Bro….

Dave melirik jam dindingnya. Ia terlihat resah. “Lama banget sih, si Stu ini. Janjinya mau nonton bareng, tapi sampai jam segini belum muncul juga…” batinnya.

Sekali lagi ia melirik jam tangannya dan tak lama akhirnya Stuart muncul di ambang pintu sambil terengah-engah.

Dave: Bujuuugh… Koq lama sih, Bro? Lo abis lari?

Stuart: Iya. Sori, Bro. Belum telat, kan? Gue banyak kerjaan tadi. Belum mulai, kan, acaranya?

Dave: Bentar lagi. Ya udah, markiduk. Mari kita duduk. Udah gue siapin nastar keju nih.

Stuart: Lho, koq nastar? Nggak ada pisang atau ekstrak kulit manggis? Kita kan mau dengar kabar gembira, bro…

Dave: Lo tuh emang kebanyakan nonton iklan. Sadar, bro, sadar. Nastar itu juga makanan bangsa kita. Bukan cuma pisang. Nih, cobain dulu satu. Pasti lo ketagihan.

 

Sambil menonton rapat pleno KPU di tivi dan mencicipi nastar keju:

Stuart: Bro, ingat ya, entah siapapun yang menang, kita tetap bersaudara. Gue akan tetap manggil lo dengan: Bro.

Dave: Ya iyalah. Masak lo bakal manggil gue dengan: Sis? Apa kata dunia?

Stuart: Siiiplah πŸ™‚

Dave: Gimana menurut lo pilpres kita kali ini?

Stuart: Yah, namanya masih belajar berdemokrasi, pastilah banyak kekurangan disana-sini, bro. Negara tetangga yang udah ratusan tahun berdemokrasi aja masih tetap banyak kekurangannya dalam pelaksanaan pemilu. Apalagi negara kita. Mudah-mudahan ajalah akan ada perbaikan yang signifikan dalam tahun-tahun mendatang.

Dave: Tapi banyak juga yang berpendapat kalau pilpres kali ini semacam kurang mendidik rakyat, bro.

Stuart: Pastilah akan ada pendapat seperti itu. Apalagi kayak kemarin pas nyoblos itu. Gue kirain hari itu juga kita bakal tahu siapa presiden kita selanjutnya. Rupanya tidak. Emang sih, kemarin sudah ada hasil quick count. Tapi lha koq hasilnya ada dua macam??? Dua-duanya mengklaim menang pula. Kan, kalau ada apa-apa, kita rakyat jelata ini yang jadi korban. Padahal ini kan judulnya pesta demokrasi, pesta rakyat. Seharusnya seluruh rakyat bergembira. Iya, toh?

Dave: Setuju, bro. Padahal tujuan quick count dibikin, kan, untuk mengantisipasi kecurangan dalam real count. Tapi, ya sutralah, mari kita lihat aja gimana hasil akhirnya. Dan bagaimanapun, lo nggak boleh lupa, bro, ini juga pesta politik. Dalam politik, nggak ada lawan atau kawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Besok-besok coba lo lihat berita, deh, pasti akan ada parpol atau oknum yang tadinya berkoalisi dengan si A menjadi berbalik mendukung si B. Kenapa? Karena kepentingan. Yah, mudah-mudahan ajalah mereka nggak lupa sama kepentingan yang sesungguhnya, yaitu kepentingan rakyat Indonesia tanpa pandang bulu.

Stuart: Iya, bro. Bener banget lo. Dan menurut gue, politik ini emang busuk banget!

Dave: Eit, jangan gitu dong, bro. Yang busuk, jahat atau kotor itu bukan politik, tapi oknumnya. Politik itu cuma seni untuk mencapai tujuan, demi kebaikan bersama. Tapi kalau dibilang politik itu keras, iya.

