Dinihari di Bandara Juanda

Tiba pukul satu dinihari di terminal dua bandara Juanda, Surabaya (dari Bangkok), membuat kami harus menunggu selama sekitar lima jam untuk pesawat pertama yang akan mengangkut kami pulang ke Balikpapan. Untunglah foodcourt-nya buka 24 jam. Meski tidak semua gerai buka (hanya ada satu dua gerai makanan yang tetap beroperasi), meja dan kursi yang tersedia disana bebas digunakan oleh pengunjung.

Jam-jam pertama, bandara tidak terlalu dingin. Tapi semakin pagi semakin dingin. Untuk menghangatkan tubuh, saya pergi ke toko di seberang foodcourt dan memesan milo panas. Di dekat kasir, saya lihat ada koran Jawa Pos. Saya bermaksud membelinya supaya ada bahan bacaan sembari menunggu datangnya fajar.

“Berapa semua, mbak? Sekalian dengan korannya,” tanya saya ke mbak kasir. Wajahnya tampak bingung.

“Apa saya salah ngomong…?” pikir saya.

“Tapi, Bu… Itu koran kemarin… Yang hari ini belum datang…” kata mbak kasir.

“Ibu baca saja korannya disini, tidak perlu dibeli. Nanti yang baru saja Ibu beli kalau sudah datang,” tambahnya lagi.

Saya memang tidak begitu memerhatikan tanggalnya atau edisi kapan koran tersebut. Yang penting supaya ada bahan bacaan saja.

Begitu si mbak kasir selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, saya langsung antara terpana dan bingung. Terpana karena si mbak kasir sepertinya tidak rela kalau saya beli koran kemarin, bingung karena ia tidak mau mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Lha, kan, tujuan orang berjualan untuk apa lagi kalau bukan untuk mengambil keuntungan yang sebesar-sebesarnya dan barangnya laku terjual semua?

“Hebat sekali mbak ini,” kata saya dalam hati. Saya jadi teringat dengan kalimat pak Anies Baswedan tentang calon presiden yang berkampanye dengan “menghalalkan segala cara atau menggunakan segala cara yang halal”. Si mbak kasir menurut saya bisa menggunakan cara yang kedua untuk memperoleh keuntungan pagi itu. Tapi ia tidak menggunakannya. Kalau saya pribadi, pasti akan senang sekali ada orang yang mau membeli produk saya yang belum laku. Yang penting barang terjual, halal, dan asap di dapur bisa tetap ngebul.

In the end, saya pun setuju dengan tawaran si mbak dan membaca korannya di meja kecil yang terletak tak jauh dari meja kasir. Sembari membaca, pikiran saya ngelantur sesaat bahwa ternyata masih ada manusia unik seperti mbak kasir itu di Surabaya, Kota Pahlawan.

Oiya, di toko ini pula saya menemukan coklat dengan nama-nama tak biasa macam Cokelat Cegah Alay, Cokelat Sarjana Pantang Nganggur, Cokelat Obat Stress, Tolak Miskin, Enteng Jodoh dan Rasa Sayang πŸ˜€ . Juga tak ketinggalan ada Cokelat Kudeta Jiwa, Konspirasi Kemakmuran, Labil Ekonomi serta Kontroversi Hati yang kesemuanya sepertinya terinspirasi oleh kalimat Vicky Prasetyo yang sempat heboh tahun lalu πŸ˜€ .

So, untuk Anda yang merasa masih berat jodoh, masih nganggur, stress berkepanjangan, dlsb, go grab it at Juanda airport! πŸ˜€

 

Advertisements

36 thoughts on “Dinihari di Bandara Juanda

  1. Pursuingmydreams says:

    Messa mau dong tuh coklat “tolak miskin” πŸ˜€ .

    Oh ya mengenai koran bekas .. pengalamanku di Bali, banyak pejaja koran di dekat lampu merah, penjaja koran akan menawarkan koran2nya ke orang asing yg mobilnya kebetulan kena lampu merah, itu koran LN, waktu itu si Frank sdh ku larang beli krn kan mahal banget 50rb .. dasar dia ga mau dengar .. pas sdh dibeli dan kita lihat tglnya aku ketawain dong krn itu koran (Jerman) tp koran bekas sebulan lalu πŸ˜† .

    Like

  2. Vinda Filazara says:

    Haha~ boleh tuh dicoba πŸ˜€ kali aja abis makan coklat, simsalabim si jodoh langsung ngajak ke KUA πŸ˜€

    Like

  3. rianamaku says:

    Aku suka dengan mba ya, itulah kepuasaan pelangan no 1. Kadang hal seperti ini saya terapkan ke dalam dunia kerja karena media promosi utama adalah dari media manusia ( OMONGAN )

    Like

  4. chris13jkt says:

    Si Mbak kasirnya perlu dapat acungan dua jempol tuh, Mes. Memang seharusnya gitu, gak seperti di sebuah toko buku besar di sini yang pernah aku lihat ada orang marah-marah gara-gara koran yang dibeli ternyata koran yang sudah basi

    Like

  5. pY says:

    Coklatnya macam yang cokodot gitu yah, Mes? Seru2 tulisannya..

    Dan salute abis sama mbak nya.. Syukur banget masih ada org2 unik di negri ini.. πŸ˜€ Berarti masih ada harapan yah, da?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s