“And They Live Happily Ever After”

Biasanya seperti itu bunyi kalimat penutup dalam beberapa dongeng klasik terkenal yang pernah saya baca ataupun saya tonton.

Setelah pangeran tampan berhasil menyelamatkan putri cantik dari si Naga jahat, mereka pun menikah. Tapi tentu saja, mereka tak pernah memberitahu kita bagaimana caranya mencapai kehidupan pernikahan yang happily never after.

just married

PALB

Ketika hendak menikah dulu pun, saya pernah bertanya ke orangtua, apa resep Pernikahan Awet bin Langgeng bin Bahagia (PALB). Jawab mereka, “Nanti kau belajar sendiri di dalam.”

Gubrak. Sepenuhnya bukan jawaban yang saya harapkan dari pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun. Padahal saya #SeriusNanya, karena saya ingin pernikahan saya sukses. Bukan sebaliknya. Maraknya kasus perceraian dalam dekade ini, sempat membuat pernikahan menjadi momok bagi saya.

Namun setelah menjalani pernikahan dan pengamatan selama ini, barulah saya mengerti mengapa orangtua saya memberi jawaban seperti itu. Bahwasanya formula PALB yang pas untuk tiap rumah tangga itu beda. Tidak ada yang persis sama.

Jika PALB dianalogikan dengan masak arsik ikan ala Batak seberat 1 kg dengan takaran bumbu seperti yang pernah saya tulis di sini, plus garam 2 sdt, rasanya sudah pas di lidah saya. Sedang untuk Anda, bisa jadi takaran tiap bumbu dikali dua, garam sebanyak 3 sdt, plus kecombrang, barulah rasanya cocok di lidah.

Bumbu dasarnya bisa jadi sama, garam yang digunakan pun sama. Hanya takarannya yang berbeda. Makanya orangtua saya bilang, “Nanti kau belajar di dalam.” Bener banget. Masak arsik pun baru saya pelajari setelah menikah! πŸ˜€

Seiring zaman berganti, cara manusia menghabiskan waktu dengan pasangannya pun berbeda. Sepanjang pengamatan saya selama tinggal dengan orangtua, mereka punya kebiasaan ngobrol di teras rumah hampir tiap malam selama kurang lebih satu jam.

Padahal kalau malam di Medan banyak nyamuk. Tapi mereka sepertinya tak peduli. Tetap saja mereka melakukan ritual itu. Di sela-sela obrolan, sesekali terdengar bunyi kibasan kain yang dibawa ibu saya untuk mengusir nyamuk yang nimbrung. Mungkin bagi mereka, apalah artinya nyamuk berdengung di telinga dibanding dengan memiliki waktu berkualitas dengan pasangan, sehingga PALB dapat tercapai.

Zaman sekarang? Gadget telah begitu rupa menginvasi kehidupan kita. Cobalah jawab dengan jujur, berapa lama Anda berkutat dengan gadget dalam sehari? Kapan terakhir kali Anda ngobrol, maksud saya benar-benar mengobrol dengan pasangan, tanpa ada gadget di antara Anda?

Online melulu

Kita sibuk dengan diri sendiri. Sibuk dengan gadget masing-masing. Maka menurut saya tidaklah berlebihan jika ada yang berpendapat bahwa sekarang ini, gadget yang konon bisa menjadi salah satu sumber keretakan pernikahan itulah yang sebenarnya kita nikahi. Bukan manusia.

Belakangan, saya lumayan senang juga ketika si iphone hilang beberapa bulan lalu. Begitu banyak waktu saya habiskan bersamanya. Dari mulai mata membuka hingga mata menutup. Suami pun saya anggurin. Tapi nampaknya, menghabiskan waktu dengan pasangan di zaman sekarang mustahil bisa dipisahkan dari gadget.

happily ever after1

Sebelum & Sesudah

Sudah bukan rahasia lagi ketika sepasang anak manusia jatuh cinta, mata mereka ‘buta’. Tahi kambing rasa coklat. Semua kelakuan pasangan tidak ada yang minus di matanya. Seperti yang ditegaskan dalam lirik lagu When A Man Loves A Woman,

“…if she is bad, he can’t see it..

she can do no wrong..

if she is playing him for a fool,

he’s the last one to know..

loving eyes can never see…”

 

Setelah menikah, barulah mata mereka terbuka terhadap segala kekurangan dalam diri pasangan. Kurang ganteng, kurang pintar, kurang cantik, kurang perhatian, dlst.

