Akhir Pekan di Surabaya

Ibarat pemangsa yang antusias menyambut daging segar, seperti itu pulalah saya menyambut tawaran suami untuk berakhir pekan di Surabaya. Sebagai petualang sejati bin banci jalan-jalan, mustahil saya menolaknya. πŸ˜€

Menyesuaikan dengan waktu yang tersedia, berikut ini beberapa tempat yang saya singgahi:

1. House of Sampoerna (HoS)

Serba sembilan dan jalan panjang menuju kesempurnaan. Itulah kesan dan pesan yang saya peroleh setelah mengitari tempat yang berada di Surabaya bagian Utara ini. Melewati gedung bekas penjara yang temboknya dipenuhi oleh grafiti sarat seni, saya disambut bangunan megah dengan empat pilar utama yang bentuknya menyerupai batang rokok Dji Sam Soe. Di ambang pintu masuk, wangi cengkeh dan tembakau menyeruak memenuhi udara.

House of Sampoerna
House of Sampoerna

Setelah mendapat info dan etika berkunjung dari petugas sekuriti, saya pun mengelilingi gedung yang awalnya merupakan pabrik pertama rokok Sampoerna, bersama seorang pemandu perempuan yang cantik dan ramah.

Awalnya suami istri pendiri Sampoerna hanya memiliki warung kecil yang menjual berbagai macam bahan pokok, buah dan tembakau.

Warung Sampoerna
Warung Sampoerna

Kerja keras akhirnya berbuah manis. Mereka berhasil tampil menjadi raja rokok di Indonesia. Sesuai dengan huruf ‘E’ ganda yang berwarna merah yang terpampang jelas di pintu masuk serta di kaca patri, yang melambangkan Raja.

'E' melambangkan Raja
‘E’ melambangkan Raja

Menurut mbak cantik sang pemandu, dulunya gedung ini dwifungsi. Dari pagi hingga siang menjadi pabrik rokok, malam hari menjadi bioskop. Tempat usaha dwifungsi seperti ini mengingatkan saya pada lokasi kuliner Medan yang terkenal yang berada di jalan Semarang dan Selat Panjang. Pagi hingga siang hari di sepanjang jalan ini merupakan toko-toko yang menjual berbagai onderdil kendaraan. Malamnya ia berubah wujud menjadi tempat yang menjajakan berbagai santapan nikmat untuk memuaskan lidah masyarakat Medan. Mungkin memang seperti itulah filosofi Cina untuk meraih kesuksesan: gunakan kesempatan sekecil apapun dengan sebaik mungkin, agar tak ada rezeki yang terbuang sia-sia.

Dan, Charlie Chaplin kabarnya pernah menyambangi bioskop ini. Pintu masuk menuju bioskop dulunya terletak di belakang lemari besar seperti yang bisa dilihat pada foto di bawah ini:

Lemari
Lemari

Nah, lantai di tengah ruangan yang terdapat di depan lemari ini, dibangun melengkung ke bawah, melambangkan rezeki yang berkumpul di pintu masuk. Dan sampai sekarang, rokok masih diproduksi di balik lemari ini.

Kemudian pada dindingnya terdapat simbol tiga tangan yang melambangkan produsen, distributor dan konsumen. Jadi menurut Sampoerna, ketiganya haruslah saling mengisi agar kesempurnaan dapat tercapai. Lagi-lagi, saya dibuat terpesona oleh Sampoerna yang sarat dengan filosofi!

3 Tangan
3 Tangan

Masih berada di dalam ruangan yang sama dengan pintu di atas, terdapat pula alat cetak mula-mula yang digunakan Sampoerna untuk mencetak merek rokoknya. Terlihatlah di situ bahwa Sampoerna pernah mencoba merek lain di luar ‘234’. Namun karena hasilnya tidak begitu memuaskan, diputuskanlah hingga kini hanya menggunakan ‘234’. Dipercaya, tiga angka yang jika ditotal berjumlah sembilan ini, membawa keberuntungan bagi keluarga mereka.

