Once Upon a Time in Bali

Sesampainya di bandara Ngurah Rai Denpasar, saya seolah tak percaya kalau saat itu saya sungguh-sungguh sudah berada di Bali. Seperti mimpi saja rasanya, akhirnya bisa menjejakkan kaki di pulau yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui televisi, internet, koran, majalah, dll.

“Oh, begini rupanya rasanya bisa mendarat di pulau yang menjadi primadona pariwisata Indonesia ini…” kata saya dalam hati mengomentari pulau yang oleh sebagian besar wisatawan asing lebih dikenal daripada negara induk tempatnya berada, Indonesia.

***

Plin-plan

Perjalanan saya bukannya tanpa hambatan. Kepergian saya nyaris batal gara-gara kebijakan pemerintah yang plin-plan di tahun 2008 itu.

Dulu pemerintah punya kebijakan untuk menambah hari libur jika ada hari libur resmi yang ‘kejepit’ dengan akhir minggu atau awal minggu. Misalnya kalau hari libur Imlek jatuh di hari Kamis atau Selasa, maka hari Jumat atau Senin, ikut diliburkan. Kalau saya tidak salah, dulu tujuan pemerintah membuat kebijakan “cuti bersama” itu adalah untuk menggalakkan pariwisata Indonesia.

Namun pemerintah waktu itu dikritik karena banyaknya “cuti bersama” membuat Indonesia di cap sebagai bangsa pemalas. Satu minggu sebelum saya berangkat, pemerintah (yang merasa kupingnya sudah panas mendengar kritikan-kritikan tersebut), akhirnya memilih untuk mengganti kebijakannya. Tidak akan ada cuti bersama pada hari raya Imlek yang jatuh pada hari Kamis, bulan Februari 2008.

Saya pun gondok berat. Padahal tiket pesawat pergi-pulang Medan-Denpasar sudah di tangan. Tidak pergi berarti tiketnya hangus. Uang tidak kembali. Pak Bos yang sudah mendengar rencana saya itu pun mengingatkan kami pegawainya, bahwa tidak ada cuti bersama. Dan itu artinya, semua pegawai harus hadir pada hari Jumat setelah libur Imlek.

Membayangkan uang hasil keringat saya yang sudah saya belikan tiket pesawat itu terbakar hangus gara-gara sikap pemerintah yang plin-plan, saya memilih untuk tidak mundur dan tetap terbang ke Bali. Apa pun resikonya.

Lagipula uang saya bukan uang panas. Saya bukan miliuner yang uangnya bisa datang sendiri meskipun tidak dipanggil. Pemerintah tidak tahu dan tidak mau tahu kalau saya sudah capek kerja banting tulang demi pergi ke Bali. Dan, belum tentu akan ada lagi kesempatan seperti itu di masa mendatang. Makanya saya tetap pada rencana saya semula.

Di hari-H, saya berangkat dengan Adam Air dari Medan dan transit di Jakarta. Saya liburan dengan seorang teman. Dia berangkat dari Jakarta dan kami berjanji bertemu di bandara Ngurah Rai.

***

Penginapan

“Kita berangkat saja dulu. Kalau mengenai penginapan mah banyak di Bali. Ntar aja kalau udah nyampe disana baru kita cari,” jelas saya meyakinkan teman seperjalanan yang juga perempuan itu. Dulu saya belum kenal dengan yang namanya agoda, booking, asiarooms atau layanan reservasi penginapan lainnya. Tapi saya yakin, pastilah tak sulit menemukan tempat menginap di pulau yang notabene ikon pariwisata Indonesia ini.

Dan benar saja, di Ngurah Rai, seorang sopir taksi menyapa kami dengan ramah dan bertanya kemana tujuan kami, dimana penginapan kami, dlsb. Dengan jujur kami memberitahu si Bli (panggilan untuk pria di Bali -red), bahwa penginapan kami belum ada dan kami maunya menginap di daerah Kuta saja. Soale cuma itu nama tempat yang sangat familiar di kepala kami yang baru pertama kali melancong ke Bali itu 😀 . Selain itu, juga gara-gara lagunya Andre Hehanusa yang berjudul “Kuta Bali”, sudah begitu terpatri di hati, makanya Kuta menjadi pilihan hihihii 😀 .

Bli pun membawa kami ke salah satu penginapan di Kuta yang sesuai dengan kantong kami. Penginapannya menyediakan sarapan pagi dan tak jauh dari pantai Kuta. Uhuy 😀 . Dan si Bli pun setuju menjadi pemandu kami selama berlibur disana 😀 . Problem solved 😀 :mrgreen:

sarapan

sarapan

***

Cuaca Tak Bersahabat

Kami meminta Bli membawa kami ke tempat wisata dan pusat oleh-oleh yang wajib dikunjungi di Bali. Tanah Lot, Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana (GWK), Pura Besakih, Danau Batur, pantai Sanur, Joger dan pasar Sukowati adalah beberapa tempat yang kami sambangi. Saat itu pariwisata Bali baru bangkit kembali setelah terhempas akibat peristiwa bom tahun 2002 dan 2005. Dan entah kenapa, selama di Bali, cuaca kerap tak bersahabat kepada kami. Selalu mendung dan hujan. Tidak seperti harapan saya 😀 . Jujur saja, saya memang berharap banyak pada Bali waktu itu. Saya berharap akan menemukan langit yang biru serta pantai dengan sunset yang spektakuler, seperti yang ditawarkan di brosur-brosur perjalanan 😀 .

