Permainan Telepon

Melalui A, seorang keluarga yang sudah saya kenal dengan baik di Medan, saya minta tolong dipesankan mobil untuk mengantar saya ke bandara Kualanamu. Waktu itu bandara Kualanamu baru dibuka. Saya belum punya gambaran seperti apa kondisinya di sana. Maka untuk mengantisipasi kemacetan atau hal-hal lain yang bisa merugikan, saya putuskan berangkat lebih awal.

Pada hari yang telah disepakati, saya bangun pagi-pagi sekali, mandi dan membereskan ini itu. Selagi beberes, tiba-tiba ponsel saya berdering. Dari B, orang yang akan mengantar saya ke bandara. Mau memastikan jam penjemputan pagi itu.

“Iya, kita harus sudah berangkat dari rumah jam setengah tujuh,” tegas saya.

“Oke, Mes,” balas B. B tahu nama saya dari A. B harus tahu, dong, nama calon pelanggannya.

Kembali saya beberes. Tak sampai lima menit, ponsel berdering kembali. Siapa lagi, sih, pagi-pagi gini nelepon? Batin saya. Kali ini tak ada nama tertera di layar ponsel. Hanya nomor.

“Selamat pagi, siapa ini?”

“Aku ini, Mes,” jawab suara pria di ujung sana.

“Aku siapa, ya?” tanya saya lagi.

“Ah, masak kamu nggak tahu, sih?” suara pria di ujung sana terdengar genit.

Buset! Pagi-pagi buta lagi sibuk beresin barang, saya malah diajak main tebak-tebakan lewat telepon oleh seorang pria yang saya tidak tahu dan yang suaranya terdengar genit. Tapi suara itu, seingat saya seperti suara B. Dan seingat saya pula, saya tak pernah bergenit-genit ria dengan pria lain kecuali suami saya.

“Pak B?” tebak saya.

“Iya…..” jawab suara pria di ujung sana.

Deg! Perasaan saya kurang enak.

“Lho, ada apa lagi? Bapak, kan, barusan nelepon saya,” saya heran. Ibu saya yang juga sudah bangun, mendatangi saya gara-gara suara saya agak meninggi menjawab telepon itu. Rencananya, beliau dan beberapa anggota keluarga saya ingin ikut mengantar ke Kualanamu sekalian melihat bandara baru.

“Bapak mau pinjam uang kamu. Bisa, nggak?” jawab suara di ujung sana.

Deg! Perasaan saya makin nggak enak. Saya semakin heran. B ini belum kenal sama saya, tapi pagi-pagi buta berani nelepon saya untuk pinjam uang. Apa yang harus saya lakukan? Tanya saya ke diri sendiri.

Di satu sisi, saya ingin segera menutup telepon itu. Tapi di sisi lain, saya ingin tahu seperti apa ujungnya jika “permainan” itu saya teruskan. Hmmm…. Meskipun dada saya agak bergemuruh (deg-degan antara takut dan ingin tahu), saya pilih untuk tidak menutup telepon.

“Untuk apa uangnya?” tanya saya menyambung permainan.

“Saudara saya sakit di rumah sakit. Pagi ini mau operasi, tapi uangnya mesti ada dulu supaya bisa dioperasi. Nanti jam sembilan pagi pasti saya ganti koq,” jawab suara di ujung sana.

Hmmm… Kalau mau diganti ke saya jam sembilan pagi, kenapa nggak bilang saja ke pihak rumah sakit bahwa uangnya akan diantar jam sembilan pagi? Berarti sebenarnya dia punya uang, kan? Lalu kenapa mau minjam dari saya? Hmmm… Ada yang nggak beres ini…  Saya membatin.

“Mau pinjam berapa?”

“Lima juta.”

Hmmm… Jumlah yang tidak sedikit. Okelah. Waktunya untuk mengakhiri permainan ini. Saya tak mau melangkah terlalu jauh.

“Maaf, pak. Saya tidak bisa bantu.”

“Lho, trus tadi koq tanya-tanya uangnya untuk apa? Kayak ngasih harapan.”