Alat Cetak
Alat Cetak

Selesai dari lantai bawah, kami menuju lantai dua, tempat suvenir dan tempat melihat-lihat pekerja yang bekerja di lantai bawah, di balik pintu lemari yang telah saya singgung di atas. Dulunya lantai atas merupakan tempat duduk bagi para penonton VIP bioskop. Sayangnya, di lantai ini tidak diperbolehkan mengambil foto.

Sebagian besar pekerja adalah perempuan. Tugas mereka dibedakan dari warna topi yang dikenakan. Hitam melinting, merah memotong, kuning mengepak. Sabtu mereka kerja setengah hari dari jam 6 pagi-11 siang. Beruntung saya datang di pagi menjelang siang hari itu sehingga sempat menyaksikan mereka beraksi.

Di lantai atas ini pula saya mengakhiri kebersamaan dengan mbak pemandu cantik yang telah bersedia menemani selama kurang lebih 30 menit.

Setelah puas melihat-lihat, saya kembali ke lantai bawah menuju foto Sultan Jogja yang sedang memegang rokok di jarinya. Ingin melihat sekali lagi sebelum saya benar-benar meninggalkan gedung megah itu. Menurut penuturan mbak pemandu, Sultan pernah meminta Sampoerna sebagai advisor atau penasehat rokoknya. Namun yang menarik, rokok yang beliau konsumsi justru bukan buatan Sampoerna, melainkan rokok Kraton produksi Jogja. πŸ˜€

Sultan Jogja
Sultan Jogja

Di sebelah kiri gedung utama terdapat kafe yang dulunya merupakan ruang makan keluarga.

Kafe
Kafe

Bagi pengunjung yang tertarik untuk mengikuti ‘Surabaya Heritage Track’, bisa mendaftar di ruangan kecil yang terletak pada bagian depan sebelah kiri kafe ini. Tidak dipungut biaya untuk tur. Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan cek ke sini.

Surabaya Heritage Track Bus
Surabaya Heritage Track Bus

 

2. Mesjid Muhammad Cheng Hoo (MMCH).

Di tengah hari yang semakin panas, saya melanjutkan petualangan ke MMCH. Di sini saya bertemu seorang gadis belia dan bertanya apakah ada pemandu yang bisa memaparkan sejarah berdirinya mesjid yang didominasi warna merah dan kuning serta ornamen khas Cina ini. Ia menyebut nama, tapi sayang orangnya sedang tidak di tempat.

Mesjid Cheng Hoo
Mesjid Cheng Hoo

Syukurlah terdapat prasasti yang menceritakan sedikit kisah hidup Laksamana Cheng Hoo. Sehingga saya tak perlu ke perpustakaan lagi mencari buku sejarah yang memuat tentang beliau. πŸ˜€

Cheng Hoo berasal dari suku ‘Hui’ di Bukhara yang terletak di Asia Tengah, kini termasuk Propinsi Xinjiang. Suku ini turun temurun menganut agama Islam. Kemudian mereka pindah ke Kunming, Propinsi Yunnan dan menetap di sana. Sejak kecil Cheng Hoo sudah terkesan amat pintar, cerdas dan rendah hati. Wawasan dan visinya yang jauh ke depan sangat jernih, mantap, mudah dipahami dan diikuti.

Atas perintah Kaisar Dinasti Ming, tahun 1405 Cheng Hoo ditunjuk sebagai laksamana pasukan laut kerajaan. Dan sejak itu dimulailah perjalanan mengarungi tujuh samudera menuju daerah barat. Cheng Hoo merupakan Muslim yang taat dan saleh, juru damai yang ulung dalam menciptakan hubungan baik antara Cina dan negara-negara di Asia dan Afrika.

