Kan, Gara-gara Saya…

Teman saya marah-marah kepada A. Pasalnya A tidak mau berperilaku persis seperti yang diinginkan teman saya.

“Kan, gara-gara saya tuh, makanya si A bisa jadi penata rias nomor wahid di Balikpapan. Kalau bukan gara-gara saya, tak mungkin dia bisa jadi penata rias top seperti sekarang!” kata teman saya dengan wajah berapi-api sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke dadanya ketika mengucapkan ‘kan, gara-gara saya’ dan ‘kalau bukan gara-gara saya’.

“Eh, giliran saya minta menyanggul rambutku untuk pesta kemarin, dia menolak. Nggak ada waktu katanya. Sebel! Mentang-mentang udah top!” sambungnya lagi.

Menurut teman saya, jika seseorang sudah dibantu, maka orang yang dibantu harus selalu bersikap semau teman saya itu. Ia ingin agar sikap A yang sudah dibantunya, sesuai terus dengan keinginan dia. Ya, nggak mungkin, dong. Bentuk wajah saja sudah beda, mana mungkin perilaku bisa persis sama. Mana mungkin seseorang terus menerus harus bersikap ‘Yes, Madame; Yes, Sir” kepada permintaan orang lain.

Dan dari pengamatan saya selama ini, kalimat sakti “Kan, gara-gara saya, makanya dia bisa lulus sekolah, makanya dia bisa jadi direktur di perusahaan Angin Ribut, makanya dia bisa jadi pengusaha sukses, makanya bisa jadi jenderal, makanya bisa jadi profesor, makanya bisa jadi ‘orang’ (mungkin dulunya monyet), dlst,” ini muncul ketika terjadi konflik, antara si pemberi bantuan dan yang menerima bantuan, di masa depan.

*****

Membantu atau memberi bantuan kepada orang lain, tidak perlu diungkit-ungkit di masa depan. Kalau mau bantu, ya bantu saja. Jika yang Anda bantu tidak ingat dengan kebaikan atau bantuan anda, itu bukan urusan Anda. Urusan Anda hanya memberi dari yang sudah diberikan oleh Yang Empunya Hidup kepada Anda. Memangnya dari semua harta yang Anda miliki sekarang, apa ada yang merupakan hasil kerja keras tangan Anda sendiri? Tidak, kan? Semua pemberian Tuhan. Oleh karena itu, pemberian jangan diungkit-ungkit. Jika diungkit, tandanya Anda tak ikhlas.

Saat memberi, berikanlah dengan hati yang rela, bukan karena segan atau terpaksa. Juga sebaiknya Anda diam-diam sajalah, tak perlu digembar-gemborkan, apalagi hingga memanggil wartawan untuk memberitakan bantuan-bantuan pribadi yang Anda berikan. Tapi kalau mengajak khalayak ramai untuk memberi, sih, menurut saya tak mengapa.

Dan kalau ada yang minta bantuan pada Anda, tapi Anda tak mau membantu, nggak usah banyak cincong (banyak omong). Tutup saja mulut Anda. Jangan malah menjelek-jelekkan. Dosa Anda berlipat-lipat. Seperti yang pernah dilakukan teman saya ketika ia dimintai bantuan dana untuk pembangunan rumah ibadah. Sudahlah tidak memberi bantuan, malah menjelek-jelekkan institusi keagamaan yang meminta itu pula. Kalau tak mau ngasih, cukup katakan tidak. Tak ada yang memaksa Anda untuk memberi. Kalau pun Anda dipaksa, kekeh sumekeh saja katakan tidak. Anda berhak untuk memberi ataupun tak memberi. Tapi ingatlah ini:

The more we give, the more our cups are filled back.
We get more by giving more.

 

 

memberi

 

Selamat memberi, selamat membantu, selamat menolong!

 

Sedikit tips dari saya mengenai beri-memberi ini: sebelum Anda memutuskan apakah akan memberi/membantu/menolong atau tidak, renungkanlah sejenak bagaimana sikap Anda di masa depan jika seandainya terjadi konflik dengan mereka yang akan Anda bantu itu. Jika jawabnya ‘Saya akan mengungkit bantuan itu’, maka tak perlu bantu. Namun jika sebaliknya, maka bergegaslah bantu mereka.

Advertisements

33 thoughts on “Kan, Gara-gara Saya…

  1. Setuju sekali. Sayang ya kalau jadi berpamrih gitu dan ungkit-ungkit. Padahal lebih buat lapang hati kita bisa membantu orang sukses. Balasan kita menanam budi ke orang pasti ada suatu hari karena aku percaya karma Messa.

    Like

  2. Kalau nolong harusnya tanpa pamrih sih πŸ™‚ . Kalau sering nolong, biasanya klo kita butuh ada aja yg nolongin kita, pertolongan tsb malah dari orang yg belum pernah kita tolong πŸ˜€ .

    Like

  3. a very good point Mes, susah siiih emang, namapun manusia ya. tapi kalo mau bantu ya bantu aja. Pengalaman mengajarkan capek kalo ngarepin orang untuk sesuai sama mau kita. Hahaha. jadi yasudahlah ya.. πŸ˜€
    Kalo emang males kejadian kayak gitu di depan ya sudah ga usah bantu. Tapi kan semakin kita ga mau bantu semakin sedikit yang bakal bantu kita balik. *bingung ya? yagitudeh. hihihihi

    Like

  4. seringnya kayak gitu ya Mes. Dulu pernah temen kerja aku komentar yang sama juga gara2 temennya masuk ke kantor kita karena info dari dia dan berakhir karirnya lebih cemerlang daripada dia hehehe

    Like

  5. renungan yg bagus nih kak Messa πŸ™‚
    ga boleh sombong dan merasa diri paling hebat gitu ah, iri2an juga ga bener.. kesannya dia menolong org hanya utk pamril dan disombongin yah hehe

    Like

  6. Banyak banget yang model begitu. Betul tuh kata Messa, karena menurut aku juga kalau menolong dengan harapan suatu waktu juga harus ditolong mendingan gak usah nolong sekalian karena kan berarti gak ikhlas.

    Like

  7. Ketawa pas dibagian perusahaan Angin Ribut, jaman SMA klo bikin soal akuntansi sama pak guru sering dipake PT itu.. hihii πŸ˜€

    Iya betul Mes, skrg suka keki sndiri kalo dibantu org.. Takut belakangnya ada omongan lain..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s