Ulos Batak

Sebagai Batak KW 2 (Batak ecek-ecek/pura-pura Batak/ngakunya Batak), saya tidak begitu paham apa saja yang menjadi kewajiban maupun hak kami dalam pesta maupun hajatan orang Batak. Hingga suatu hari kami diundang oleh dongan sabutuha* (teman semarga) kami menghadiri pesta pernikahan putrinya. Saya tak tahu entah harus membawa apa ke acara tersebut. Apakah membawa ulos* (kain tradisional Batak) atau beras?

Kebakaran jenggot, saya pun bertanya kepada anggota keluarga saya yang khatam tentang adat Batak.

Menurut mereka, kami harus membawa ulos dan juga beras πŸ˜€ . Ulos yang diberikan pun tidak boleh sembarangan. Apakah itu ulos ragidup, ragihotang, sibolang, atau ulos sadum, dlsb. Untuk beras pun ada ketentuannya juga πŸ˜€ . Beratnya beras yang dibawa tidak boleh seenak perut kita πŸ˜€ . Apakah sepuluh, lima atau tiga kilogram πŸ˜€ .

Membawa beras ini pun tidak sembarangan. Nggak kayak timbang beras lalu masukkan dalam plastik dan berikan ke yang punya hajatan πŸ˜€ . Nantinya ia akan dimasukkan ke dalam tandok* (karung yang terbuat dari anyaman pandan).

***

Kembali ke ulos. Asal muasal kata “ulos”, menurut cerita dari orang-orang tua dalam buku T.M Sihombing yang berjudul Filsafat Batak (Balai Pustaka, 1986), zaman dulu ketika anak-anak merasa kedinginan, mereka tidak diam saja. Anak itu mengeluarkan suara bergumam yang mirip bunyinya kepada bunyi U-panjang yang bergetar. Ketika anak itu melihat ibunya mendekat, maka setelah bunyi U yang bergetar itu, si anak berusaha mengeluarkan kata “las”*, untuk meminta ibunya agar memberikan sesuatu yang dapat memberi panas. Las artinya panas.

Tapi karena si anak bergumam dan sukar membuka mulutnya gara-gara kedinginan, maka lafal “las” kedengaran “los”. Sehingga yang keluar dari mulutnya seperti, “Uuuullloooss…” Dan ibu yang kasihan melihat anaknya itu mengambil kain atau kulit kayu yang telah diolah menjadi kain dan memberikannya ke anaknya sambil berkata, “Ya, sayang, inilah ulos untukmu.” Dengan demikian, muncullah kata “ulos”.

Nyata dari cerita tersebut bahwa fungsi ulos awalnya adalah untuk memberi panas bagi tubuh.

***

Belakangan ini terbersit keinginan kami untuk membawa ulos agar bisa diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Tidak hanya digunakan ke acara-acara khusus. Misalnya dibikin jadi tas, kemeja, rok, celana, dll. Intinya dibikin supaya lebih “membumi”, lebih ngepop serta menjangkau anak-anak muda πŸ˜‰ Kita lihat saja nanti bagaimana jadinya πŸ˜€ .

Well, how about you dear friends, sebaik apa Anda mengenal kain tradisional Anda?

Oya temans, untuk yang mau ikutan turnamen foto perjalanan ronde 41, temanya wastra atau kain tradisional. Lebih lanjut, cek infonya di sini πŸ™‚

***

*Bahasa Batak

Advertisements

23 thoughts on “Ulos Batak

  1. MS says:

    Messa, koleksi ulos nya cantik2….
    kk juga nggak tau banyak tentang ulos…, di tempat kakak ulos nggak banyak jenisnya…,
    ortu pernah kasih ulos jenis paroppa sadun pas kelahiran anak pertama, ini ulos untuk gendongan

    Like

  2. Ailtje Binibule says:

    Kemaren aku lihat mas2 di inacraft pakai ulos yang dijadikan celana pendek, keren! Aku lagi belajar tentang batik dan motif serta maksud di balik motif itu. Wah ternyata susaaaaah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s