Relief Cheng Hoo dan Kapalnya
Relief Cheng Hoo dan Kapalnya

Cheng Hoo juga merupakan bahariwan terbesar dalam sejarah bangsa Cina serta perintis dalam sejarah navigasi dunia. Tercatat dalam sejarah, Cheng Hoo memulai perjalanan lautnya 87 tahun lebih awal dari Columbus, 92 tahun lebih awal dari Vasco Da Gama dan 116 tahun lebih awal dari Magellan.

Kapalnya mengunjungi lebih dari 50 tempat dan negara sehingga membuka 41 jalur pelayaran internasional. Selama perjalanannya, kapal Cheng Hoo juga mengunjungi Kerajaan Majapahit di Jawa, bekas Kerajaan Samboja di Palembang dan Samudera Pasai di Aceh, Sumatera. Semarang dan Surabaya adalah dua pelabuhan terpenting yang sering dikunjunginya.

Pada awal abad ke-15, Cheng Hoo pernah mengadakan pertemuan dengan sejumlah Muslim Cina yang menetap di Jawa. Dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa, Muslim Cina telah memiliki sejarah yang panjang di Indonesia. Tahun 1961, Buya Hamka, Ulama besar dan Cendekiawan Islam Indonesia terkemuka, menulis, β€œSeorang Muslim dari Cina yang amat erat kaitannya dengan kemajuan dan perkembangan Islam di Indonesia dan Melayu adalah Laksamana Cheng Hoo.”

Untuk memonumentalkan catatan dan fakta perjalanan bersejarah Laksamanan Cheng Hoo sebagai bahariwan yang jaya, utusan perdamaian yang terpuji, seorang Muslim yang taat dan saleh, maka umat Muslim Surabaya membangun mesjid ini di tengah kota Surabaya. Mesjid ini sendiri diresmikan oleh Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar pada bulan Mei tahun 2003.

Mesjid Cheng Hoo
Mesjid Cheng Hoo

Sebelum saya beranjak pergi, petugas keamanan memberi saya dua majalah dwi bulanan gratis. Kalau Anda ikhlas, silahkan beri semacam pengganti uang cetak ke dalam tempat yang disediakan.

Ornamen Khas Cina
Ornamen Khas Cina

 

3. Mirota Batik

Persinggahan saya selanjutnya Mirota Batik. Sebetulnya saya sempat mampir sebentar di Plaza Tunjungan untuk bernostalgia. Ingin tahu entah seperti apa bentuknya setelah 24 tahun tak berjumpa. Ternyata sekarang Plaza Tunjungan bukan hanya satu, melainkan ada empat! Onde mande…. Arek Suroboyo senang belanja-belanji rupanya, ya? πŸ˜€ Berhubung bukan anak mall, saya tak lama di Plaza ini. Mengistirahatkan kaki sebentar sambil mencicipi cronut yang belum ada di Balikpapan, lalu cabut ke Mirota.

Di Mirota saya lumayan betah. Bukan lumayan ding, betah banget. Gimana nggak betah, coba? Dari mulai pembatas buku yang unyu-unyu, lukisan, novel lawas, pajangan, furnitur jati, magnet kulkas hingga berbagai macam produk batik, semua ada di toko empat lantai yang tampak tidak terlampau besar dari luar ini. Kalau tak tahan nafsu, bisa kalap belanja di sini. πŸ˜€ Sayangnya dilarang memotret produk di dalam. Makanya tak ada contoh barang yang bisa saya tampilkan di blog ini. πŸ˜€ Seandainya tidak dilarang, saya jamin, Anda semua pembaca blog ini pun bisa ikutan kalap melihatnya. πŸ˜€

Namun ada sedikit kelemahan, Mirota Batik belum dilengkapi cctv dan price bar pada produk-produknya. Sehingga pelayanan di kasir, saya perhatikan agak kerepotan dengan nota-nota barang. Coba dibikin seperti belanja ala Ace Hardware. Pengunjung cukup memasukkan barang yang diminati ke keranjang belanja, lalu langsung menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran.

