Now You See Me

Pertama kali menontonnya di layar tancap bioskop, saya terpukau oleh keglamoran yang ditawarkan film ini. Seolah menonton pertunjukan sulap yang canggih, keren dan maknyus 😀 . Namun di kali ke dua menontonnya di rumah, saya semakin melihat inti yang mau diceritakan si sutradara film Louise Retterier ini.

Now You See Me intinya adalah balas dendam yang dibungkus dalam suasana surreal.

Balas dendam berarti Anda tidak dapat menerima masa lalu Anda. Anda belum ikhlas dan Anda belum berdamai dengan masa lalu Anda.

Padahal untuk dapat melanjutkan hidup dalam damai sejahtera, Anda harus memaaafkan masa lalu Anda dan berdamai dengannya. Apapun yang telah terjadi di masa lalu, biarkanlah. Masa lalu tidak bisa lagi diubah. Namun Anda bisa memilih hari ini untuk memaafkannya dan melanjutkan hidup dalam damai sejahtera.

Balas dendam hanya memberikan rasa senang/puas/aman yang sifatnya sementara. Lalu setelah itu apa? Anda takkan pernah puas, jika “akar” dendam itu belum diputuskan.

Dan jika Anda membalaskan dendam itu kepada seseorang yang telah menghancurkan hidup Anda, Anda sama saja menjadi seperti orang yang telah menghancurkan hidup Anda itu. Tidak ada bedanya. Anda tidak lebih baik daripada orang yang menghancurkan hidup Anda itu.

***

Balas dendam tidak akan membawa Anda kemana-mana. Anda hanya berputar-putar di sekitar dendam kesumat Anda itu. Tapi memaafkan akan membawa Anda keluar dari “akar” dendam.

Jika Anda tidak senang dengan seseorang yang telah menghancurkan hidup Anda, menurut saya tak perlulah Anda bikin strategi hingga dua puluh tahun kemudian untuk membalas dendam. Sayang sekali waktu Anda terbuang selama berpuluh tahun hanya untuk memikirkan bagaimana cara membalaskan dendam Anda.

Saran saya, maafkan saja dan jauhkan langkah dari mereka. Kalau pun kebetulan bertemu atau berpapasan, sapa saja seperlunya.

Memaafkan akan membebaskan jiwa anda. Dendam akan membelenggu jiwa anda.

***

Saya pernah berkonflik dengan tetangga gara-gara menggunakan mesin cucinya. Seharusnya saya menggunakan mesin cuci saya. Namun karena kami tinggal di rumah susun (rusun) yang mesin cucinya harus berbagi dengan tetangga, maka saya pakai mesin cuci tetangga saya yang berada satu lantai di bawah rusun saya.

Waktu itu kami baru pulang mudik dan cucian banyaaak banget. Tidak bisa selesai dalam satu hari. Kalau saya tungguin tetangga saya selesai nyuci, bisa-bisa pakaian saya sudah pada busuk. Akhirnya karena saya lihat mesin cuci di lantai bawah kosong, tidak ada yang pakai, saya putuskan mencuci di situ.

Beberapa hari saya gunakan mesinnya, semua lancar tidak ada hambatan. Di hari berikutnya, saya lihat ada yang menempel kertas dengan kalimat peringatan, “Mesin cuci ini hanya untuk penghuni rusun A & B. Jika aturan ini dilanggar, akan saya lapor ke pihak berwenang.”

Selidik punya selidik, rupanya tetangga baru yang di bawah yang menulis surat cinta peringatan itu.

“Yaelah, ini orang yang nulis kayak nggak pernah hidup susah saja. Masak gara-gara mesin cuci aja mesti dilapor-lapor. Lagian ini juga, kan, karena darurat… Kurang kerjaan banget… ” kata saya dalam hati. Tapi hari itu tak saya hiraukan peringatannya itu.

Kira-kira sejam kemudian, saya kembali ke ruangan mesin cuci untuk memeriksa cucian. Rupanya si penulis peringatan pun berada di sana. Maka ketahuan lah kalau saya yang memakai mesin cuci yang memang “jatah”nya. Ia pun ngamuk dan berbicara dengan nada tinggi kepada saya. Saya jelaskan dengan jujur dan tenang kenapa saya berbuat begitu.

Terus terang saja saya katakan bahwa cucian saya banyak dan tetangga saya juga cuciannya banyak. Mesin cuci hanya satu di tiap lantai. Saya lihat mesin di bawah tidak ada yang pakai, dan dia tidak punya tetangga lain untuk berbagi, makanya saya berani mencuci disitu.

Tapi dia tidak mau menerima penjelasan saya itu. Padahal saya sudah minta maaf, jika dia tidak berkenan atas perbuatan saya itu. Dia ngotot mau melaporkan saya ke pihak berwenang. Akhirnya saya bilang, “Oke, silahkan.” Cucian saya jadi terbengkalai gara-gara insiden itu.

