaway ulang tahun Jo, di awal tahun 2014 ini. Dan karena kejadian ini juga, kami batal menghabiskan Natal dengan orangtua. Orangtua jadinya merayakan Natal dengan saudara dari pihak ibu yang membutuhkan kehadiran mereka. Sedangkan kami merayakan Natal dengan sanak saudara yang membutuhkan kehadiran kami.

 

9

11

13

14

15

 

Karena kami telah belajar untuk menurunkan harapan, serta mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi dan tak tunduk pada ego kami, sesungguhnya pada Natal tahun lalu kami sudah ‘naik kelas’. Akankah Natal tahun ini kami kembali ‘naik kelas’ ? 😉

Untuk yang mau liburan ke Samosir, jangan ragu datang ke sana. Saran saya, jika tak mau repot mikirin transportasi, penginapan dan tetek bengeknya, lebih baik Anda ikut tur yang segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh agen perjalanan Anda dengan baik. Tapi kalau Anda ingin mengalami segala kerepotan itu, maka coba tengok-tengok atau intip-intip ke blog mbak Noni di sini. Ulasan doi cukup banyak mengenai Samosir. Semoga bisa membantu. 🙂

Happy traveling and don’t forget to lower your expectations! 😀

 

 

 

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Lower Your Expectations

    1. Wah enaknya yang baru dari Samosir… kalo kau berdiri di Ajibata menghadap pulau Samosir, Onan Runggu itu berada di paling ujung sebelah kirimu Jo. Biar gampang lihat di gugelmap aja 😀

      Like

  1. Cantik banget yaa Mes Danau Toba dan Samosir ituu.. Eh tapi setuju banget aku, kalau sebelum mendatangi suatu tempat kita udah punya ekspektasi yg tinggi, begitu ga sesuai harapan malah kecewa bgt jadinya. Mendingan biasa2 aja tapi begitu sampe tempatnya malah kesenengan karna beyond expectation 🙂

    Like

  2. Cita-cita pergi ke Samosir tapi belum kesampaian. Soal prostitusi, dengan ataupun tanpa pariwisata, prostitusi itu tetaplah ada. Kalau mau menekan prostitusi, regulasinya harus dibuat sekenceng mungkin dengan hukuman keras jika membeli jasa dari mereka.

    Like

    1. Betul. Pelacuran ada karena ada permintaan pasar. Btw, sayang banget dirimu nggak sempat mampir ke Samosir pas tinggal di Medan dulu mbak. Padahal cuma 4 jam lho dari Medan. Semoga kesampaian suatu hari nanti 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s