Stuart: Hmm…

Dave: Coba lo ingat lagi deh, udah banyak oknum yang dijatuhi hukuman penjara entah sekian tahun atau seumur hidup gara-gara kasus suap-menyuap nasi. Jelas oknumnya yang bermasalah, kan? Bukan politik. Oknumnya yang nggak sanggup melawan godaan duniawi, nggak sanggup berjalan di jalan yang benar, nggak sanggup memakai cara-cara yang benar, sehingga digunakanlah cara-cara kotor maupun jahat. Makanya politik menjadi identik dengan jahat atau busuk. Padahal sebenarnya tidak.

Stuart: Hmm… Betul juga, sih…. (ngangguk-ngangguk sambil ngunyah nastar)

Dave: Eh, bro, gue ke belakang bentar. Kebelet nih…

Stuart: Oke, bro, jangan lama-lama… Nanti kelewatan.

***

Sekembalinya ke ruang tivi, Dave melihat raut wajah Stuart berubah serius dan bolak-balik bergumam, “Nggak asih, nih…” Waktu itu jam menunjukkan sekitar pukul setengah empat WITA.

Dave: Kenapa, bro? Muka lo koq jadi aneh gitu? Apanya yang nggak asik??

Stuart: Lo lihat sendiri deh… (tunjuknya ke televisi)

Di televisi, seorang pria berbaju putih tampak sedang memberikan pidato politik mengenai sikapnya terkait pilpres.

Pria di televisi: ………………..Kami menarik diri dari pilpres………..Β  Kecurangan di internal ka-pe-u…….. Terstruktur…… Masif…….. Sistematis……….. Damai…………

Dave: Whaaat??? Is this for real??? Di hari dimana semua rakyat seharusnya antusias mendengarkan keputusan KPU tentang siapa yang akan menjadi pemimpin baru kita??? Koq nggak sportif banget, sih? Keluar dari panggung perlombaan tepat di detik-detik menjelang pengumuman pemenang????? Damai?????

Stuart: Bener-bener udah nggak asik nih orang………

Dave: ……………………………………………………………………

Dave: ………………………………………. Dari awal, kan, udah gue bilangin ke elu…. Elunya aja yang nggak percaya. Musti gimana lagi supaya mata lo atau mata hati lo terbuka?

Stuart: Selama ini udah capek-capek bersabar menunggu hasil KPU, koq begini ngomongnya sekarang??? (geleng-geleng kepala)

Dave: …………………………………. I’ve never seen anything like this before…………….

***

Setelah kepala agak dingin sedikit….

Stuart: ………………………….. Mungkin dia hanya mencari kebenaran dan keadilan, bro……..

Dave: Mencari keadilan??? Kebenaran???? Plis deh. Masih bisa lo nganggep gitu? Mengejar kekuasaan kali, bro!

Stuart: ………………………… Setidaknya mengejar keadilan dan kebenaran yang dia anggap adil serta benar, bro………..

Dave: Ah, entahlah! Atau mungkin dia membuat dirinya seolah mencari kebenaran dan keadilan.

Stuart: Entahlah…………. Tapi selalu ada dua sisi dalam tiap kisah, kan?

Dave: Entahlah……………. Yang jelas, dia hanya memikirkan kepentingannya…. Tapi nggak heran sih… Wong di pileg aja banyak yang stres, apalagi di pilpres???? Dan gue yakin, sampai kapan pun, entah berapa kali lagi pun dibikin pilpres dan ia tetap kalah, orang seperti ini tidak akan pernah mau mengakui kekalahannya. Besok-besok kalau dia maju ke MK dan MK tetap memutuskan presiden yang sah bukan dia, mau kemana lagi dia menggugat? Apa mau menggugat Tuhan????

Stuart: ………………….. Bisa jadi…………….

Dave: Bahhhhh………….. Elo pun sudah jadi sama busuknya rupanya macam dia! Ah, sudahlah! Eh, tapi ingat, bro, kalau lo nggak siap kalah atau nggak siap menang, mending nggak usah ikut bersaing atau ikut lomba-lombaan deh. Kabarnya lo mau ikut lomba, kan? Apa tuh namanya?