Akibat terlalu sibuk memikirkan segala kekurangan di sana sini, muncullah “kesadaran” baru, bahwa ternyata Anda begitu berbeda satu sama lain. Padahal, bukankah perbedaan itu yang awalnya membuat Anda tertarik kepada pasangan?

Semakin lama Anda semakin manyun melihat segala perbedaan yang sama sekali tak bisa Anda ubah itu. Dan Anda pun semakin menjauh dari pasangan.

Ujung-ujungnya, Anda yang dulunya dimabuk cinta, tiba-tiba menjadi sangat membenci pasangan. Pernikahan amblas, gugatan cerai pun dilayangkan ke pengadilan negeri ataupun pengadilan agama. Jika kata cerai sudah terucap, biasanya sulit untuk ditarik kembali. Kecuali ada mukjizat.

Anda pun akhirnya menyesal menikah. Tapi tolong, ketika Anda menyesal telah menikah, jangan katakan bahwa Anda adalah korban dari keinginan orangtua Anda karena mereka yang menyuruh Anda. Anda hanya mencari kambing hitam.

Anda punya pilihan untuk tidak menikah. Anda bukan korban. Hidup Anda, keputusan Anda. Anda menikah karena Anda ingin menikah. Titik. Bukan karena disuruh orangtua Anda atau karena Anda kasihan kepada orang lain.

Meski begitu, di beberapa tempat di bumi ini, hal seperti ini tidak berlaku.

Belajar

Di masa awal pernikahan, saya tak tahu apapun tentang laki-laki yang menjadi kekasih hati ini. Memang, sih, di rumah ada laki-laki. Yakni bapak dan adik cowok yang telah hidup bersama saya selama bertahun-tahun. Tapi mereka berbeda dengan suami saya.

Sebutlah misalnya kalau lagi berantem dengan adik-adik. Sakitnya tidak sampai kemana-mana dan segera baikan. Nah, kalau berantem dengan suami? Alamak! Sudahlah sakitnya kemana-mana, baikannya pun lama. Sekarang baru saya sadari, ternyata karena dia belahan jiwa itu, makanya sakitnya sudah macam mau kiamat saja dunia ini saya rasa.

Dari pertengkaran-pertengkaran itu saya pun belajar. Mana yang berkenan dan mana yang tidak berkenan di hati suami. Saya pun tak mau terus menerus bertengkar karena hal yang sama, hanya karena saya tidak mengerti tentang laki-laki.

Pernikahan adalah kerjasama. Kerjasama ini akan berjalan efektif hanya apabila saya mengetahui seperti apa lelaki saya luar dalam. Bagaimana lelaki berpikir, cara lelaki berkomunikasi, seperti apa kepribadiannya, dlst.

Karena itulah akhirnya saya mencari tahu tentang makhluk yang konon bersembunyi di rumah siputnya atau di dalam guanya ini jika sedang dirundung masalah. Ada begitu banyak buku bagus di luar sana yang membahas hal-hal tersebut.

Meskipun ada pendapat, “Lima tahun pertama pernikahan adalah masa tersulit, karena di masa-masa itu Anda berdua masih dalam masa penyesuaian,” namun ada juga yang berpendapat, “Pernikahan adalah penyesuaian seumur hidup.” Saya setuju dengan pendapat ke dua. Mengapa? Karena dunia ini berubah, otomatis manusia, saya dan suami, pun berubah. Itu sebabnya sampai sekarang pun saya masih terus belajar. Pernikahan adalah pembelajaran seumur hidup.

