Jim Thompson House & Museum

Bisa dibilang, tempat ini adalah oase di tengah hiruk pikuk serta panasnya Bangkok. Serius, Bangkok panas banget. Balikpapan yang menurut saya udah panas banget, ternyata lewat pemirsa….

Menuju Jim Thompson House & Museum (JTHM) bisa dengan menggunakan BTS Skytrain dan turun di stasiun National Stadium, ambil pintu keluar Exit 1. Berhubung tempat kami menginap tidak jauh dari JTHM, maka kami cukup berjalan kaki beberapa meter saja kesana.

Tiket masuk 100Baht per orang. Dengan kurs 1 Baht sekitar Rp 300, maka harganya sekitar Rp 30.000. Harga segitu sudah termasuk dengan pemandu wisata yang akan memandu kita selama perjalanan mengelilingi rumah. Turnya sendiri berlangsung sekitar 35 menit.

Lalu siapa, sih, Jim Thompson yang katanya pionir kerajinan sutra Thailand itu? Menurut pamflet resminya yang dibagikan di pintu masuk, ia adalah:

“An American who was born in Greenville, Delaware, in 1906. A practicing architect prior to World War II. He volunteered for the service in the U.S. Army, campaigned in Europe and was later sent to Asia. He was sent to Bangkok a short time later as a military officer and fell in love with Thailand. After leaving the service, he decided to return and live here permanently.

The hand weaving of silk, a long-neglected cottage industry, captured Jim’s attention and he devoted himself to reviving the craft. Highly gifted as a designer and textile colorist, he contributed substantially to the industry’s growth and to the worldwide recognition accorded to Thai Silk.

On March 26th 1967, Jim Thompson disappeared while on a visit to the Cameron Highlands in Malaysia. Not a single valid clue has turned up in the ensuing years as to what might have happened to him. His famous Thai house, however, remains as a lasting reminder of his creative ability and his deep love of Thailand.”

***

Sebelum beliau hilang, dulunya rumah ini juga sudah dibuka untuk umum selama dua hari dalam seminggu. Setelah hilang, keponakannya memberikan rumah ini ke pemerintah Thailand untuk dikelola.

Pengunjung dilarang mengambil foto di bagian dalam rumah. Sedangkan bagian luarnya boleh-boleh saja di abadikan. Rumahnya sendiri adalah rumah tradisional Thai yang dibangun dengan mempertimbangkan aspek-aspek keamanan serta mengikuti kepercayaan Thai. Contohnya penempatan tempat pemujaan di sudut sebelah kanan rumah, kemudian penempatan balok-balok pemisah dari satu ruang ke ruang yang lain yang dipercayai bisa menangkal roh jahat, dlsb.

tempat pemujaan di sudut kanan depan rumah

Tempat Pemujaan di Sudut Kanan Depan Rumah

Saya sempat bertanya ke pemandunya apakah beliau punya anak. Soale saya penasaran dengan adanya pispot untuk anak perempuan dan laki-laki yang menyiratkan kalau dirumah itu ada anak kecil. Ternyata tidak ada, kata sang pemandu. Lantas untuk siapa pispot-pispot itu? Untuk keponakan-keponakan yang tinggal bersamanya.

Terakhir saya tanya juga tentang keberadaan istrinya. “Sudah meninggal,” jawab si pemandu pendek seolah tidak ingin diganggu lagi oleh pertanyaan-pertanyaan saya πŸ˜€ .


Jangan kuatir kelaparan sehabis mengelilingi rumah. Ada resto di situ. Makanannya enak dengan harga terjangkau. Ada toko suvenirnya juga.

Dan sebelum keluar dari JTHM, saya mampir sebentar ke toiletnya. Pas mau pergi naik shuttle-nya yang gratis antar jemput dari dan ke jalan raya, petugas tiketnya teriak-teriak ke arah saya sambil memegang henpon, “Henpooon.. Henpooon…” Awalnya saya nggak ngeh. Setelah beberapa detik, barulah saya sadar bahwa itu adalah henpon saya. Rupanya henpon saya tinggal di toilet dan penjaga kamar mandinya yang nemuin. Ya, ampun. Nyaris saya kehilangan henpon lagi gara-gara keteledoran saya. Kan, nggak lucu kalau henpon saya hilang dua kali dalam satu semester… Ternyata oh ternyata, masih ada orang jujur di Bangkok….

Di hari kepulangan kami, di bandara Don Mueang, pas lagi nunggu pesawat terbang kelas kambing berangkat πŸ˜€ , saya lihat ada gerainya JT disana. Iseng-iseng, saya dan suami ngecek harga barang-barangnya yang ternyata rata-rata lebih murah 200Baht sodara-sodara. Huahahaaa…Β  Tahu gitu, mending saya beli di bandara aja daripada di gerai utamanya πŸ˜€ . Tapi 200Baht kalau dikurskan ke rupiah nggak terlalu signifikanlah, ya. “Cuma” sekitar 60 ribu rupiah. Kecuali bedanya 200 ribu… Teteeeeup… Bu-ibu hobinya itung-itungan huahhahahaaaaaa… Makanya saya mohon kepada siapapun presiden yang terpilih nanti supaya nilai tukar rupiah harap diperkuat. Jangan melempem melulu kayak sekarang πŸ˜€ . Supaya kalau beli ini-itu pas jalan-jalan, otak bu-ibu nggak itung-itungan melulu hahahahaaaa….

Advertisements

32 thoughts on “Jim Thompson House & Museum

  1. Pursuingmydreams says:

    Aku suka banget tamannya Mess, walau panas kalau banyak tanaman begitu kan jadi adem rasanya πŸ™‚ . Souvenir sih biasanya lebih mahal di bandara ya, ternyata ko beda di Thailand πŸ˜€ . Henpon masih milikmu tuh untung aja ga hilang πŸ˜‰ .

    Like

    • Messa says:

      kakak bakalan betah deh kalau ke JTHM ini kak πŸ˜€ aku juga rada kaget koq bisa lebih murah di bandara πŸ˜€ mungkin karna Don Mueang bandara ekonomi alias kelas kambing itu kak, makanya harganya sedikit miring πŸ˜€ *tebak-tebak buah manggis*

      Like

  2. siti says:

    wah saya baru tahu sejarah tuh musium tadi, aku malah tak tahu ada objek wisata tersebut…yang diingat kalo ke bangkok itu gajah sama bencong..ya ampunnn katro banget deh gw…

    Like

  3. Vinda Filazara says:

    Senengnya yang bisa jalan jalan kemana mana.
    Masih di Bangkok? Salam buat Kak Shone yah? Itu tuh, pemainnya ” a Little thing called Love ” πŸ˜€
    Haha. malah -__-

    Like

  4. rianamaku says:

    Tamanya keliatan Adeeeem banget wah liat cewek cewek Thai ingat film thai yang sumph sadis ngerinya πŸ˜€
    Untung untung Hp ngak jadi hilang memang masih rejeki.

    Like

  5. chris13jkt says:

    Wah ini tempat yang tiap kali aku ke Bangkok maunya didatangin tapi selalu ada aja halangannya sehingga akhirnya gak jadi ke situ. Mudah-mudahan kali berikut bisa mampir ke situ ah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s