Dawn of The Planet of The Apes: Inilah Hidup

Sekuel dari film Rise of The Planet of The Apes ini dibuka dengan adegan para kera berburu rusa. Tiba-tiba muncul seekor beruang dan menyerang Blue Eyes, anak Caesar, sang pemimpin kera. Kemudian Koba (sesepuh), datang menolongnya dan serta merta merobohkan beruang dengan tombaknya. Blue Eyes pun selamat.

Diceritakan, manusia yang tersisa di San Francisco, yang kebal secara genetik terhadap virus flu Simian yang mematikan, nyaris kehabisan sumber daya. Satu-satunya jalan keluar, agar bisa bertahan hidup adalah dengan memberdayakan kembali generator yang berada di bendungan Muir Woods, rumah para kera.

Konflik bermula ketika Blue Eyes dan Ash (sepupunya) yang sedang berjalan-jalan di hutan, tak sengaja bertemu Carver, salah satu manusia yang tersisa. Karena panik dan takut melihat kera, Carver menembak Ash. Blue Eyes memanggil kawanannya dan Carver memanggil tim ekspedisinya yang dipimpin oleh Malcolm. Caesar datang dan menyuruh Malcolm serta timnya keluar dari hutan.

Menarik buat saya ketika melihat manusia-manusia yang tersisa tersebut berdebat di dalam mobil, sekeluarnya dari hutan. Masing-masing berbicara dari sudut pandang yang berbeda. Lima manusia, lima sudut pandang. Tiga manusia berkomentar dengan nada kagum. Sementara Carver, yang menembak kera, memiliki penilaian yang berbeda terhadap peristiwa yang baru saja mereka hadapi di hutan.


Caesar bersama kawanannya memutuskan turun ke kota, atau tepatnya puing-puing kota, tempat tinggal manusia-manusia yang tersisa, untuk mengantar tas si Alex (anak Malcolm yang hobi menggambar), yang ketinggalan di hutan saat insiden penembakan terjadi. Caesar memperingatkan manusia agar mereka tidak kembali kerumah kera.

Namun Malcolm tak mau menyerah begitu saja. Kepada Dreyfus pimpinan mereka, ia minta diberikan waktu tiga hari untuk pergi ke hutan, karena hanya itu harapan mereka satu-satunya. Tanpa sumber daya, mereka akan mati. Ditemani Ellie (istrinya), Alex (anaknya), Carver (yang menembak kera), serta seorang lagi, mereka kembali ke hutan. Ia akan mencoba memberitahu keadaan yang sebenarnya kepada Caesar.

Meskipun mendapat pertentangan dari rakyatnya, terutama dari Koba, yang sangat membenci manusia gara-gara perlakuan mereka kepadanya selama di laboratorium dulu mengakibatkan kebutaan dan luka di sekujur tubuhnya, serta berpendapat,

“Jika manusia memperoleh sumber daya, maka manusia akan semakin kuat dan mampu membunuh semua kera,”

namun Caesar menangkap keputusasaan dalam diri Malcolm. Itu sebabnya, ia mengizinkan Malcolm beserta timnya bekerja di bendungan. Dengan syarat: tidak boleh ada senjata.

Caesar ini sepertinya pemimpin yang cinta damai. Kalau bisa menyelesaikan konflik secara damai, mengapa harus menggunakan kekerasan? Mengapa harus menggunakan senjata? Mengapa harus berperang? Walau begitu, ia berprinsip: akan melawan jika terpaksa.

Ternyata, diluar sepengetahuan Malcolm, ada satu senjata lagi yang tinggal di kotak perlengkapan Carver. Dengan marah karena merasa kepercayaannya dikhianati, Caesar melemparkan senjata itu ke sungai dan menyuruh rombongan Malcolm untuk angkat kaki dari tanah mereka.

Sekali lagi, Malcolm tidak menyerah. Ia berpendapat bahwa tidak semua manusia seperti Carver. Didampingi istrinya Ellie, ia menemui Caesar di pondoknya. Mencoba berbicara dengan Caesar dan menemukan istri Caesar tergolek sakit sehabis melahirkan. Ellie pun menawarkan antibiotik kepada Caesar.

Atas perbuatan baik mereka berdua, Caesar melunak dan memberi izin tinggal untuk menyelesaikan pekerjaan mereka satu hari lagi. Tak ada tawar menawar. Tapi Carver tidak diikutsertakan lagi. Ia diusir ke luar dan menunggu di dalam mobil hingga pekerjaan teman-temannya selesai.

“Apes will help you,” tegasnya kepada Malcolm.


Diam-diam, Koba bersama dua rekannya mendatangi tempat manusia di San Francisco. Disana ia menemukan stok senjata dan menyimpulkan bahwa jumlahnya cukup untuk membunuh semua kera.

