69: Dari Ular hingga Istana Negara

Konon dalam bercinta, 69 adalah posisi favorit sebagian besar pasangan. Karena posisi ini sangat menguntungkan kedua belah pihak, maka kepuasan serta kenikmatan yang dirasakan pun, tiada taranya, katanya. Lalu bagaimana, sih, sebenarnya posisi 69 ini? Ah, saya yakin, Anda semua pasti sudah lebih khatam daripada saya 😀 . Tapi bagi yang belum tahu, silahkan gugel aja, ya 😀 .

Meskipun tanpa bakiak, tanpa makan kerupuk, tanpa tarik tambang, tanpa panjat pinang, tahun ini saya cukup menikmati perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-69, yang kebetulan jatuh pada hari Minggu.

Paginya saya terlambat kebaktian di gereja. Bukan gara-gara posisi 69, tapi gara-gara digegerkan kehadiran ular sepanjang 3,5 meter dan berdiameter 15 cm di lingkungan kami. Mungkin itulah bentuk perayaan kemerdekaan menurut si ular. Keluar dari hutan, masuk ke lingkungan manusia. 😀

Tentara

Setelah doa penutup oleh pendeta, jemaat pun membubarkan diri. Di bangku belakang, saya melihat beberapa pria berpakaian tentara. Hampir lima tahun saya kebaktian di sini, belum pernah sekalipun saya melihat pria-pria berpakaian tentara kebaktian. Kemarin adalah yang pertama. Dari situ saya pergi ke mall dan menghabiskan sisa sore di sana.

Sesampainya di mall, saya melihat sekelompok tentara berdiri di luar mall. Lalu di dalam mall, beberapa tentara mangkal di dekat eskalator lantai dua. Saya pikir mau ngapain, rupanya mereka hendak berselfie ria. Oke sip. Ternyata tentara juga manusia biasa yang melek selfie. Tapi kenapa gerangan hari itu banyak tentara yang wara-wiri di keramaian? “Peringatan hari lahirnya tentara, kali…..” celetuk teman saya. Setahu saya hari lahir tentara bulan Oktober, bukan Agustus. Apa karena perayaan ulang tahun kemerdekaan RI, sehingga mereka diutus ke tempat-tempat umum? Entahlah. Tak sempat pula saya bertanya ke salah satu dari mereka.

Kendaraan Pribadi

Sementara itu, di lantai satu, ada pameran mobil. Produsen mobil nampaknya makin gencar membidik pasar Kalimantan Timur (Kaltim) yang kabarnya cukup seksi. Bahkan menurut data statistik yang dilansir oleh salah satu media massa Kaltim, semakin banyak penduduk Balikpapan yang memiliki mobil pribadi. Hal ini mengakibatkan angkot yang notabene merupakan salah satu alat transportasi massal, kehilangan penumpang. Pantas saja sekarang jalanan di Balikpapan terasa semakin sesak.

Kehadiran motor di jalan raya pun begitu. Mendengung berkoloni bak lebah mengepakkan sayapnya. Menurut saya, sudah semestinya ada pengaturan penggunaan jalan untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Sebab suasana berkendara di jalanan semakin tidak kondusif belakangan ini. Mungkin karena menganggap bentuk mereka kecil hingga mudah meliuk menyalip kiri kanan, pengendara motor sering seenak udelnya berkendara. Sedangkan yang beroda empat, mungkin karena merasa punya bodi yang lebih besar, jadinya sok berkuasa. Padahal dua-duanya sama-sama bayar pajak, sama-sama berhak berada di jalan. Namun yang belum dimiliki adalah keteraturan.

Lantas apa kabar kebijakan pemerintah dalam memerangi kemacetan? Kabarnya mereka hendak menambah jalan. Tapi menurut saya, mau sebanyak apa pun jalan ditambah, tidak akan pernah cukup, jika produksi mobil tidak dibatasi dan subsidi bahan bakar minyak (bbm) tidak dicabut. Harga bbm yang murah adalah penyebab semakin banyaknya pengguna kendaraan pribadi. Namun tentunya, jika subsidi dicabut, harus diimbangi dengan membangun sarana transportasi umum yang aman, murah, nyaman, serta trayek dekat dengan pemukiman warga. Dengan begitu, semoga para pengguna kendaraan pribadi akan beralih ke transportasi umum.

Pasukan Mawar Stroberi

Ketika tiba waktunya makan siang, beberapa teman belum menunjukkan batang hidungnya. “Dasar pasukan stroberi,” celetuk seorang teman. Awalnya saya pikir yang dimaksud dengan “pasukan stroberi” adalah karena mereka ditugaskan membawa buah stroberi. Namun ternyata saya salah.

stroberi

Teman-teman yang datang terlambat ini berusia sekitar satu dekade di bawah saya. Anak-anak muda lah judulnya. Saya juga masih muda, sih. Tapi mereka ini lebih muda dari saya. 😀

Entah kenapa, yang cowok-cowok terlihat “agak melambai” di mata saya. Berdiri nggak bisa tegap. Semacam ada angin yang mengikuti dan menghembus tubuh mereka ke kiri dan ke kanan. Yang cewek, entah kenapa sedikit-sedikit mengucapkan terima kasih. Penggunaannya terdengar tidak cocok di telinga saya.

“Karena itulah mereka dinamakan stroberi. Generasi yang lahir di era 90-an. Era serba instan dan korup. Dulu waktu mereka baru masuk, keadaannya lebih parah. Mereka tidak tahu bilang terima kasih dan tubuhnya lebih goyang daripada yang kamu lihat sekarang. Makanya baru kami tatar tuh satu-satu,” jelas teman saya. Wow. Saya terperangah.

