Takut

 

Bapak saya pernah memergoki seorang tetangga yang mencuri barang dari gudang yang berada di sebelah rumah kami. Gudang tersebut berisi barang rongsokan dan alat-alat berat yang sudah aus, milik salah satu perusahaan pemerintah. Meski rongsokan, jika dijual akan menghasilkan uang.

Saya takut ketika bapak memutuskan keluar rumah dan memergoki tetangga saya yang pengangguran itu. Saya mencoba mencegah beliau bertindak lebih jauh. Saya takut, kalau-kalau orang yang dipergoki ini menjadi benci kepada bapak dan menyerangnya suatu hari nanti. Intinya, saya takut kehilangan bapak. Tapi bapak meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja.

Ketakutan saya bukannya tak berdasar. Saat itu di Medan, marak pembunuhan atas nama balas dendam atau tak senang (baca: benci) dengan seseorang yang mengatakan kebenaran. Tengah malam itu, bapak bukan hanya memergoki, tapi beliau juga mengungkapkan kebenaran kepada tetangga saya itu. Yakni dengan menegur keras bahwa mencuri adalah salah, serta menyuruhnya mengembalikan barang curiannya dan menasehatinya agar mencari pekerjaan yang halal.

Yang terjadi kemudian adalah, tetangga saya itu akhirnya memperoleh pekerjaan yang baik. Dan beberapa tahun setelahnya, ia pun menikah dengan gadis idaman hatinya serta memiliki anak. Pendek cerita, hepi ending lah. Apa yang saya takutkan tidak terjadi. Bapak saya benar.

Kemarin saya iseng ngecek ada berapa banyak artikel yang mengandung kata “takut” di blog culun punya ini. πŸ˜€ Dari 208 artikel yang telah terbit, ada sebanyak 26 atau 12,5% yang di dalamnya mengandung kata “takut”. Saya sedikit lega, karena jumlahnya masih di bawah 50 persen. Itu artinya, saya tidak penakut-penakut amat, kan? πŸ˜€ Tapi saya belum menghitung ada berapa banyak artikel yang mengandung kata turunan atau “sahabat-sahabat” dari si takut ini. πŸ˜€ Β Misalnya kata: kuatir. Jadi nampaknya, saya belum bisa berlega-lega banget. πŸ˜€

Masih berhubungan dengan takut, pernah pula saya membaca kalimat keren yang berkata:

“If you want to know what someone fears losing, watch what they photograph.”

 

Menguji kalimat tersebut, saya langsung, dong, mengecek koleksi foto-foto saya. Hasilnya? Kebanyakan adalah jepretan tentang manusia dan alam. Jika mengacu kepada kalimat keren di atas, maka yang saya takutkan adalah: kehilangan manusia beserta alam. Hmmm… Agak kaget juga saya mengetahuinya, tapi mungkin memang seperti itulah kebenarannya. Bahwa mungkin jauh di lubuk hati saya yang terdalam, saya takut kehilangan alam yang elok, beserta manusia yang berada di dalamnya ini.

Lalu saya perhatikan foto jepretan atau yang diunggah teman-teman di akun media sosial mereka. Yang hobi selfie, isinya wajahnya semua. Nggak pandang tempat dan waktu. Entah di toilet, tempat tidur, lagi sarapan, makan siang, makan pisang, di dalam angkot, dlst.

Kadang saya heran, it’s your very same face, dude, kenapa dijepret terus-terusan? Tapi akhirnya setelah membaca kalimat keren di atas, saya paham. Bahwa mungkin teman-teman saya ini takut kehilangan wajah mereka. Lagipula, meski wajahnya itu-itu saja, “Tapi, kan, beda outfit dan beda gaya, Mes,” celetuk teman saya. Ya, ya. πŸ˜€

Takut sepertinya tidak bisa dipisahkan dari manusia. Padahal belum tentu apa yang ditakutkan itu akan terjadi. Lantas darimana datangnya takut? Ketika manusia pertama (Adam dan Hawa), akhirnya memakan buah terlarang, yakni buah yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Taman Eden, seketika itu juga hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, hancur. Dan seketika itu juga, muncullah “takut” dalam diri manusia. Maka kesimpulannya, ketika manusia terpisah dari Tuhan, saat itulah datang “takut”.

Lalu apakah takut ada manfaatnya? Menurut saya tidak ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, seperti yang pernah saya alami ketika takut menghadapi seseorang yang sebetulnya tak bisa dihindari, takut adalah tindakan bodoh yang mengakibatkan kita membatasi ruang gerak, menghalangi berkreasi, membuat wajah tampak lebih tua daripada usia yang sebenarnya, dan membuat kita cepat mati.

Jika demikian, bagaimana caranya supaya takut tak lagi menghantui? Menurut saya, cobalah untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, dan percayalah kepada Tuhan Allahmu dengan segenap hati, serta akal budimu. Sesimpel itu. Namun pada prakteknya, tentu tidak akan sesimpel itu. Karena manusia lebih menyukai yang ribet daripada yang simpel. πŸ˜€

 

Well, habis ini, ada yang penasaran ngecek foto-foto tetangga/teman/pacar, nggak, ya? Tapi, eh, siapa tahu Anda melihat sebagian besar koleksi foto teman Anda itu adalah tas, jangan langsung berkesimpulan bahwa ia takut kehilangan tas. Bisa jadi alasan teman Anda mengunggahnya adalah, karena ia memang berjualan tas. πŸ˜€

Okeh temans, selamat takut! Eh, selamat ngecek maksud saya. πŸ˜€

 

 

 

 

 

Advertisements

23 thoughts on “Takut

  1. Clarissa Mey says:

    hahahaahaha ngakak2 bacanya.. aku sering foto makanan enak, kalo dipikir2 bener juga sih, aku paling takut kehilangan makanan enak di bumi ini.. rasanya hidup ga punya tujuan *halahh*

    Like

  2. Maya says:

    Hahaha iya ya? *brb ngecek foto*
    kalo menurut aku rasa takut itu tetep ada supaya kita waspada, jadi gak sombong gitu mbak biar gimana kan kita manusia ada limit nya. Tapi tentunya takut berlebihan juga gak bagus.
    Itu kalo ngeor2 orang, nyokap aku juga suka parno sih. Sering pesen, ati ati kalo negor takutnya orang yang di tegor gak suka trus balik nyelakain kita. Tapi prinsip aku, selama yang kita omongin benar dan disamapikan dengan baik harusnya sih hasilnya baik ya πŸ™‚

    Like

  3. suriyatifang says:

    *Langsung ngecek foto*
    Kalo banyak foto makanan, berarti takut kehilangan makanan donk mba πŸ˜›
    Bener ya mba, emang ga bisa cuma kita sendiri, harus andelin Tuhan πŸ™‚

    Like

  4. chris13jkt says:

    Lho fotoku kebanyakan alam sama bangunan tua, tapi kalau direnungkan ya memang aku pengen banget kalau alam itu tetap lestari dan bangunan-bangunan tuanya juga terjaga sih. He he he . . . berarti quote-nya bener ya Mes πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s