happily ever after2

Tips

Meskipun di awal sudah saya sebutkan bahwa formula mencapai PALB ini berbeda-beda dalam tiap rumah tangga, mudah-mudahan tips di bawah ini, yang saya peroleh dari hasil pengamatan, nasehat para senior dan pengalaman pribadi, bisa membantu Anda mencapai PALB yang diinginkan. Mungkin bisa disisipkan di dalam resep yang telah Anda gunakan selama ini. πŸ™‚
  1. Istri selalu benar. XD
  2. Lihat nomor satu. XD
  3. Happy wife, happy marriage. XD
  4. Keep the fight clean and the sex dirty.
  5. Saat bertengkar atau kurang enakan, tetap respek/hormat. Bukan takut. Takut dan hormat beda. Perlakukan pasangan sebagaimana Anda ingin diperlakukan.
  6. Jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Jika Anda terlalu banyak memikirkan diri sendiri, Anda akan menyesal menikah dan mati kebosanan dalam pernikahan.
  7. Memiliki waktu bersama yang berkualitas. Jika hanya punya waktu 5 menit, jadikanlah yang 5 menit itu berkualitas.
  8. Jangan terlalu serius tapi juga jangan terlalu santai.
  9. Hidup bersama seseorang yang sangat berbeda dengan Anda itu diperlukan kesabaran tanpa batas. Apalagi saat menghadapi sikap pasangan yang kadang ajaib. Belajar menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Sebab pasti ada celanya dan kita pasti kecewa.
  10. Saling mengawasi.
  11. Ingatlah bahwa tujuan menikah bukan untuk mengubah perilaku pasangan ke arah yang kita inginkan. Mengubah perilaku adalah tugas Tuhan. Tugas kita para suami/istri adalah saling mengasihi terus menerus.
  12. Mau berkomunikasi dengan terbuka, mendengarkan pasangan kita, tidak menambah lebar pertengkaran dan menghindari situasi yang bisa memicu ke arah perpisahan.
  13. Pahami dan hargailah pasangan Anda yang sama sekali berbeda dengan Anda itu. Sebab, seperti kata Gede Manggala dalam bukunya The Coconut Principles, “Tanpa pemahaman dan apresiasi terhadap kelebihan dan kelemahan kepribadiannya masing-masing, dua orang dengan kepribadian berbeda bisa seperti air dan minyak. Tidak nyambung.”
  14. Sering-seringlah tertawa. πŸ˜€
happily ever after3
*********
Β 
Semoga tulisannya bermanfaat dan semoga Anda semua memperoleh Pernikahan Awet bin Langgeng bin Bahagia sepanjang masa.
Advertisements

33 thoughts on ““And They Live Happily Ever After”

  1. Setuju sama yang kedua juga. Menjalani hidup pernikahan memang merupakan proses pembelajaran yang gak pernah berhenti demi menuju kebahagiaan bersama, dan proses pembelajaran itu baru efektif kalau komunikasi yang terbuka bisa berjalan di antara suami dan istri

    Like

  2. nomor 1-4 yg paling mudah dijalankan tipsnya (untuk kaum wanita) huahaha
    yg seterusnya harus selalu diusahakan setiap saat yah, terkadang susah mengontrol emosi soalnya.. moga kak Messa happily ever after dengan husband πŸ™‚

    Like

  3. Thank you so much, Eda buat tulisannya.. Perlu banget nih buka mata selama pacaran..haha πŸ˜€ Kan katanya kalo dah nikah tutup mata aja πŸ˜€ Akan ku ingat2 tips mu.. Oh yah, terima kasih juga resepnya.. Ijin simpen yah..hiihi.

    Like

  4. Hell yeah,hail the feminist!!!
    my mom’s judgement is always true, tp emang bener sih, kebanyakan mamaku suka bilang “i told you so!”
    tp kayaknya smua pernikahan ttg compassion n mutual respect, kalo pondasinya seks atau segala sesuatu yg sifatnya fisik ya gampang runtuhnya klo ada yg kurang, jadi harus punya dasar Kristus sblm membangun keluarga (hasil pa nih), jd walau badai menghadang gak bakalan runtuh
    pernah denger mama nasehatin kakak2ku, katanya kalo mau punya suami kayak kerbau yg dicucuk hidung, senangkan hati si ibu mertua, br bs menangin hati suami…

    Like

    1. wahh, aku bukan feminis, ito πŸ˜€ dan aku enggak mau suamiku jadi kerbau yang dicucuk hidungnya, ito. soale doi bukan kerbau, tapi manusia yang memiliki akal budi πŸ˜€ yg penting saling menghargai lah πŸ™‚ but thanks for the comment πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s