Perilaku Binatang

Tak jarang membuat saya kagum dan kadang menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Pagi hari misalnya, saat saya berada di dapur menyiapkan sarapan. Saya sering sengaja membuka pintu dapur lebar-lebar demi mendengar burung-burung berkicau dengan merdunya. Tapi kalau hari mendung, burung-burung ini biasanya tak mau bernyanyi.

Atau seperti sore hari beberapa minggu yang lalu ketika saya membuka pintu belakang menuju gudang. Tahu-tahu Buddy, kucing tetangga, sudah duduk disana dengan manis dan menatap ke arah saya sambil mengeong. Entah apa maksudnya.

Saya bercilukba sebentar kepadanya dan ia mengeong lagi. Nampaknya ia menyukai hiburan singkat yang saya berikan itu 😀 . Lalu pintu saya tutup dan saya mendengarnya mengeong lagi. Saya mengira-ngira lagi, apa sebenarnya yang ia coba sampaikan. Apakah ia kehabisan makanan sehingga kelaparan dan datang ke rumah saya?

Buddy pernah nangkring disini. Dulunya ia milik tetangga saya si A. Kemudian A pindah dan Buddy di serahkan ke B, tetangga saya yang lain. Sekarang B sedang berlibur ke luar kota dan Buddy ditinggal sendiri diluar.

Saya pun pergi ke rumah B untuk mengecek persediaan makanan Buddy. Meski Buddy ditinggal, B menugaskan C, orang kepercayaannya, untuk memberinya makan. Di teras rumahnya saya temukan mangkok makannya penuh berisi makanan. Berarti C tak lupa memberi makan Buddy. Dari situ saya berkesimpulan: kemungkinan besar Buddy kesepian. Tak ada wujud manusia yang sering ia lihat atau mungkin tak ada belaian sayang dari majikannya, makanya ia datang ke pintu belakang saya. Berharap saya mau mengelus kepalanya dengan sayang 🙂 .

Untuk terakhir kalinya saya intip dia dari balik pintu. Buddy masih duduk disana dan mengeong lagi seolah berkata, “Take me in, please.”

Tentu saja saya tak memasukkannya ke rumah 😀 . Itu cuma senjatanya supaya hati saya luluh 😀 . Tapi saya tahu benar bagaimana rasanya ketika orang-orang yang kita kenal atau kita kasihi meninggalkan kita tanpa penjelasan berarti.

Saya ingat betul bagaimana tingkah si Buddy ini tahun lalu ketika baru ditinggal A, majikannya terdahulu. Minggu-minggu pertama ia tetap setia duduk di depan pintu rumah A, menunggu pintu dibukakan dan ia dipanggil masuk seperti biasanya. Namun pintu rumah tak kunjung dibuka. Buddy pun berlalu pergi ke rumah barunya di tempat B. Begitu ritualnya setiap hari 😀 .

Satu siang saya mendapatinya di samping tangga lantai dua. Persis di pinggir tembok. Wajahnya tak bersahabat seakan mau bunuh diri loncat dari ketinggian gara-gara stres ditinggal pergi majikannya 😀 . Ternyata tidak. Buddy hanya duduk-duduk 😀 . Tapi kenapa mesti di pinggir??? 😀


Jauh sebelum aksi Buddy, anjing peliharaan saya dulu juga pernah beraksi aneh bin bikin kagum seantero keluarga 😀 . Karena bulunya hitam, kami menyebutnya si Bleki. Saya nggak begitu paham entah dari jenis apa si Bleki ini. Yang saya tahu ia hanya anjing kampung biasa. Tapi setelah dewasa, ia bertubuh tinggi dan pintar banget.

Bleki ini biasanya kami tempatkan di halaman belakang. Pintu samping yang menuju halaman belakang kami tutup supaya dia tak keluar. Karena kalau dia keluar, pastilah akan berbuat onar dengan anjing-anjing lain. Ujung-ujungnya dia akan pulang dengan luka baru di tubuh.

Satu sore saya terkejut melihatnya berhasil membuka cantolan pintu samping dengan menggunakan hidungnya. Seakan merayakan keberhasilannya itu, dia langsung lari sekencang-kencangnya mutar-mutar di halaman depan.