Dan untuk mengantisipasi pencurian akibat tak ada cctv, di tiap barang, mau tak mau harus dibikin sensor. Jika pengunjung lupa membayar, atau tak sengaja menaruh barang yang belum dibayar di dalam tas (kalau tak mau dibilang mencuri), alat sensor akan bunyi di pintu keluar, kehilangan barang pun bisa dicegah.

Saya baru sadar kalau ternyata hari sudah malam saat perut saya protes minta diisi. Saya pun turun menuju tempat makan mini yang berada di dekat pintu masuk. Kepada pelayannya saya bertanya menu favorit apa yang mereka punya. Ia menjawab, “Rujak cingur khas Surabaya.” Saya pun setuju mencoba makanan rekomendasinya itu. Tapi ia bertanya lagi apakah saya mau yang mateng atau tidak, dan cabainya berapa. Mana saya tahu apakah saya mau yang mateng atau tidak dan pakai cabai berapa banyak, wong saya belum pernah nyoba.

Saya pun gambling saja bilang, “Mateng dan pedasnya sedang.” Pelayan itu pun berlalu. Tapi tak lama, ia kembali lagi. Kali ini pertanyaannya, “Pakai petis tidak?” Saya ragu menjawabnya. Seingat saya petis itu berwarna hitam seperti yang pernah saya makan dengan tahu petis di sini. Tapi sejujurnya, saya tak tahu entah seperti apa sebenarnya tampang petis ini. Dan apakah petis yang dia maksud adalah sama dengan petis yang ada dalam memori saya.

Maka untuk memastikan, saya pun balik bertanya, “Petis itu apa?” Tak disangka, pertanyaan itu membuat seorang pengunjung pria separuh baya menoleh ke saya. Mungkin dia heran, koq ada manusia yang tak tahu petis di Surabaya. Entahlah. Saya hanya berusaha jujur.

“Petis itu semacam terasi,” terang si pelayan. Untuk menyudahi ‘sesi tanya jawab’ yang menurut saya telah berlangsung lumayan lama dan membuat perut saya semakin protes ini, saya pun dengan pedenya mengiyakan agar rujaknya pakai petis.

Tak menunggu lama, rujak cingur saya datang. Saya tak sabar untuk segera mencicipi salah satu makanan khas Surabaya ini. Sekilas penampakannya mengingatkan saya akan masakan gota khas Batak dengan kuah menghitam karena menggunakan darah.

rujak cingur

Dan ketika saya cicipi, hmmm…. Maafkan saya, rek, rujak cingurnya nggak cocok di lidah. Perut saya bergolak. Terpaksa saya ganti dengan nasi Bali komplit yang sepertinya aman di perut. Dan benar saja, setelah menelan nasi Bali, perut tak lagi berontak. Ah, Bali juga yang betul. Hidup Bali! Eh, nasi Bali maksud saya. πŸ˜€

Begitulah kalau komunikasi payah. Mas pelayan Mirotanya tidak begitu ahli menjelaskan apa itu rujak cingur, saya pun tak ahli menyampaikan pertanyaan atau kebutuhan saya. Akibatnya, dia tak dapat menangkap apa maunya saya, karena saya tak bisa mengungkap apa yang saya mau. Akhirnya kami berdua pun berenang di lautan rujak cingur petis yang hitam. Jleb!

 

4. Gereja Kepanjen

Hari Minggu rasanya ada yang kurang kalau belum kebaktian. Maka sebelum pulang ke Balikpapan, saya pun menyempatkan diri kebaktian di Katedral Kelahiran Santa Perawan Maria yang terletak di jalan Kepanjen.

Gereja Kepanjen
Gereja Kepanjen

Menurut sejarah gereja yang dipaparkan di halaman depan, cikal bakal gereja ini diresmikan pada bulan Maret tahun 1822. Kemudian tahun 1867, bangunan mulai retak akibat gempa. Dan karena jemaat semakin banyak, gereja pun terasa semakin sempit. Maka muncullah gagasan untuk mendirikan gedung baru. Dan pada tahun 1889, dibelilah sebidang tanah di jalan Kepanjen (saat itu bernama Tempelstraat).

