Christchurch

Adalah perhentian terakhir sekaligus perhentian pertama kami di New Zealand atau Selandia Baru. Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh jam dari Jakarta transit di Sydney, kami tiba sekitar jam dua sore di kota yang terletak di Pulau Selatan Selandia Baru itu.

Begitu turun dari pesawat, udara dingin langsung menyergap tubuh. Tidak ada kehebohan ataupun hiruk pikuk seperti yang sering saya jumpai di bandara Soekarno Hatta. Kesannya sederhana, teratur, bersih dan udik 😀 . Iya, udik sodara-sodara 😀 . Saya tidak menyangka bandara internasional bisa membuat pengunjungnya merasa seperti di kampung halaman sendiri, lho 😀 . Rupanya suami saya pun merasakannya juga. Beliau nyeletuk, “Macam di kampung kita Samosir saja pun kurasa ini…” Hahahaha…. Saya setuju dengannya. Adem rasanya berada di bandara Christchurch ini.

Saat menunggu penjemput datang, dari balik jendela kaca bandara yang tembus pandang, kehadiran satu mobil pick up yang sudah tua menarik perhatian saya. Mobil bersahaja itu ditumpangi oleh sepasang pria dan wanita yang juga sudah tua. Gaya berpakaian mereka yang tidak umum seperti pengunjung lainnya, seolah menegaskan suasana sederhana yang sudah saya rasakan sebelumnya. Mereka berpakaian ala petani seperti dalam film-film Barat yang pernah saya tonton.

Dari gerak-gerik serta bahasa tubuhnya, nampaknya mereka pasangan suami istri yang sedang menanti kedatangan sanak saudaranya. Setidaknya seperti itulah menurut perkiraan saya 😀 . Hingga jemputan kami tiba dan kami beranjak dari bandara, mereka berdua masih menanti disana.

Sepanjang jalan dari bandara menuju hotel, suasananya juga sederhana serta sepi. Sederhana karena tidak ada saya jumpai barang sebiji pun gedung pencakar langit. Sepi karena memang sepanjang jalan jarang terlihat manusia lalu lalang. Dimanakah mereka? Menurut pemandu wisata kami, karena saat itu menjelang Natal, penduduk kota ini biasanya berlibur ke luar kota atau ke luar negeri seperti ke negara tetangganya Australia. Atau bisa jadi karena gempa bumi berkekuatan hampir 6 skala Richter yang melanda Christchurch sehari sebelumnya (23/12/2011), membuat penduduk minggat dari sana.

Setelah menyimpan barang di hotel, kami berjalan kaki menyusuri kota. Mencari tahu apa yang dilakukan oleh penduduk Christchurch di malam Natal, serta mencari tahu bagaimana rasanya merayakan Natal di negara yang memiliki perbedaan waktu +6 jam dengan Indonesia bagian Barat.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Namun matahari belum juga tenggelam. Dingin pun semakin menusuk tulang. Segerombolan orang kami lihat berjalan menuju Hagley Park yang berada tak jauh dari hotel kami. Rupanya akan ada acara malam Natal disana. Kami pun mengikuti mereka. Beberapa tenda tampak sudah didirikan di arena utama dekat pohon Natal. Bukan pohon natal sungguhan, melainkan lampu-lampu yang dibentuk menyerupai pohon Natal.

Sepertinya acaranya akan berlangsung semalam suntuk. Tapi berhubung baju hangat yang kami gunakan belum mampu menangkis dinginnya udara yang semakin malam semakin dingin itu, kami pun terpaksa angkat kaki. Suami saya, sih, sebenarnya masih sanggup melawan dingin. Kalau saya sudah pasti akan membeku jika disitu terus sepanjang malam 😀 . Sayang memang melewatkan pengalaman malam Natal di sana. Tapi setidaknya saya masih merasakan jejak kesederhanaan Kristus yang tertinggal di kota yang secara harfiah bermakna “Gereja Kristus” itu.

 

 

 

 

Tips:
Advertisements

27 thoughts on “Christchurch

  1. Mess…. going to NZ is my dream (duhh orang mah ke yurep yak) pokoknya This is one of my bucket list… dan kamu kapan perginya sih ini mess? Huhuhu nabung nabungggg

    Like

  2. Wah kamu ke Southern island ya… Waktu itu aku ke Northern island. Btw Desember itu di NZ summer tapi tetep dingin aja. Deket kutub sih yaaa. Hahahaha

    Like

  3. Wihhh bagus bangeeet… kalau ngeliat Foto bagusnya, ndak banyak yang nyangka kalau di kota ini pernah rusak krn gempa.hehe.. aku kok malah punyanya peta gempa en luquifaksi di kota ini siih. Padahal foto bagus banget yaa…suasananya seperti di oud Rekem perbatasan Belgium-German-NL tuh mbak… kereeen kereen…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s