Bapak

Pagi saat sarapan, entah kenapa wajah bapak tiba-tiba melintas di benak saya. Sosoknya yang sedang berdiri di jembatan ketika saya abadikan dalam moda hitam putih beberapa tahun yang lalu, itu pula gambaran yang muncul. Ada apa? Pikir saya.

Teringat tentang perasaannya ketika saya datang ke dunia ini. ‘Putri Danau’, begitu bapak menyebut anak sulungnya ini dalam salah satu puisinya. ‘Mahkotaku’, katanya lagi menyebut adik saya di dalam puisinya yang lain.

Darimana saya tahu tentang puisi-puisinya itu? Jangan bilang siapa-siapa, ya, saya mengambil buku puisinya dari tumpukan buku-buku beliau yang sudah berabu di salah satu sudut rumah. “Pastilah bapak tak ingat lagi pada buku-buku ini,” yakin saya dalam hati. Saya bawa ke Balikpapan supaya ada kenang-kenangan yang bisa dibaca, kalau-kalau rindu melanda. 😀

Dan pastilah kehadiran saya dan adik-adik ke dunia ini adalah satu hal yang spesial dalam fase hidupnya. Sebab jika tidak, tak mungkin beliau menulis puisi indah tentang kami.

Kemudian saya baca jurnal Jo yang pernah membahas tentang kelahiran Gwinette, putri sulungnya. Dan saya teringat pula dengan jurnal kak Sondang yang pernah membahas mengenai: apakah kita mengenal orangtua secara pribadi, bukan sebagai orang tua dengan label mama atau papa?

Mereka dulunya pastilah punya mimpi, punya cita-cita. Mereka bukan pahlawan super. Hanya manusia biasa dengan segala keterbatasan dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya. Saya yakin, mereka hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kami. Mereka hanya ingin agar kami menjadi anak-anak yang indah. Seperti puisi-puisinya itu.

Malamnya saya lihat kembali foto beliau. Mata saya terasa panas. Teringat akan perjuangan bapak membesarkan kami. Dari yang tadinya hanya sepanjang lima puluh sentimeter, hingga bertinggi seratus delapan puluhan lebih. Dari yang beratnya hanya tiga kilo, hingga enam puluhan lebih. Dari yang tadinya bisa digendong keseluruhan dalam lengannya, hingga tak bisa lagi digapai. Dari yang tadinya hanya bisa menggumam tak jelas, hingga akhirnya menjadi tukang melawan.

bapak dan anak2

*****

Hanya karena kini bapak sudah tua, bukan berarti kita harus melupakan mereka, kan?

*****

*be right back, mau nelepon bapak dulu*

 

 

Advertisements