Hari Bersejarah

“Berangkat kita?” tanya suami kepada saya pagi tadi.

“Yok,” jawab saya singkat.

Kami berdua pun melangkahkan kaki menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) di daerah tempat tinggal kami. Di tengah jalan, kami berpapasan dengan tetangga yang telah selesai menggunakan hak pilihnya. Selagi kita masih punya hak untuk bersuara, sebaiknya pergunakanlah. Siapa tahu besok-besok kita tak lagi bisa memilih. Mungkin Anda pesimis, “Buat apa gue milih kalau toh pada akhirnya suara gue dimanipulasi?” Saran saya, sebelum dan setelah memilih, berdoalah supaya Anda legowo.

Setibanya di TPS, Surat Pemberitahuan kami serahkan ke panitia. Kami dipersilakan duduk, selagi menunggu giliran. Tak lama, nama saya dipanggil. Panitia menyerahkan surat suara kepada saya. Untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa merugikan, surat suara saya buka ketika masih berada di depan panitia. Ketika saya lihat tak ada kerusakan ataupun cacat, saya melangkah masuk ke bilik suara.

Di dalam bilik, kembali saya perhatikan surat suara yang saya buka lebar-lebar. Saya pandangi foto kedua pasang calon presiden dan wakil presiden (capres & cawapres) Indonesia ke-7 dengan jelas. Namun saya tak langsung mencoblos.

Sementara pria di sebelah bilik saya telah selesai nyoblos hanya dalam hitungan detik, saya belum. Saya ingin menikmati momen bersejarah, yang hanya datang sekali dalam lima tahun ini.

Saya sapu pandangan ke sekeliling sambil berkata dalam hati, “Besok, Indonesia mungkin takkan sama lagi seperti hari ini.”

Setelah mengucap kalimat yang seperti doa itu, dengan mantap saya coblos foto capres dan cawapres yang sesuai dengan nurani saya, tepat di tengah.

Surat suara saya lipat kembali dengan rapi dan saya keluar dari bilik, menuju kotak suara. Di depan kotak suara, saya cemplungkan kertas yang kali ini tidak setebal surat suara Pemilu Legislatif lalu, dengan perlahan tapi pasti.

Dari situ, saya berjalan ke meja tinta dan mencelupkan jari kelingking saya lumayan lama didalam wadah berisi tinta berwarna ungu. Saking lumayan lamanya, suami sampai nyeletuk, “Lama amat nyelupnya.” πŸ˜€

Bapak penunggu meja tinta tertawa mendengar alasan saya, “Nggak apa-apa lah, ya, Pak. Kan, cuma sekali lima tahun… Buat kenang-kenangan…” πŸ˜€

Selesai sudah.

Siapapun yang terpilih, pastilah dia pilihan terbaik menurut Tuhan, untuk Indonesia, dalam segala kelebihan dan kekurangannya. Sebab, seperti kata Bapak Quraish Shihab di Gelora Bung Karno (5/7/14), “Tak ada pemberi kekuasaan kecuali Allah. Kekuasaan penuh berada dalam genggamanMu.”

Balikpapan, 9 Juli 2014.

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Hari Bersejarah

  1. tadi juga aku terhenyak di biliki suara kupandangi lama 2 tuh gambar 4 orang sembari berdoa.. baru coblos … dan saya malah celupin 3 jari deh…buat foto selfie ikut lomba di kantor hahaha …. semoga hari ini menjadi tonggak sejarah perubahan untuk Indonesia yang lebih baik ya…

    Like

    1. iya tuh, katanya sih latihan. tapi koq bisa bentrok jadwal latihan sama pilpres… hmmmm…. mudah2an mbak. let’s hope for the best, prepare for the worst.

      Like

  2. Yup, sekarang hari pemilihan sudah berlalu dan kita tinggal nunggu penetapan hasilnya dari yang berwenang.

    Momen yang jarang perlu dirayakan ya Mes, jari bertinta masih bisa digunakan buat dapat diskon di hari pemilihan kemarin :mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s