Koba yang kembali dari kota, datang untuk memperingatkan/memberitahu Caesar tentang penemuannya di kota. Saat itu, Caesar bersama kera lainnya berada di bendungan menolong Malcolm menyelesaikan pekerjaannya.

“Mana Caesar,” kata Koba setibanya di bendungan. Koba nyaris menyerang Alex, anak Malcolm. Namun dihalangi Maurice, si orang utan senior, salah satu sesepuh juga.

Hal itu membuat Caesar naik pitam dan akhirnya berkelahi dengan Koba. Di tengah perkelahian, ia berhenti dan tidak membunuh Koba yang sudah babak belur. Sebab di dunia mereka ada prinsip lain, yakni: sesama kera tak boleh membunuh kera.

“Forgive me,” pinta Koba seraya mengulurkan tangannya ke Caesar.

Setelahnya, Koba berkata kepada Blue Eyes, anak Caesar, bahwa ia mengkhawatirkan nyawa ayahnya.

“Sekarang ayahmu tak percaya lagi padaku. Kau harus melindunginya. Karena cintanya kepada manusia membuat matanya buta.”

Tapi Koba pun lupa, bahwa kebenciannya kepada manusia, juga telah membutakan matanya dan membahayakan keberlangsungan hidup kawanannya.


Di bendungan, pekerjaan Malcolm yang dibantu oleh para kera, berhasil. Koba kembali ke kota dan membunuh penjaga senjata serta membawa senjata ke hutan dan membunuh Carver yang menunggu di mobil, merampas pemantik apinya, membakar pondok mereka, serta menembak Caesar di kegelapan malam. Caesar terjatuh dari tempatnya berdiri dan kericuhan pun tak dapat terhindarkan. Namun sesaat sebelum Koba menarik pelatuknya, mata mereka bertemu.

Koba berteriak-teriak sambil mengacungkan senjata ke atas.

“Senjata manusia! Manusia yang membunuh Caesar!”

Koba pun melakukan provokasi supaya para kera membunuh manusia.

“Kau harus membalaskan kematian ayahmu,” kata Koba ke Blue Eyes, putra Caesar.

Dengan membabi buta mereka menyerang manusia. Perang pun pecah.


Sampai kapanpun, pribadi-pribadi seperti Koba, Caesar, Malcolm, Carver, Maurice, Ellie, dlsb, akan selalu ada meramaikan dinamika panggung peradaban. Entah itu pribadi yang tidak mau mendengar apa kata pemimpin; tak percaya pada pemimpin; menuduh orang sana yang melakukan kejahatan, padahal tangannya yang melakukan; gemar lempar batu sembunyi tangan; haus perang; cinta damai; kalau bisa berbuat baik mengapa harus berbuat jahat; bersumbu pendek; kecewa terhadap pemimpin; tak puas terhadap kinerja pemimpin; gelap mata; dlst.

Itulah hidup. Everyone is different. Tiap pribadi yang datang ke dunia ini membawa misinya masing-masing.

Anda yang mana? Lantas bagaimana kisah selanjutnya? Di tengah cerita, karena tak tahan mendengar deru perang serta desing peluru, saya memilih meninggalkan bioskop. Nonton sana gih kalau penasaran. 😀

Fyi, film ini masuk kategori remaja.

Advertisements

17 thoughts on “Dawn of The Planet of The Apes: Inilah Hidup

    • Messa says:

      ini koq ketinggalan direply ya.. aku nggak lihat trailernya mbak Tyke, pilah pilih langsung nonton. udah nggak pernah lagi ngecek2 trailer mbak 😀

      Like

  1. danirachmat says:

    Saya termasuk yang suka banget sama Planet of The Apes, tapi waktu dibikin Rise of the, cukup bikin angkat alis. Nah film baru ini kok kayaknya maksa gitu ya. Hihihihi. Meskipun belom nonton tapi belom tertarik buat pergi ke bioskop n nonton. 😀

    Like

  2. Halim Santoso says:

    Paling ngefans Rise of The Planet of The Apes, setelah nonton Dawn of The Planet of The Apes di masa suram politik Indonesia semakin tambah ngefans…
    Pas banget pengambaran manusia akhir-akhir ini yang semakin brutal dan gila kekuasaan dengan disimbolkan adu pendapat yang konyol, hawa peperangan, dan aura negatif yang lain :-),

    Like

  3. Butterfly Menikmati Dunia says:

    wah jadi penasaran akhirnya gimana….

    Btw laki gua udah cerewet banget pengen nonton pilem ini. Cuman minggu kemarin nontonnya Hercules…darah di mana-mana…gua bilang, jangan dalam seminggu nonton pilem berdarah-darah dua kali…bisa horor gua…hihihii

    Like

    • Messa says:

      hahah, kalo Hercules nggak gitu tertarik aku kak 😀 Tapi Dawn ini keren lho. Dari beberapa yg sudah kutonton sepanjang tahun ini, kayaknya film inilah yg terbaik.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s