Agustus tahun 1900, gereja ini diresmikan oleh Vikaris Apostolik Batavia, Mgr. Edmundus Sybrandus Luypen SJ. Lalu di tahun 1945, gereja mengalami kerusakan hebat akibat terbakar. Lima tahun kemudian gereja direnovasi. Bentuknya sekarang seperti di bawah ini:

Saya berencana mengikuti kebaktian/misa jam 10. Mumpung masih ada waktu sebelum misa dimulai, saya pun berkeliling di sekitar gereja. Di seberang gereja ada tempat mangkal becak dan warung-warung yang menjual berbagai macam makanan. Untuk jemaat yang lapar atau mungkin tak sempat sarapan karena harus mengejar misa jam 6 atau 8 pagi, bolehlah mampir di sini untuk mengisi perut.

Pak Djo Stand No.15
Pak Djo Stand No.15

Abang-abang becak yang setia menanti calon penumpang:

Becak
Becak

Pada bagian samping kanan gereja terdapat tempat berdoa dan relief jalan salib Yesus:

 

Tepat jam 10 pagi, paduan suara yang duduk di sebelah kanan mengumandangkan lagu puji-pujian dengan merdunya. Pertanda kebaktian dimulai dan saya harus menyudahi kegiatan jepret-menjepret di Surabaya.

Terima kasih untuk petualangannya!

Advertisements

28 thoughts on “Akhir Pekan di Surabaya

  1. Nice πŸ™‚ akupun lbh suka ke Mirota drpd Tunjungan Plasa πŸ˜‰ Mirota lbh kecil (yaeyyyalaaah) dan jelas lbh byk yg bs kubeli disana, hehehe. Surga bagi penggemar manik2.

    Like

  2. Huaaaa Surboyo rekkk! Keren mess gerejanya
    Aku tinggal di Malang dulu tapi ga pernah jalan2 di Surabaya..bahkan ha pernah ke tunjungan plaza..cuma tau stasiun KA nya tiap mau mudik ke jkt

    Like

  3. aku bulan lalu baru dari surabaya dan malang kak Mess, main ke mesjid Cheng Ho juga πŸ˜€
    sayang ga sempet main ke House of Sampoerna, kayanya keren liat dari foto2 disini hehe

    Like

  4. Hebat mba, bisa inget sejarahnya dengan detail.
    Aku kalo dijelasin sama pemandu pasti cuma inget dikit2 aja πŸ˜›
    Btw, cingur enak ga mba? Aku liat tampilannya juga kurang menarik πŸ˜€

    Like

    1. itulah gunanya foto mbak, jadi bisa ingat jalan ceritanya πŸ˜€ kalo yang cingur, kan dah tak tulis di atas mbaak, rujak cingurnya nggak cocok di lidah, jadinya terpaksa pesen yg lain hahah πŸ˜€

      Like

  5. Baru tahu ada Mirota batik juga di Surabaya….
    HoS jadi museum favoritku se-Indonesia pdhal nggak ngerokok, tapi salut banget pas keliling museum beberapa tahun lalu lihat penataan yang comfortable banget bagi mata dan tur gratis keliling kotanya πŸ™‚

    Like

  6. Mbak Messa blm ke timur tengahnya Surabaya : Ampel, jembatan merah, hotel majapahit (Hotel Oranje), kulineran d sby, nyobain food festival di Pakuwon, Ke Patung buda 4 muka yg terbuat dari emas, nyobain jalan2 di pedestrian tengah kota Sby yg rapi banget ennn kebon binatang surabaya yg fenomenal (karena hewannya bnyk yg mati..hehehe)… Perlu balik Surabaya lagi mbak.heheheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s