Meskipun telah berhasil keluar dari halaman belakang, namun Bleki belum berhasil keluar rumah. Karena masih ada penghalang papan plastik yang kami susun di gerbang depan supaya dia tak keluar rumah. Dasar anjing pintar, akhirnya dia berhasil menemukan jalan keluar dengan meloncati tempat sampah yang agak tinggi yang kami bangun di sudut kanan rumah. Sejak itu kami tak pernah lagi melarangnya ataupun mencegahnya pergi keluar rumah.

Rupanya si Bleki tidak berhenti membuat kejutan sampai disitu. Satu hari dia pergi dari rumah dan tak kembali hingga beberapa bulan lamanya. Sudah dicari kesana kemari, batang hidungnya tetap tak kelihatan. Kami pikir, pastilah Bleki sudah mati atau diculik penjagal anjing. Hingga satu hari dia muncul kembali di rumah kami dalam keadaan utuh, dari antah berantah.

Menurut teori abal-abal kami, kemungkinan ketika pergi dulu, si Bleki bertemu anjing betina di tempat lain dan kawin dengannya serta menetap disana. Mungkin rindulah yang membuatnya kembali ke rumah kami 😀 .

Perilaku anjing yang lain yang tak kalah kocaknya seperti Belo di Aek Natonang bisa dibaca disini. Juga kisah antara si Bobo dan Uwak yang berpendirian teguh, pernah saya tulis disini.


Selain perilaku yang membuat kagum, ada juga yang membuat miris. Misalnya seperti yang pernah dialami oleh si Putih, yang juga anjing keluarga saya, sebelum era Bleki. Sebenarnya menjadi miris gara-gara ulah manusia yang tak bisa menahan emosi.

Sore itu, saya beserta adik-adik, Ibu dan Bapak menikmati kebersamaan di areal belakang rumah. Sambil mengobrol, kami anak-anak dan Ibu mencuci pakaian. Dari kecil kami sudah mandiri mencuci pakaian masing-masing. Tidak ada pembantu/pekerja rumah tangga. Sedangkan Bapak sibuk mengurus tanaman.

Si Putih pun tak mau ketinggalan menikmati kebersamaan itu 😀 . Sambil menggoyang-goyangkan ekornya yang kecil (tandanya senang), ia menyalak mengganggu kami yang sedang mencuci. Sesekali ia mencuri-curi kesempatan untuk menjilati air dari dalam ember yang airnya sudah kami tampung untuk mencuci. Sebentar kemudian ia berhenti menyalak dan berlari mengitari halaman belakang, lalu kembali lagi mengganggu kami yang sedang mencuci. Kami tertawa melihat tingkahnya dan sesekali menyipratnya dengan air. Dan ia pun menyalak lagi 😀 . Tapi mungkin Bapak lagi ada masalah di kantornya, sehingga tak senang mendengar si Putih menyalak melulu.

Sekonyong-konyong Bapak menendang si Putih dengan sekuat tenaga sampai tubuh kecilnya itu melayang dan membentur permukaan dinding yang keras. Kami kaget seketika melihat aksi brutal Bapak itu dan menghentikan aktifitas mencuci.

Kami semua marah kepada Bapak dan tidak setuju akan aksinya itu. Si Putih kan cuma mau bermain-main. Namanya juga anjing… Kerjanya ya cuma makan, minum, tidur, menggonggong dan main…

Gara-gara insiden itu, saya memutuskan untuk tidak berbicara dengan Bapak selama beberapa hari. Setelah ditendang, Putih menjadi pendiam dan bersembunyi di sudut-sudut halaman belakang. Selain itu ia juga menjadi malas makan. Tubuhnya semakin kurus gara-gara makanannya tak lagi disentuh. Ia hanya mengendusnya saja kemudian berlalu. Tatapannya pun tak lagi berseri. Kami kuatir.

Pada malam ketiga setelah ditendang, ia muntah-muntah dan tubuhnya menggigil. Kami pun memutuskan untuk memasukkannya ke dalam rumah dan membiarkannya tidur di dalam. Biasanya ia tidur diluar rumah.

Kami meletakkannya di tempat yang hangat dan menyelimutinya. Berharap ia akan sembuh sehingga kami bisa melihat wajahnya lagi keesokan hari.

Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Malam itu Putih menghembuskan nafas terakhirnya. Kami temukan tubuhnya sudah terbujur kaku. Paginya kami segera menguburkannya di halaman belakang. Saya sangat sedih waktu itu. Setelah Putih meninggal, agak lama baru saya mau berbicara lagi dengan Bapak.


Setelah Putih tiada, kami (saya dan adik-adik) mencari tahu apa sebenarnya yang mempercepat kematiannya. Kemungkinan besar ia trauma. Fisik dan batin.

Trauma fisik: kemungkinan bagian sensitif tubuhnya luka akibat tendangan itu. Akibatnya ia tak mau lagi makan. Trauma batin mengakibatkan ia tak berani lagi dekat-dekat kami dan hanya meringkuk di pojokan. Takut kena tendang lagi kalau dekat-dekat manusia. Apalagi karena ia betina, pulihnya bisa lama.

Dari situ saya belajar, bukan cuma manusia yang bisa trauma. Anjing juga. Dan gara-gara emosi sesaat, satu nyawa tak berdosa mati sia-sia. Wajah kita yang buruk rupa, tapi justru kaca yang bening yang tidak tahu apa-apa yang kita pecahkan 😀 .

Have you ever been in that kind of situation? Adakah perilaku binatang yang membuat Anda kagum?

Hal yang hampir sama juga pernah terjadi kepada kucing kecil seperti yang pernah saya tulis disini.

Terakhir, masih dari dunia anjing, waktu SD saya pernah terbangun tengah malam gara-gara mendengar lolongan anjing yang bersahutan. Ada yang bilang itu tandanya mereka melihat setan lewat. Padahal bukan. Biasanya anjing jantan akan melolong jika mereka mencium bau anjing betina yang lagi subur. Pertanda pengen kawin.

Memang Tuhan Maha Tahu sudah memikirkan segala sesuatu sak detil-detilnya ketika menciptakan segala makhluk di bumi ini. Coba kalau kita manusia yang dibikin melolong tiap kali pengen kawin atau mencium bau perempuan yang sedang dalam kondisi subur. Kan, repot juga kali, ya, kalau semua cowok melolong, “Auu..Auuuuuuu….” 😀

 

Advertisements

20 thoughts on “Perilaku Binatang

    1. aku nggak pernah ngasih dia makan kak. cuma bercilukba doang 😀 mungkin dia pikir wajahku familiar kali ya haha. kalo makanannya full setelah kucek dirumah tetangga itu haha 😀

      Like

  1. wah anjingaku lucu lagi eeehhh anjingnya adik aku. dia bakal ikutan sibuk kalau kita udah ganti baju rapi mau pergi . Pasti dia nungguin terus berharap di ajak tapi anehnya kalau kita mau kerja dia ngak rempong..
    Wah kasian si putih ya messs….

    Like

  2. hahhaha jadi ingat kucingku dulu namanya Blacky…kalau binatang skrg sy malas urus ribet perawatannya………tapi seru jjuga ya kalau punya pet..gitu……ada mainana seru seruan………….

    Like

  3. Kucingku dulu suka tidur di dalam kotak pos sampai tetangga yang lewat heran lihat perilakunya. Sayang si kucing mati muda.

    Aku setuju soal stress, anjing kalau stress bahaya karena ngefek ke tubuhnya. Dulu di sebuah shelter ada husky yang stress berat karena dimasukkan shelter (yang punya tinggal di dekat masjid), nggak pernah dikunjungi sampai kurus dan jadi jelek.

    Like

  4. Kasihan banget ya si putih.
    Pasti traumanya berat banget sampai2 gak mau makan gitu 😀
    Kalo saya lagi suka banget sama anjing.
    Ah, emang teman manusia yang paling setia deh, hahaha….
    Tapi soal kucing nggak deh, geli sama bulunya 😀

    Like

  5. Messa itu kucingnya lucu banget sih bisa begitu. Mirip anjing juga ya ternyata. Huks aku sedih baca cerita tentang si Putih, bisa nangis berbulan-bulan kali kalo kayak gitu. Terus skr Messa masih pelihara anjing ga?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s