“Kalau tidak bisa diselesaikan secara baik-baik, ya, laporkan sajalah”, kata saya dalam hati. Lagipula alasan saya masuk akal, koq.

Beliau ini masih “new kid on the block” alias orang baru di rusun itu. Sebagai “anak baru”, sebaiknya pelajari dululah lingkungan baru. Bukan langsung “gedebak-gedebuk” kalau ada yang kurang sesuai dengan peraturan. Kompromi sedikit keq dengan tetangga yang sedang sangat membutuhkan mesin cuci… Ini, belum apa-apa sudah mau main lapor sana lapor sini…

***

Setelah beberapa waktu memerhatikan tingkah si “anak baru” ini, akhirnya saya mendapat kesimpulan bahwa ia memang berkepribadian temperamental. Akhirnya saya pun mengerti mengapa tempo hari ia begitu marah kepada saya, “hanya” gara-gara insiden mesin cuci.

Lantas apakah saya membalas dendam terhadapnya setelah apa yang ia lakukan kepada saya tempo hari? Ya, nggak, dong. Sayang banget waktu saya terbuang jika hanya untuk membalas dendam kepadanya. Kalau kebetulan saya bertemu dengannya, dia memalingkan pandangannya dan tidak menyapa saya. Padahal saya sudah siap-siap mau menyapa dia.

Saya, sih, sudah melupakan peristiwa itu. Buat apa juga saya pendam-pendam dalam hati 😀 . Masih banyak urusan lain yang lebih penting yang perlu di pendam dalam hati 😀 . Kalau soal mesin cuci, kecil itu mah 😀 .

Satu hari, saya bertemu dengannya. Entah ada angin apa, dia menegur saya dengan hangat. Saya pun membalasnya dengan manis bercampur heran dan tak kalah hangat 😀 . Sepertinya “dinding pemisah” yang selama ini dibangunnya terhadap saya sudah runtuh 😀 .

***

Kira-kira dendam itu ya seperti itu. Anda-lah yang malang jika memelihara dendam. Namun kalau anda melupakan dan memaafkan, hidup akan terasa enteng 🙂 . Lagipula, setiap orang akan menuai sesuai dengan apa yang ditaburnya 🙂 . Jadi nggak usah repot-repot balas dendam 🙂 .

***

Lalu apakah film Now You See Me tidak saya rekomendasi untuk ditonton? Well, menurut saya, gunakanlah kreatifitas Anda untuk hal positif 🙂 . Sayang sekali kreatifitas si Dylan digunakannya hanya untuk melampiaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah menghancurkan hidup Ayahnya. Tapi emang zaman sekarang film-film yang laris manis di pasaran adalah yang bergenre balas dendam sih, ya? 😀

(sumber foto: http://www.bubblews.com)

Advertisements

12 thoughts on “Now You See Me

  1. wah ira kadang untuk legowo memang susah, kadang rasa dendam itu datang kadang wajar asal jangan berlarut, namun ada juga beberapa orang yang tidak mudah memaafkan

    Like

  2. emang sebaiknya jangan dendam2 ya karena itu merugikan diri sendiri, bikin kesel2 sendiri ya…
    btw gua suka banget ama film now you see me. 🙂

    Like

    1. filmnya memang keren koh, ceritanya berjalan cepat. makanya sampe dua kali kutonton 😀 tapi ya itu, di kali ke dua baru sadar kalau intinya tak lain tak bukan tentang balas dendam 😀

      Like

  3. Aku termasuk yg suka film ini, Mes. Bukan di bagian balas dendamnya sih, cuma suka aja sama pemain2nya yg ketje, dan efeknya yg lumayan. *alasan yg dangkal* 😆
    Benerrrr… nyimpen dendam itu sama dgn nyimpan penyakit hati, lama kelamaan akan menggerogoti sisi manusiawi kita. Aih, jangan dong yaaaa…

    Like

  4. Aku nonton sama hubby juga di TV channel apa DVD ya pokoke pas di Medan , Mes lagi liburan Natal kemarin. Aku sukaaaaaa efeknya bagus, dan alur ceritanya cepet gak sempet bosen dan bikin mengira-ngira. Tapiiiii iyaaaa, aku di akhir cerita setelah ngeh itu balas dendam malah ilfil sama tokoh utamanya ahahahaha, maksudku, aduh tadinya nge-fans sama cowok cuek dan mungkin sedikit kekelaman masa lalu, lah ini kok macam jatuh cinta sama cowok yang HIDUP di masa lalu atau menghidupi masa lalunya ihik

    Liked by 1 person

  5. Suka bener film ini 😀 hihih

    Ehh.. Iya ngapain dendam yah? orang qt taruh dendam enak2, bisa tidur malah kitanya yg gmn2 ya kan.. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s