“Saya ingin tahu saja,” saya berterus terang.

Tidak ada jawaban dari ujung sana.

“Nanti jadi jemput saya atau gimana?” desak saya.

“Ya. Jam setengah tujuh sudah harus berangkat dari rumah, kan?” jawab suara pria di ujung sana.

“Oke.”


Telepon saya tutup. Selanjutnya saya ceritakan ulang semuanya ke ibu yang sedari tadi berdiri di dekat saya. Beliau tentu sama herannya seperti saya. Orang yang tidak dikenal bisa-bisanya nelepon pagi buta untuk meminjam uang.

Saya bermaksud ingin meluruskan masalah telepon itu dengan B nantinya di mobil ketika ia menjemput saya. Tapi ibu melarang. Tak bijak menurutnya. Apalagi kami tidak kenal siapa sebenarnya B ini. Apakah penjahat, penipu, psikopat, atau rampok berkedok sewa menyewa mobil? Kami tak tahu. Yang kami tahu, dari si A, ia hanya menyewakan mobilnya untuk digunakan. Lagipula jika misalnya B kesal karena saya mengungkit masalah telepon itu, bisa-bisa dia menurunkan kami di tengah jalan atau mencelakakan kami. Berharap yang terbaik, tapi senantiasa harus siap untuk kemungkinan terburuk, kan?

Mau ganti mobil, kemana mau mencari mobil sewaan pagi-pagi buta? Mau menelepon A, ia sedang berada di luar kota. Jadi sia-sia saja kalaupun saya menghubunginya. Tak ada opsi lain yang lebih menarik, saya pun nurut kepada ibu.


Singkat kata, B tiba tepat waktu. Kami diantar ke bandara dengan baik. Sepanjang jalan kami ngobrol ngalor ngidul seakan masalah telepon tak pernah terjadi. Padahal dalam hati, saya deg-degan 😀 . Pulangnya, ibu dan rombongan pun diantar ke rumah dengan baik. Saya tiba di Balikpapan dengan selamat sentosa.

Sekitar dua minggu kemudian, A menelepon saya. Akhirnya ia tahu tentang masalah telepon itu dari orangtua saya. Dia bertanya bagaimana kejadian sebenarnya, maka saya ceritakan dari a sampai z.

Ternyata A tidak percaya kalau si B bersikap seperti itu. Lha, mana bisa saya larang jika dia tidak percaya kepada perkataan saya. Itu hak dia. Saya hanya menceritakan yang sebenarnya. Tidak ditambahi, tidak pula dikurangi.

“Wong dia tetangga saya, koq. Orangnya juga selama ini baik,” kata A.

“Semua orang kelihatannya memang baik dari luar. Tapi di dalam hati, jiwa dan pikirannya, hanya dialah yang tahu,” balas saya.

“Saya juga sudah tanya ke B, katanya dia tidak ada menelepon kamu pagi itu.”

Well, well, jadi begini rupanya ujung dari permainan yang saya pilih untuk dimainkan pagi itu. Batin saya.

“Ya, iyalah. Mana ada penjahat mau ngaku. Yang jelas, kamu hati-hatilah disitu. Kita nggak tahu apakah si B ini psikopat atau apa,” sambung saya.

A menutup telepon. Tak lama kemudian ia kembali menelepon saya.

“Mes, ini nih si pak B. Coba kamu ngomonglah sama dia,” kata A di ujung sana.

Lahh… Buat apa lagi saya ngomong sama orang ini??? Saya tak mau memperpanjang masalah ini. Pikir saya.

“Halo?”

“Ya, halo Mes. Ini pak B. Katanya saya nelepon kamu pagi itu mau minjam uang, ya?”

“Iya.”

“Bukan saya itu, Mes. Mungkin orang lain yang nyatut nama saya dan mengambil nomor kamu dari henpon saya.”

“Oh, ya sudah kalau gitu. Kalau bukan bapak, mungkin hantulah yang menelepon saya pagi itu,” tandas saya.

“Jadi kita tidak ada masalah lagi, kan?”

