Antara MBK, Dosen dan Impor

Berburu oleh-oleh di pusat pasar untuk dibawa pulang ke tanah air, sudah menjadi semacam harga mati bagi orang Indonesia ketika pelesiran. Jadi penasaran, warga negara lain kalau sedang jalan-jalan pada mikirin oleh-oleh untuk dibawa pulang juga, nggak? ๐Ÿ˜€

MBK Center

MBK Center

Seperti di Bangkok kemarin, saya mampir ke Mah Boon Krong Center atau yang sering disingkat menjadi MBK Center, pusat pasar yang menyediakan berbagai macam barang dengan harga terjangkau. Strategi MBK untuk menarik calon pelanggan datang ke mall mereka, keren menurut saya. Pada iklan yang dipajang dalam inflight magazine pesawat terbang yang kami tumpangi, MBK menyuruh penumpang memotret iklan mereka dan menunjukkan hasil jepretan ke bagian bag deposit counter yang terletak di lantai 6 MBK. Nantinya, hanya dengan menunjukkan jepretan iklan tersebut, penumpang akan mendapatkan t-shirt secara gratis.

Misalnya dalam satu penerbangan terdapat penumpang sebanyak 27 baris, kiri kanan berisi tiga tempat duduk, semua berisi dan semua penumpang menjepret, kemudian semua membawa jepretannya ke bag deposit counter, sebanyak itulah t-shirt gratis yang akan dibagikan MBK. Itu baru dari satu penerbangan. Kalau sehari ada 20 penerbangan menuju Bangkok? Capek juga ngitung t-shirtnya, ya, bok. ๐Ÿ˜€

Bagi penumpang yang tak tahan godaan dengan penawaran yang mengandung kata ‘gratis’, tentu otaknya langsung memproses informasi ini agar segera dieksekusi setibanya di Bangkok. Padahal belum tentu barang gratis yang akan diperoleh itu membawa manfaat. Bisa jadi ujung-ujungnya cuma berat-beratin bagasi. ๐Ÿ˜€

***

Setibanya kami di MBK, mallnya belum buka. Kami kepagian. Kami pun memutuskan menunggu di salah satu kedai kopi tak jauh dari MBK. Dalam perjalanan mencari kedai kopi ini, seorang pria berpenampilan necis dan berkacamata hitam menghampiri kami. Ia mengaku berprofesi sebagai dosen.

Karena sudah pernah membaca beberapa ulasan mengenai penipuan di Bangkok dan memperingatkan wisatawan agar mengabaikan orang-orang yang mengajak bicara atau bertanya-tanya, alarm peringatan saya langsung nyala. Mungkin tidak semua orang yang bertanya adalah penipu. Tapi bagaimanapun tak ada salahnya untuk selalu waspada.

Pak dosen ini bertanya darimana asal kami dan ke mana tujuan kami.

“Dari Indonesia,” jawab kami.

“Indonesia? Banyak istri?” cecar pak dosen.

Saya heran, entah mengapa pak dosen bisa menghubungkan Indonesia dengan banyak istri. Padahal di luar banyak istri, masih banyak hal lain yang bisa dihubungkan dengan Indonesia. Alamnya yang rupawan, misalnya? Danau Toba? Atau mungkin Gunung Bromo?

Well, tidak semua orang Indonesia punya banyak istri. Hanya mereka yang berduit banyak, yang istrinya banyak. Kalian juga begitu, kan?” jawab suami saya. Pak dosen tertawa mendengarnya.

Dari pertanyaan banyak istri, pak dosen beralih ke mall. Menurut dia, mall di sekitar situ nggak ada bagus-bagusnya karena barangnya diimpor semua. Tapi kalau MBK bolehlah, katanya. Karena banyak produk buatan Thailand dijual di situ.

Lalu dia memberitahu kami lokasi yang bagus untuk membeli barang-barang buatan Thailand yang lebih bagus lagi dengan harga yang sudah pasti juga lebih bagus. Dia mengajak kami menepi ke tempat yang tidak terlalu ramai dilewati orang, di antara ruko-ruko yang pagi itu masih pada tutup. Alarm peringatan saya berdering semakin nyaring.

Setelah sibuk berpanjang lebar menjelaskan lokasinya, pak dosen langsung menawarkan kami apakah mau pergi seketika itu juga. “Ada tuk-tuk yang siap mengantar Anda,” tunjuknya ke arah tuk-tuk yang entah darimana datangnya, tahu-tahu sudah stand by di dekat kami. “Oh, tidak sekarang. Waktu kami masih banyak. Nanti kami bisa pergi sendiri ke sana,” jawab suami diplomatis. ๐Ÿ˜€

Usai suami memberi jawaban seperti itu, pak dosen pun langsung berhenti menawarkan ini itu. Dia pamit berangkat menuju universitas yang memang ada di dekat situ.