Mungkin di sinilah diperlukan revolusi mental yang digembar-gemborkan oleh presiden terpilih, Jokowi, yang sayangnya oleh sebagian pihak disebut-sebut sebagai revolusi ala komunis.

Negara korup, sistem pendidikan korup, mental manusia korup, generasi korup. Korup sudah mendarah daging, sudah menjadi budaya. Makanya perlu direvolusi dari akarnya, sedari kecil, sedari anak-anak, sedari keluarga. Tapi kalau Jokowi kerja sendirian, nggak mungkin revolusi mental ini bisa berhasil. Rakyat Indonesia yang dipimpinnya pun harus mau berubah.

Diskon

Sudah menjadi tradisi kalau di setiap perayaan peringatan kemerdekaan, toko-toko memberi diskon atau potongan harga. Bervariasi dari 17% (angkanya sesuai tanggal kemerdekaan), hingga 50%. Bahkan ada beberapa toko bermurah hati bikin program “Beli 1 Dapat 1”.

Tapi kalau kata saudara saya mah, “Ah, itu kan harganya sudah diatur untuk harga dua barang. Seolah-olah kita beli 1 dapat 1. Padahal sebenarnya tidak. Elu tetep aja mengeluarkan duit seharga dua barang.” Hahahah… Entahlah. 😀

Tiap toko yang saya lewati di mall ini pun memutar lagu yang berbeda. Dari mulai lagu balada era jadul macam Bed of Roses-nya Bon Jovi, hingga keluaran terbaru macam Diamonds-nya Rihanna. Padahal barang yang mereka jual nggak ada hubungannya sama sekali dengan musik. Okelah, mungkin tujuannya untuk membuat pengunjung betah berlama-lama di toko, dan syukur-syukur ada yang jadi beli. Cuma masalahnya, kenapa volumenya mesti kencang banget? 😀

Jilboobs

Agak miris juga saya melihat fenomena jilboobs ini. Dan banyak pula kemarin berseliweran di mall, di hadapan saya. Pengen ditegur agar mereka menggunakan jilbab yang syar’i, tapi saya masih ragu, karena saya sendiri tidak memakai jilbab. Siapa tahu mereka malah marah kepada saya. Orang zaman sekarang, kan, tidak mau ditegur/diperingatkan. Termasuk saya. Bisa-bisa sandal atau sepatu melayang kalau kita peringatkan.

Sebab, bisa jadi alasan mereka menggunakan jilboobs adalah karena mereka sebenarnya tidak tahu seperti apa pemakaian jilbab yang benar, dan mana yang salah. Kalau nggak ada yang memberitahu, sampai kapan pun mereka takkan pernah tahu, kan?

Toilet

Karena tak sabar menunggu ibu dan adik perempuannya di bilik kamar mandi umum, seorang anak laki-laki mengintip mereka dari kolong pintu yang tidak tertutup. Saya menyentuh bahunya dan menyuruhnya bangkit. Tujuan saya adalah memberitahu dia bahwa kegiatan yang dilakukannya itu tidak baik. Lagipula lantai toilet sudah pasti kotor penuh kuman. Untunglah anak kecil ini mau mendengar. Ia berdiri, pergi ke sudut toilet dan menanti keluarganya di situ.

Pikiran saya mengembara sesaat. Di masa depan, bisa jadi lelaki kecil ini akan mendiami istana negara. Entah akan menjabat sebagai apa. Mungkin presiden? Siapa tahu?


By the way, film Planes 2 Fire and Rescue sudah diputar di bioskop. Jangan lewatkan kalau Anda penggemar Dusty Crophopper dan pemandangan menakjubkan Piston Peak National Park yang merupakan gabungan dari taman nasional Yellowstone dan Yosemite. Ngiler, ngiler dah….

Advertisements

20 thoughts on “69: Dari Ular hingga Istana Negara

  1. Clarissa Mey says:

    astaga baru denger yg namanya pasukan stroberi.. lucu banget istilahnya 😛
    kalo fenomena diskon dan jilboobs sering liat, cerita tntg tentara dan anak yg di toilet juga masih umum.. masalah kendaraan pribadi, yah begitulah.. mobil murah malah makin banyak kan, ga seimbang dgn perbaikan di bidang transportasi umumnya 🙂

    Like

  2. Maya says:

    Wah paket komplit :). Kalimantan juga udah mulai macetkayak Jakarta ya? *jabat tangan* 😆
    Duuh kapan ya emang pemerintah tuh ngebatasin kuantitas mobil. Setuju emang nambah jalan itu bukan solusi buat ngatasin macet

    Like

  3. rianamaku says:

    Wah pasukan stroberi mah udah biasa dah ngak kanget mes, oh iya jilboobs itu artinya apa to mes…?
    kalau soal anak kecil aku juga pernah mengalaminya mes, sama seperi kamu aku juga menegur halus habis entah kenapa spontan aja gitu untuk mengalihkan rasa terkejutnya dia aku langsung tanya nama di sapa…?

    Like

  4. gegekrisopras says:

    Walopun lahir tahun 90-an tentu aku bukan salah satu pasukan stroberi dong~~~ hehehe semoga 😀
    Jilboobs tuh bikin risih mata, lgpl nanggung banget pake jilbab tp atasannya ketat gitu.. iya mbak Messa, mesti dibilangin biar mereka tahu 😀

    Like

  5. suriyatifang says:

    Kalo mobil terus diproduksi dan perusahaan multi finance buat kredit tetap ada, macet juga ga mgkn bisa terurai ya mba, harusnya sih emang seimbang ya 😀
    Baru denger tentang pasukan stroberi, tapi penasaran kenapa buah stroberi yang dipilih ya hihihi 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s