Tante Teroris

Bulan-bulan kemarin, saya sempat memblok semua telepon yang masuk ke telepon genggam saya. Kalau ada yang perlu, cukup kirim pesan entah melalui watsap, bbm atau sms kepada saya. Tujuannya karena saya tak mau menerima telepon dari (yang menurut saya) teroris yang tujuannya (menurut saya) meneror kehidupan pribadi saya.

Sekarang sih saya telah mencabut kebijakan itu. Siapa tahu ada telepon penting masuk dari Pak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang meminta saya untuk menjadi juri lomba fotografi piala Gubernur DKI Jakarta, dalam rangka memeriahkan ulang tahun Jakarta ke-487, misalnya. πŸ˜€

Risikonya, saya harus siap setiap saat kalau-kalau teroris itu menelepon saya lagi. Selama ini (karena menurut saya teleponnya sudah sampai pada tahap yang mengganggu ketenangan jiwa saya), jika nomornya muncul di layar telepon genggam saya, saya selalu mengabaikannya. Enggan saya menjawab. Makanya saya sebut teroris.

Akhirnya datanglah satu telepon dari nomor yang belum terekam di telepon genggam saya. Tanpa curiga sedikit pun, saya terima teleponnya dengan santai. Ternyata memang dari orang yang saya hindari itu. Rupanya dia pantang muncur dan menggunakan taktik lain agar bisa berbicara langsung dengan saya. πŸ˜€ πŸ˜€

“Wah, wah, kalau nomornya beda langsung kamu angkat, ya, Mes. Coba kalau saya pakai nomor yang lama, pasti kamu cuekin,” katanya di ujung sana.

Demi menjaga hubungan pertemanan tetap harmonis, saya memilih untuk mengekang mulut dan tidak membalas pernyataannya dengan kalimat-kalimat yang sesungguhnya telah sangat berteriak ingin dikeluarkan dari dalam kepala saya.

Percakapan, dimana saya lebih banyak menjadi pendengar yang baik, pun mengalir dengan lancar dalam waktu yang cukup lama.

Dan tibalah saatnya bagi saya untuk mendengar pertanyaan yang paling saya takuti darinya:

β€œJadi sudah bagaimana kabarmu di situ? Sudah ada tanda-tanda belum?”

Saya tahu yang dia maksud dengan ‘tanda-tanda’ adalah tanda-tanda apakah saya sudah hamil atau belum.

Saya tegaskan sekali lagi, demi menjaga hubungan pertemanan tetap harmonis, saya memilih menjawabnya dengan:

β€œTanda-tanda apa, nih, Tan? Kalau tanda-tanda akhir zaman alias kiamat sih sudah jelas banget kelihatan, Tante.”

Emang iya, kan? πŸ˜€

Parahnya, ia juga terdengar seperti menyalahkan saya atas keadaan rumah tangga kami yang sampai sekarang belum memiliki anak.

Mungkin mempertanyakan apakah saya sudah hamil atau belum adalah lumrah baginya atau mungkin tanda kepedulian baginya. Tapi bagi saya, yang sudah bolak-balik ditanyai, hal itu menjadi semacam bentuk teror yang membuat batin saya tertekan atau istilah kerennya: depresi.

Memang sih, manalah bisa saya larang mulutnya berbicara atau mulut mereka yang bolak-balik menanyakan hal yang sama kepada saya. Berbicara adalah hak mereka. Dan tentu saya juga punya hak untuk tidak menjawabnya.

Yang membuat saya heran, memangnya apa sih keuntungan buat mereka kalau saya punya anak? Apa nantinya mereka yang akan membiayai sekolah anak saya? Apa mereka yang akan mengganti popoknya kalau anak saya buang air kecil/besar tengah malam? Apa mereka yang akan menyusui anak saya? Apa mereka yang nantinya membesarkan anak saya?

Paling nantinya mereka hanya mengucapkan selamat atas kelahiran anak saya. Setelahnya, yang berjibaku setiap hari dengan anak, sudah tentu saya dan suami sebagai orangtuanya, kan? Apa iya, teman-teman pembaca yang budiman pernah mengalami orang lain yang mengurus anak Anda sementara Anda cuma melahirkan doang? Mungkin ada sih, tapi itu untuk beberapa kasus yang tak umum atau istimewa.

Sekarang mungkin saya masih bisa menjawabnya dengan sopan. Tapi siapa yang tahu apakah suatu saat nanti saya akan ‘meledak’ atau menjawabnya dengan kasar.