Stuart: The Sexiest Minion on Earth 2014

Dave: Nah, iya. Lo musti siap kalah atau menang. Jangan pulak ntar kalau lo kalah, lo tuduh pulak jurinya yang curang, padahal elu yang nggak beres luar dalam!

Stuart: ……………. Yahh, tapi kan bisa jadi emang curang, bro. Secara kita kan pasti punya kecenderungan untuk lebih menyukai A atau B……………………..

Dave: Whaaaaaat?????? Wah bener-bener deh, otak lo musti dibersihkan, Stu! Sudahlah. Gue cabut dulu. Mending gue olahraga. Makin esmosi gue ngomong sama elu. (bangkit meninggalkan Stuart)

Stuart: ……………………… Nastarnya gimana nih??????

Advertisements

29 thoughts on “Bro….

  1. Clarissa Mey says:

    kepentingan yg abadi.. ambisi yg abadi.. ambisi untuk menjadi presiden dan penguasa di negeri ini, kampanye selama 14 tahun dan berbagai cara bersih maupun kotor dilakukan, semua demi satu posisi yg bahkan sulit dibaca motivasinya.. otak pintar, harta melimpah, kedudukan cukup baik.. apa yg memotivasinya sedemikian pengen jadi presiden.. hanya Tuhan dan dia yg tahu

    Like

    • Messa says:

      Nah itu dia mbak. Rambut sama hitam tapi dalam hati, jiwa & pikiran siapa yg tahu kan πŸ˜€ katanya mau mengabdi utk rakyat. Well, bentuk pengabdian kan macam2 ya, gak musti jadi presiden πŸ˜€

      Like

  2. Clarissa Mey says:

    kepentingan yg abadi.. ambisi yg abadi.. ambisi untuk menjadi presiden dan penguasa di negeri ini, kampanye selama 14 tahun dan berbagai cara bersih maupun kotor dilakukan, semua demi satu posisi yg bahkan sulit dibaca motivasinya.. otak pintar, harta melimpah, kedudukan cukup baik.. apa yg memotivasinya sedemikian pengen jadi presiden.. hanya Tuhan dan dia yg tahu

    Like

  3. Maya says:

    ah kacau emang ya. sebenernya mengharapkan jendral sekelas bapak Prabowo bisa sportif dan berbesar hati menerima hasil pilpres. reaksinya sungguh mengecewakan. aku sih bilang, adnai dia bisa sportif mungkin periode2 mendatang kita gak ragu untuk milih dia tapi sekarang wah mending yang lain deh

    Like

    • Messa says:

      The problem is, menurutnya dia adalah pemenangnya. Dan ini orang benci banget sama pemenang yg udah ditetapkan KPU berdasarkan keputusan terbanyak suara rakyat. Kabarnya mereka mau bikin pansus pilpres di DPR lalu kalau gak mulus juga, presiden terpilih mau dimakzulkan di sidang paripurna nanti. Benar2 nggak mikirin rakyat kan mbak. Nggak mikir efeknya ke kehidupan berbangsa & bernegara. *sori jadi kepanjangan :D*

      Like

      • Maya says:

        Wha kalo kayak gitu jadi keliatan banget ya bukan demi rakyat. Udah ketebak deh bakalan balik ke jaman ordu baru *amit amit* dimana KKN merajalela dimana mana. Mudah mudahan suara rakyat lebih unggul, selalu. Ngeliat pemilu kali ini baru berasa ternyata masih banyak kok rakyat yang perduli πŸ™‚

        Like

  4. Pypy says:

    Nastarnya buat akuh ajahh..

    Btw, yah bgitulah.. saking pengennya berkuasa sampe ga bisa sportif. Sedih sih liatnya, ga bisa ngasih contoh berdemokrasi yg baik..

    Like

    • Messa says:

      Mempermalukan bangsa, terutama pemerintahan SBY. Besok2 MK pun curang katanya. Lalu rakyat Indonesia pun curang juga nanti katanya. Ah sutralah Py. Mending kita lebaranan aja makan nastar aja πŸ˜€

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s