“Oya, tentu. Tidak ada masalah, pak. Saya sudah melupakan masalah ini, koq. Si A saja tadi yang menghubungi saya karena dia ingin tahu kejadian yang sebenarnya,” saya mengakhiri pembicaraan.


Lima bulan kemudian, pas mudik akhir tahun lalu, saya mampir ke rumah A. Tak disangka, saya bertemu dengan B. Terpaksa saya menyalaminya dan memberi senyum palsu. Padahal jujur saja, saya tak suka bertemu dia lagi 😀 .

Sampai sekarang saya tak tahu entah siapa sebenarnya yang menelepon saya pagi itu serta apa motifnya. Apakah ia memang benar-benar membutuhkan uang pagi itu? Atau penipu psikopat yang pintar menutupi kejahatannya? Tapi dari suaranya, saya yakin ia adalah B. Ia sendiri menjawab “iya” ketika saya bertanya apakah namanya “pak B”. Dan sebelum kami mengakhiri pembicaraan pagi itu, ia pun tahu jam berapa persisnya harus berangkat dari rumah. Dari situ, saya pikir kecil kemungkinan kalau itu orang lain yang mengaku-ngaku B.

Mungkin akan lain ceritanya jika hari itu saya tidak nurut kepada nasehat ibu, jika saya langsung meluruskan masalah telepon saat itu juga, atau jika saya tidak menjawab telepon tanpa nama itu. Tapi, ya, sudahlah, jadi pelajaran saja buat saya. Lain kali, kalau mudik, mungkin akan lebih baik jika menggunakan taksi resmi ke bandara. Tidak pakai mobil sewaan. Toh harganya sama. Atau jangan mudik sama sekali. Hahahahaa. 😀

Dan karena saya memilih meneruskan “permainan telepon” pagi itu, atas nama rasa penasaran dan ingin tahu, tentu ada konsekuensi yang harus dihadapi. Orang yang saya pikir sudah saya kenal dengan baik, dan yang sudah mengenal saya dengan baik, pun, ternyata meragukan kebenaran cerita saya 😀 .  Bagaimana pula dengan mereka yang tidak mengenal saya dengan baik? Seperti Anda misalnya, yang sedang membaca tulisan ini 😀 .  Mungkin Anda pun meragukan saya, kan? 😀

Saya jadi kepikiran, mungkin ini hanyalah “kejahatan kecil” telepon yang tidak mau diakui oleh seseorang dan tak tuntas saya bongkar. Lantas bagaimana pula mega kejahatan di luar sana seperti korupsi milyaran hingga triliunan rupiah yang dilakukan oleh orang-orang yang jago “akrobat” serta jago ngeles? Pastilah para penyelidik KPK membongkarnya dengan jumpalitan, ya? 😀

Advertisements

33 thoughts on “Permainan Telepon

  1. akku percaya Mes, pernah kejadian koq kayak gini. Emang sih gak mirip. Kita kenal karena kebetulan dia pacarnya sodara temen aku. Ketemu sekali dan gak akrab juga. besok2nya dia nelp mau pinjem duit 2 juta padahal kenapa dia gak pinjem ama temen aku aja yang sodara temennya hahah. ngapain pinjem sama orang yg gak kenal deket. Aneh

    Like

    1. jadi parno aja lain kali mau sewa2 mobil gitu mbak. lain kali kalo ke Medan, mungkin minta tolong mbak aja deh kalo mau nyewa mobil yaa 😀

      Like

  2. Hmm serem juga ya mbak. Bikin parno kan kalo gitu. Sebenernya bisa jadi pak B itu yg telepon tapi ngeles atau emang ada yang ngaku ngaku sebagai dia. Cuma Tuhan sama yang bersangkutan aja yg tau sih. Emang kadang suka gemes ya, pengen konfrontasi tapi takut diapa apain. Padahal kita konfrontasi nya cuma sekedar nanya baik baik

    Like

    1. mau meluruskan, nanti justru kita pula yang “diluruskan” sama dia. kan, serem ya. kalo mbak perhatikan percakapan terakhir kami sebelum tutup telepon, dia tau persisnya jam setengah tujuh pagi harus sudah berangkat dari rumah. dari situ aku makin yakin kalo dia memang B, bukan orang lain.

