Warisan

Dalam hidup, kadang Anda takkan pernah tahu seperti apa persisnya orang yang akan Anda temui hari ini. Mungkin pertemuannya hanya berlangsung beberapa detik, namun efeknya bisa jadi seumur hidup akan Anda kenang.

Tahun lalu kami pergi ke Handil yang berada di kabupaten Kutai Kertanegara, untuk perayaan persiapan pembukaan tempat ibadah baru. Balikpapan-Handil dapat ditempuh melalui darat sekitar dua jam jika jalanan lancar jaya.

Yang menarik dalam perayaan itu, camatnya mau datang dan ikut bersama-sama kami merayakannya. Kata sambutannya yang bermutu serta terdengar tulus, mengundang tepuk tangan yang meriah dari pengunjung. Termasuk saya.

Beliau seorang Muslim. Tapi tangannya terbuka menerima kami yang notabene minoritas dan non Muslim di daerah kekuasaannya. Dengan menerima kedatangan kami di sana, berarti beliau menghargai keberagaman, menghargai perbedaan. Itulah sikap yang paling saya hargai dari beliau. Sikap terpuji dari seorang kepala daerah, seorang pemimpin. Itulah warisannya.

Namun sayang, belum sempat beliau melihat tempat ibadah seutuhnya selesai dibangun, beliau meninggal tak lama setelah perayaan itu. Kena serangan jantung kabarnya.

Walaupun secara langsung saya tak pernah bertukar sapa dengan beliau, namun kamera iphone saya sempat mengabadikan sosoknya yang hari itu tersenyum ceria sambil manortor(*), lengkap dengan ulos yang disampirkan di bahunya.

bapak camat

******

Selanjutnya adalah pertemuan dengan keluarga saya yang meninggal setahun lalu. Beliau dikenal tak pernah menyimpan dendam atau benci lama-lama. Orangnya mudah melupakan kesalahan orang lain dan memaafkan.

Nasehatnya yang paling mengena adalah, “Saya tak pernah melawan kepada suamiku. Kalau ada yang kurang enak di hati, baik-baik dibicarakan,” tuturnya lembut ketika kami bertemu beberapa bulan sebelum beliau meninggal. Saya yang jogal(**) ini pun langsung menggelepar-gelepar mendengar pengakuannya itu. Entah sudah berapa kali saya melawan kepada suami, a.k.a partner saya seumur hidup. Tak terhitung. Tapi sekarang sudah berkurang sejak beliau menasehati saya. Itulah warisan beliau.

******

Berikutnya pertemuan dengan seorang pria tua ketika saya mengantri di kasir swalayan. Beliau mempersilakan saya agar maju duluan karena barang belanjaan saya cuma satu, air mineral. Sedangkan dia ada beberapa. Sudah jarang ditemukan orang seperti beliau ini. Rata-rata orang sekarang ingin dilayani terlebih dahulu. Mendahulukan orang lain adalah warisannya.

Terakhir, ibu kos dan bapak kos suami saya di zaman kuliah. Saking baiknya beliau-beliau ini, suami saya tetap mengingat duo yang begitu berbeda satu sama lain ini, meski telah menikah dengan saya. Bapak kos kalem, ibu kos tukang ngomong. Biasanya emang gitu, sih, ya. Saling melengkapi. Kalo dua-duanya pendiam, ntar rumahnya kayak kuburan.

Ketika kami bertemu tahun lalu, jejak kebaikan, keramahan serta cara berpikirnya yang jernih, masih terlihat jelas meski usia sudah uzur. Itulah warisan mereka. Dan setelah saya perhatikan, mereka-mereka ini punya satu persamaan, yaitu sama-sama tidak berpakaian glamor. Mungkin malaikat memang tak perlu pakaian glamor, kan?

******

Hidup ini singkat. Semaraknya hanya sekejap. Tak ada yang tahu kapan waktunya Anda akan ‘game over‘. Bisa sekarang, besok, atau lusa. Hari ini Anda bersenang-senang menari bergembira, tahu-tahu lusa sudah berada di liang lahat. Jika Anda ‘game over‘ sekarang, apa warisanmu?

 

(*)manortor: bahasa Batak, artinya menari.
(**)jogal: bahasa Batak, artinya keras kepala.

 

 

Advertisements