Berdamai

Ada berbagai macam cara dipakai orang untuk berdamai dan menyelesaikan masa lalu yang tak mengenakkan dan tak jarang menimbulkan luka batin sehingga tidak berani melangkah maju.

Ada teman memilih untuk mengorek kembali ingatan di masa-masa itu serta menuliskannya di jurnal mereka. Teman yang lain memilih untuk terjun langsung bertemu muka dengan muka dengan yang dianggap sebagai biang kerok luka, seperti yang saya lakukan ketika jatuh di awal tahun ini. Bukan jatuh cinta, tapi jatuh dari sepeda.

sepeda.jpg

Beberapa kali saya naik sepeda menuruni jalanan yang curam, semuanya aman-aman saja, hingga di hari yang naas itu. Padahal jalan yang saya lewati hari itu tidak begitu curam. Tapi justru di jalan itulah saya jatuh. Kita memang sering jatuh di tempat-tempat yang kita anggap remeh/sepele. Bukan batu besar yang membuat manusia terjungkal, tapi batu kerikil.

Kejatuhan itu membuat sebagian anggota tubuh saya luka dan saya agak kesal hingga belum mau kembali ke tempat di mana saya jatuh itu. Namun beberapa minggu kemudian saya putuskan untuk kembali ke sana dan berdamai dengannya.

Di sana saya mengheningkan cipta. Ingatan saya berkelana ke hari saat saya jatuh. Karena satu gerakan yang salah, saya terjungkal ke depan dan sepeda saya jatuh ke samping kanan. Jatuhnya tanpa peringatan pula. Itu yang membuat saya tambah kesal. Kalau ada aba-aba, kan, kita bisa siap-siap dulu, supaya sakitnya tidak begitu parah sehabis jatuh. šŸ˜€ *Kalo elu maunya gitu, lain kali panggil Doraemon aja Mes, supaya tahu kapan akan jatuh. Uhuk.* šŸ˜€

Selepas mengheningkan cipta, saya akhirnya sadar bahwa jalannya nggak salah. Jalannya nggak ada masalah. Jalannya aman-aman saja. Saya saja yang kurang hati-hati serta masih kurang pengalaman. Sepulangnya dari sana, lega sudah batin ini. Memang sih, sampai sekarang saya belum kembali ke jalanan lagi. Soale belum rela kalo ntar jatuh lagi. Sakit bok. Sakitnya itu di sini (nunjuk tangan sama kaki), dan sakit banget. šŸ˜€ Tapi tidak menutup kemungkinan jika suatu hari nanti saya kembali bersepeda. Karena bersepeda itu menyenangkan serta memacu adrenalin. šŸ˜€

jalan sepeda

Dan jika waktunya tiba nanti, kali itu saya harus memakai alat pelindung lutut dan siku. Buat jaga-jaga siapa tahu jatuh lagi. šŸ˜€ Kalau alat pelindung kepala wajib hukumnya dipakai. Ibarat mau berlaga ke medan perang, jika persiapan tak matang dan baju zirah kurang memadai, maka matilah kita di ujung tombak musuh.

*****

Dalam kasus jatuh dari sepeda ini, saya berdamai melalui tulisan dan mengunjungi si dia yang saya anggap biang kerok. Bagaimana dengan Anda, kawan? Adakah peristiwa yang masih membebani sampai sekarang? Anda bisa menulis memoar atas apa sebenarnya yang terjadi. Setelah ditulis, Anda pasti lega. Lalu tutup dan selesai sudah. Sekarang waktunya Anda melangkah ke depan.

Selamat berdamai dan selamat bersepeda!

Advertisements