      Like

  3. Jaman sekarang yaa mbak. Nggak telefon, nggak sms, nggak sosmed, semua dipakai modus. Na’udzubillah, semoga kita semua sellau terjaga dari perlakuan-perlakuan yang ‘kurang sopan’ tersebut 🙂

    Like

  4. tadi menyimak dari awla aku sempat nebak jangan jangan ini penipu yang ngaku ngaku sembarangan baru mau pinjam, tapi mbak Mes yakin itu si B dan tahu suaranya berarti memang si B, kalo modus yang sering dipke penipu skrg sih tiba tiba telp ke kita acak saja, tapi dia nggak tahu nama kita pura pura aja,,nanya masih ingat aku nggak? terus kitanya nebak nebak dan dia akan bilang asal iya saja.Ntar kalo sudah terjadi pembicaraan arahnya bakal minjam duit atau minta pulsa .. itu sih sering saya dapat cuma aku dah tahu kadang ngaku teman saya yang polisi..padahal teman polisi saya terbatas… btw memang dalam hidup ini kita mesi waspada selalu ..dunia makin gila deh..skrg ada aja modus orang buat aneh aneh..deh

    Like

    1. aku yakin, dan kalo mbak perhatikan di percakapan terakhir kami sebelum tutup telepon, dia tahu persis jam berapa keberangkatan kami pagi itu, yaitu setengah tujuh. nah dari situ, aku pikir kecil kemungkinan kalau itu orang lain.

      emang zaman makin edan mbak. tetep waspada aja dimanapun.

      Like

      1. berarti orang nya itu..berarti semakin aneh deh manusia skrg …. ih pinjam duit sm client baru di telp beberapa menit …iddih benar benar menyebalkan

        Like

  5. Yah, ini penipuan klasik kak, jgn mau nebak nama seseorang dr telefon,
    cr ngetesnya gampang, tinggal sebut nama org lain yg gk dikenal/random n klo diiyakan brarti itu penipu….
    fyi, gak ada operasi yg mengancam keselamatan jiwa/life threatening yg musti bayar dulu br diberi tindakan, bs dituntut RSnya itu….

    Like

    1. kalo ito perhatikan percakapan kami sebelum tutup telepon, dia tau jam berangkatnya jam setengah tujuh pagi. nah, dari situ aku pikir kecil kemungkinan kalo itu orang lain yg menebak asal-asalan 🙂

      thanks infonya ito, berguna lho 🙂

      Like

  6. Gw rada2 parno kalo urusan nya duit, udah sering kejadian soal nya. Btw gw pasti males banget dianter pak b kalo tau dia pinjem duit gitu tp mmg ngak ada pilihan lain yaaa 😦

    Like

  7. Wah haus hati-hati, Mes. Orang jahatnya makin pinter dan juga makin kreatif. Aku sendiri sudah agak lama memutuskan kalau ada telepon masuk dan cuma keluar nomornya aku gak akan angkat. Logikanya kalau itu teman atau kolega, pasti akan sms kalau memang urgent.

    Like

  8. Waduhhh,… bisa gitu ya, saya tuh gemeesss banget sama orang yang ngomongnya di bolak balik kayak gitu, coba ada alat doraemon yang bikin orang mengakui apa yang di lakukan sebelumnya ya mbak mes, heheheee 😀

    Like

  9. Hmmm… Awwalnya aku pikir itu penipu, kan sering tuh nipu nggak sebut nama. Begitu kita yang menebak, dia iyakan aja. Tapi karena dia tau mesti jemput 6.30 jadi curiga sih.
    Anw pernah punya pengalaman mirip, ada telpon nggak ngasih tau nama. Ditanya mau bicara sama siapa, jawabnya mau bicara sama kamu. OK, langsung klik tutup telepon. I don’t need drama 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s