Terlepas dari apakah dia penipu atau dosen beneran, sikapnya yang berusaha mengarahkan kami menuju tempat penjualan barang yangย menurut pengakuan dia adalah buatan Thailand bukan impor, patut saya acungi jempol. Ia cinta buatan dalam negeri.

***

Di MBK, meski umumnya harga barang sudah tertera pada produk, namun di beberapa toko, harganya masih bisa ditawar. Mungkin karena saat itu efek kudeta menyebabkan tingkat kunjungan turis menurun, maka ditawar setengah harga pun, daripada tidak laku, mereka rela melepas barang.

Dan saya ketemu tenunan Thailand yang indah. Dalam hati saya berharap, semoga benangnya juga buatan Thailand seperti pengakuan penjualnya. Tidak seperti nasib tenun Indonesia yang mengaku Made in Indonesia, tapi ternyata benang sebagai bahan bakunya diimpor dari India. Sama saja bohong, kan? Itu mah sebagian Made in India. Atau mungkin juga seperti nasib produsen tas kulit premium yang mengaku dengan bangganya buatan Indonesia, tapi ternyata kulitnya pun (dengan bangga mereka akui), diimpor dari Italia.

Pantas saja rupiah kita hanya berada di level yang itu-itu saja terhadap dollar Amerika. Wong impor kita gila-gilaan. Coba perhatikan yang Anda kenakan dari kepala hingga kaki serta makanan yang Anda konsumsi. Sebagian besar kebutuhan sehari-hari diimpor. Bahkan manusia pun diimpor. Maka jangan bermimpilah rupiah akan menguat selama ketergantungan impor kita tinggi.

Tapi memang berat, sih, ya, tak bergantung produk impor. Apalagi tampang produk impor ini lebih aduhai daripada produk lokal. Didukung dengan selisih harga yang tak terlalu signifikan dengan produk lokal, masyarakat tentunya lebih memilih produk impor. Kalau sudah begitu, alhasil produksi dalam negeri akan mati karena tak bisa bersaing dengan produk impor.

Seperti pengalaman saya dengan wortel, dulu saya sempat demen beli wortel impor karena wortel lokal tidak ada di pasaran. Hingga akhirnya satu hari, sekitar satu setengah tahun yang lalu, stok wortel impor ini kosong. Maka terpaksalah wortel lokal diperdagangkan. Tak ada pilihan, saya pun membeli wortel lokal. Dari segi penampilan, jujur saja, ia tak menggiurkan. Kulitnya bopeng, sama sekali tak mulus. Sangat berbeda kondisinya dengan wortel impor yang kulitnya berwarna oranye menyala. Tapi yang mengejutkan, kandungan airnya ternyata lebih banyak, serta rasanya justru lebih manis dan legit daripada wortel impor.

Setelah tahu faktanya seperti itu, saya tak bisa lagi pindah ke lain hati wortel. Saya selalu menggunakan wortel lokal, kendati wortel impor telah tersedia di pasar. Dan sedihnya, selisih harga per kilo wortel impor dan lokal ini tipis sekali. Kadang hanya dua ribuan. Kalau sudah begini, bagaimana petani lokal mau sejahtera? Bagaimana wortel lokal mau bertahan kalau petaninya tetap miskin, bahkan terus diberi pinjaman agar terus dijerat utang?

Berhubung petani semakin sedikit karena penjualan tak menguntungkan, produksi lokal tentu tak mencukupi permintaan pasar. Mau tak mau, wortel harus diimpor, kan? Semakin besar impor, maka dollar Amerika yang dibutuhkan untuk membayar utang importir, otomatis akan semakin besar. Rupiah pun semakin terpuruk ku disini. Begitulah lingkaran setan ini akan terus berlangsung jika tidak diputus.

Advertisements

16 thoughts on “Antara MBK, Dosen dan Impor

  1. gegekrisopras says:

    Miris ya kak Messa, kalau kita tahu lebih dalam ttg produk2 impor ini. Saya pernah dikasih tau temen, katanya produk impor itu bahaya krn dikasih pengawet buatan.. Ato dilapisi 7 lilin biar ga rusak waktu diimpor

    Like

  2. Pypy says:

    Waduh.. Gw juga masih sering beli2 sayur impor nih..ckckc.. *selftoyor*.. Soalnya berasa enakan belanja disupermarket deket kantor sih krn emang yg impor knp bisa terlihat lebih fresh drpd yg lokal.. huhuuh..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s