Pathetic

Kita tinggal di dunia yang semakin hari bukannya semakin baik, tetapi semakin pathetic: menyedihkan. Saya bisa saja terus berpura-pura berharap bahwa dunia ini akan semakin baik. Tapi nyatanya tidak. Perang tak berkesudahan. Teroris yang muncul bak cendawan di musim hujan. Berbuat baik dikatakan tolol atau dicurigai, berbuat jahat justru diacungi jempol dianggap pahlawan.

Peringatan: tulisan di bawah ini merupakan peringatan. Mungkin Anda tidak menyukai apa yang akan Anda baca. Mungkin akan semakin banyak kawan yang menjauhi saya setelah membaca tulisan di bawah ini. Tapi tak mengapa. Hidup Anda, pilihan Anda. Saya hanya memperingatkan kawan semua.

 

Manusia semakin jahat. Jahat disini bukan hanya karena melakukan praktik penindasan, penzoliman, penyiksaan, pembunuhan, perampokan, korupsi, dll. Tapi juga yang melakukan praktik-praktik pemujaan kepada siapapun atau apapun selain Tuhan. Paling jelas bisa kita lihat saat ini: uang-lah, tuhan-nya zaman sekarang. Memang benarlah firman Tuhan yang berkata: “Cinta akan uang adalah akar kejahatan.”

Melakukan hubungan seksual sesama jenis (kaum laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan) juga termasuk kejahatan dan kekejian di mata Tuhan. Pathetic sudah menjadi gaya hidup. Kadang capek juga hidup tanpa kompromi dengan ke-pathetic-an itu. Sebab lingkungan kita sendiri pun sudah pathetic, sudah tidak sehat lagi sebenarnya untuk ditinggali.

Ibarat ikan yang tinggal dalam sungai kecil yang airnya semakin hari makin jorok, keruh dan bau. Lama kelamaan, ikan yang tidak kuat dengan situasi itu akan mati, atau tetap hidup tapi berubah menjadi ikan yang membawa kejorokan sesuai ciri khas sungai itu, saking beratnya untuk tidak masuk ke dalam arus pathetic. Atau pilihan lain, si ikan pergi berenang menjauh sekuat tenaga agar dapat pindah ke sungai yang lebih jernih, lebih sehat dan mungkin lebih besar, agar ia lebih leluasa berenang-renang.

Pertanyaannya, jika air di sungai yang kecil saja sudah keruh dan jorok, apa ada jaminan pada air sungai yang lebih besar di suatu tempat di luar sana, keadaannya akan lebih baik?

pathetic

Atau jika saya beri contoh lagi, manusia yang belum terseret arus pathetic itu ibarat manusia seperti dalam film World War Z yang terus menerus diburu zombie. Yang sakit atau yang sudah mau mati tidak akan ditularkan si zombie. Yang masih sehat lah yang dikejar si zombie, supaya menjadi sama seperti mereka. Mayat, tapi hidup.

Terus saya mesti lari gitu ke luar angkasa seperti si Ryan di Gravity yang lari dari kenyataan hidup di dunia, tapi justru menghadapi tantangan yang lebih mengerikan lagi di luar angkasa?

Tapi sesuai dengan yang saya imani, saya mesti melalui ini semua. Mesti memikul salib, mesti menghadapi semua ke-pathetic-an yang berseliweran di depan mata saya. Televisi cenderung menyajikan acara-acara yang mempertontonkan kemerosotan moral serta etika. Lihatlah klip video zaman sekarang. Yang dipertontonkan hanya tunggingan-tunggingan cabul. Lalu ada yang beribadah hanya sebagai formalitas, ada yang menggunakan agama sebagai pembenaran untuk membumihanguskan umat agama lain. Padahal bukan agama yang menyelamatkan seseorang, melainkan iman.

Ada yang senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. Ada yang bertindak ‘kalau bisa dipersulit mengapa mesti dipermudah?’, ada yang dimusuhi, diadukan dan dihukum karena melakukan hal yang benar. Ada yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, popularitas dan kekuasaan.

Ada yang diminta menurunkan standar kebenaran, ada yang didemo bukan gara-gara kinerjanya buruk tapi karena iman. Ada yang tak mau memberi jalan kepada kendaraan lain ketika memutar, ada yang tidak pakai helm di jalan raya, ada yang sambil mengendarai kendaraan sambil berhenpon ria, ada yang merampok dan membunuh demi secuil uang, ada yang menjadikan selingkuh sebagai bumbu pernikahan, ada yang pantang ditegur. Siapa menegur, golok melayang.

Separah itulah keadaan kita sekarang, manusia-manusia akhir zaman. Kalau saya tulis semua ke-pathetic-an itu di sini, terlampau panjang nanti. Tujuh hari tujuh malam nggak bakalan selesai tulisan ini.

Tapi keadaan ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di dunia. Dan akibat yang ditanggung karena kejahatan-kejahatan ini, sungguh amat mahal.

Namun biarlah orang jahat terus berbuat jahat; orang najis, biarlah terus menajiskan dirinya; orang yang menuruti kemauan Allah, biarlah terus menuruti kemauan Allah; dan orang yang hidup khusus untuk Allah, biarlah hidup khusus untuk Allah.

Semoga Anda semua bisa bertahan hidup dan tidak terseret dalam arus pathetic.

Advertisements