Tiga Balata: Maktub

Malam itu, mobil yang membawa saya sekeluarga yang hendak mudik ke Samosir, tiba-tiba berasap. Terpaksa bapak menepikan mobil di daerah sepi, yang sejauh mata memandang hanya terlihat pohon sawit, pohon sawit, dan pohon sawit. Padahal sebelum berangkat tadi, bapak telah mengecek kondisi mobil. Mungkin seperti itulah nasib mobil tua.

Usai diperiksa, ternyata radiatornya ngambek. Kalau saya tak salah dengar, kata bapak harus disiram air atau ditambah air agar mobil dapat melaju kembali. Masalahnya, persediaan air minum yang kami bawa di mobil, habis. Lantas darimana mendapatkan air pada tengah malam, di daerah yang sama sekali asing bagi kami?

Dalam pekatnya malam, tiba-tiba seorang pria bertopi dan bersepeda janda (sepeda tua) mendekati kami. Semakin jelas sosoknya dilihat mata, ternyata ia juga membawa parang/golok. Membuat beberapa dari kami berpikir yang bukan-bukan. Yah, seperti manusia pada umumnya, hanya melihat apa yang ingin dilihatnya, bukan melihat siapa sebenarnya pria dibalik parang dan bertopi itu.

Setelah menjelaskan masalah kami kepada pria itu, ternyata dia bersedia dimintai tolong untuk mengambil air ke sumber air di dekat situ. Masalah kami selesai, perjalanan pun berlanjut.

Dua puluhan tahun kemudian, siapa sangka kalau ternyata saya akan berjodoh dengan pria yang berasal dari tempat, di mana mobil kami menepi malam itu, Tiga Balata.

Maktub(*). Mungkin itulah alasannya.

 

(*) sudah tertulis
Advertisements

24 thoughts on “Tiga Balata: Maktub

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s