Batu saja bisa hancur jika terus-menerus terkena air dan sinar matahari. Apalagi saya, manusia yang bukan terbuat dari batu melainkan dari darah dan daging, seperti kata lagunya Human League yang berjudul Human:

β€œI’m only human…

Of flesh and blood I’m made…”

Sebenarnya ada satu lagi komponen penyusun manusia yang paling penting dan bersifat kekal, yaitu roh atau jiwa. Tapi saya tidak akan membahasnya disini. πŸ˜€ Yang mau tahu, silahkan kirim email ke blogmessa@gmail.com πŸ˜€

Jujur saja, hal ini memancing sifat lama diri saya (yang jelek) yang sudah tidak saya pelihara lagi, muncul ke permukaan. Mengingatnya saja membuat saya bergidik. Peuyeum ih.. Eh, serem maksud saya. πŸ˜€ Kalo peuyeum mah enak hahahaa. πŸ˜€

Maka berhubung saya tak bisa mengendalikan atau melarang mulut mereka bertanya ini itu, diri sayalah saya kendalikan. Yakni salah satunya dengan cara yang sudah saya sebutkan di atas (memblok telepon) serta dengan cara memilih mundur ataupun mengurangi frekuensi kemunculan di pertemuan-pertemuan sosial, agar tidak terus menerus dibombardir pertanyaan dari berpasang mata dengan tatapan yang terkesan iba akan nasib saya, yang belum jua beranak.

Saya punya anak atau tidak seharusnya bukanlah urusan mereka. Tapi berhubung saya tidak tinggal di hutan, maka sampai kapan pun, orang-orang seperti Tante teroris ini akan terus ada. Dan saya harus selalu siap menghadapi orang-orang seperti Tante yang selalu pengen tahu kehidupan (paling) pribadi orang lain ini.

Saya punya anak atau tidak, adalah perempuan sempurna menurut gambarNya. Tidak harus menjadi ibu barulah saya dikatakan sempurna.

Mungkin kelak, jika si Tante menelepon lagi, saya akan berterus terang kepadanya bahwa pertanyaannya membuat saya tertekan. Bisa jadi karena selama ini ia tak tahu jiwa saya tertekan, makanya ia berulang kali mempertanyakan hal yang itu-itu saja.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

31 thoughts on “Tante Teroris

  1. tenang Mess, aku juga baru setahun nikah sudah dengar tuh pertanyaan puluhan kali..capek jadinya.. .banyak kok yang mengalami bukan kamu aja…

    Like

    1. iya kayaknya rata-rata pada ditanyain gitu mbak. pernah baca tulisannya mbak Noni, kak Eka, mbak Tantri, Fascha, dan masih banyak lagi.

      Like

      1. berarti ini sudah umum kalau di sini… memang harus punya telinga kebal deh …. kalau saya sih santai saja … kadang gerah jg tapi yaaa harus dibuat santai ..

        Like

  2. Apa sih? Knp sih? Emg klo blm pny anak trs ke na pa? Emg klo hidup kita ngga sesempurna sesuai standar org lain trs ke na pa?

    Aku bingung deh sm orang2 kyk gitu itu. Aku ngga ngerti.

    Like

  3. Aku belum terkena teror soal kehamilan; kalau ada yang nanya hamil biasanya aku jawab ngaco: masih belajar bikin bayi.

    Btw, dulu ada Tante yang nanya tentang jodoh dan komentarnya gak enak banget; katanya buruan kawin sebelum umurnya tua. Menggemaskan!

    Like

  4. Messa saya juga merasakan di posisi kamu, bahkan sudah 6 tahun saya mendapat pertanyaan manis itu namun ya sutralahh…
    Biarkan orang menjadi juri tentang kehidupan saya, aku ngak ambil pusingg saya menikmati setip apa yang ada di dalam hidup saya termasuk bumbu bumbu busuk yang bikin hancur masakan itu udah buang aja teru jajan aja gampang kan
    πŸ™‚

    Like

  5. Ahhh Mess, kamu jgn ikutan gila yah, basa basi ala Indonesia ini emang ngeselin, dan seperti yg kamu bilang mungkin sudah saatnya untuk gak menjawab secara basa basi, tanpa bermaksud menjadi kurang ajar sama si tante, cobalah untuk bicara dari hati ke hati supaya hatimu pun plong.

    Like

  6. Sabar ya M, kadang emang org lain itu lebih peduli ama hidup org lain, tp pedulinya itu gak tau sikon dan bahkan terkesan sotoy,, ooo plis do yours ya kan?? *kruesTT*

    Like

  7. Sabar, Mes. Pertanyaan itu kayanya memang jadi pertanyaan biasa di sini dan mereka yang menanyakannya seringkali tidak merasa kalau pertanyaan mereka justru membuat stress yang ditanya. Aku dulu juga pernah mengalami dan memang rasanya sebal banget

    Like

  8. kalau aku, ” kapan nih ?! “, ” udah cepet, gak usah milih2x “, ” jadi, mau dimana pestanya ?! “. ntar habis itu pasti sama pertanyaannya sm kamu mes’ … hahaha … kadang eneg jg kalau ditanya terus menerus. secara bukan kita percancang kehidupan kita. iya gak ? siapa yg gak mau nikah ? siapa yg gak mau punya anak ? tp hidup masing2x orang kan beda ya. cuma bisa berdoa πŸ™‚ . semoga dikau tetep sabar menanggapi pertanyaan2x yg membosankan itu ya. adakalanya orang tanya2x hanya sekedar mengukur seberapa sukses-nya kehidupan saya/keluarga dibandingkan kehidupan kita/orang lain. coba kl si tante atau anaknya si tante dalam kondisi yg sama, diem tuh mulutnya ! jamin deh ! wkwkwkwk … sabar ya say’ ! kalaupun tdk punya anak, bukan the end of the world juga πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s