Tapi rupanya hanya mendung dan hujan itulah “jatah” yang bisa saya dapatkan dulu 🙂 . Dan justru di hari kepulangan kamilah baru hujannya reda dan langit biru muncul menggantikan awan hitam yang sudah berhari-hari menggantung di Bali 😀 . Nasib oh nasib hahahah.. Tapi tak mengapa, itulah resikonya bertualang, tak ada satu pun yang bisa menjamin Anda akan memperoleh suasana persis seindah seperti di brosur perjalanan 😀 .

Foto dibawah ini satu-satunya sunset tercantik yang saya dapatkan di Kuta. Itu pun sudah diutak-atik sedikit di sana-sini hingga sesuai menjadi sunset seperti yang saya inginkan 😀 *tetep usaha*

two alone - Kuta beach sunset

two alone – Kuta beach sunset

Meski begitu, ada beberapa hal yang patut saya acungi jempol untuk Bali kala itu.

  • Pertama, mereka tidak meninggalkan tradisi. Selama disana, saya perhatikan, setiap pagi baik pria maupun perempuan pergi ke satu sudut dan meletakkan sesajen di sana seraya berdoa. Di sudut jalan, di depan pintu masuk penginapan dan tempat lainnya, pun saya kerap melihat sesajen. Intinya sesajen ada dimana-mana di seluruh Bali. Pura beserta gapura yang berukiran indah pun bertebaran dimana-mana. Sungguh bukan pemandangan yang bisa saya lihat sehari-hari di kota Medan.
  • Kedua, ada sinergi antara pemerintah dan rakyat. Rakyatnya manut kepada pemerintah. Kenyataan itu membuat saya berpikir, “Coba kalau di Samosir sana pemerintah bersinergi dengan rakyat, mungkin pariwisatanya akan bangkit secemerlang atau mungkin lebih cemerlang dari Bali.” Ini yang terjadi, orang Batak di Samosir sana semuanya “anak raja”, makanya susah diatur dan diperintah 😀 . Soale semuanya mau jadi pemimpin 😀 . I mean it 😀 . Including me huahaha…
  • Ketiga, saya perhatikan tidak ada bangunan yang tingginya melebihi dua lantai. Menurut Bli, si pemandu kami, hal itu adalah kebijakan pemerintah Bali. Tiap bangunan ada standarnya. Saya tidak tahu apakah sekarang peraturan ini masih diterapkan atau tidak.
  • Keempat, tidak ada angkot yang berseliweran yang membuat kota menjadi semrawut nggak jelas seperti di Medan 😀 . Mereka pakai motor kalau mau kemana-mana. Apakah sekarang masih seperti itu?

***

Saya pernah mengatakan “tidak suka” sama Bali kepada seorang teman blogger beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya alasannya adalah karena: (1). Bisa jadi karena saya tidak mendapatkan apa yang saya harapkan dulu sehingga sampai sekarang saya tidak begitu antusias jika diajak ke Bali; (2). Mungkin karena saya ini kurang suka jika “harus” kembali lagi bertualang/liburan ke tempat yang sudah pernah saya datangi. Menurut saya masih banyak tempat wisata yang menunggu untuk dieksplor diluar sana. So, itulah alasan saya untukmu Jo, yang telah mengirimkan oleh-oleh kalung unik dari Bali untuk saya 🙂 . I like wearing them :D. Thank you so much 🙂

Oya, terakhir, menurut si Bli, jika ingin melihat Bali dalam “penampilan terbaiknya”, sebaiknya datanglah di atas bulan Mei. Menurutnya itulah waktu terbaik untuk mengunjungi Bali.

Selamat berlibur untuk yang mau liburan dan selamat menyambut hari Raya Nyepi untuk yang merayakan Nyepi.

Enjoy the pictures!

Pura Besakih

Pura Besakih

Padma at GWK

Padma at GWK

Balinese

Balinese

turis  di pantai Kuta

Aku & Payungku – turis di pantai Kuta

6 gunung agung

Gunung Agung

7 sawah hijau

Sawah Hijau

8 sanur beach

Pantai Sanur

danau batur

Danau dan Gunung Batur

 

Advertisements

22 thoughts on “Once Upon a Time in Bali

  1. joeyz14 says:

    Ahhh messa…..akhirnya dicritain… tp itu hak setiap orang kok mess utk suka atau tidak suka pd sesuatu. Kk iparku ga suka bali karna katanya panas banget… haahha
    Glad that u like my oleh2…..
    Btw skrng Bali makin padet mess….tp aku ttp suka :))

    Like

  2. sondangrp says:

    Mes kakak iparku yg tinggal di belanda blg slama ini keliling eropa dan udah ke bali jg, dia ngerasa danau toba dan samosir lebih kece, tp ya ituuuu sdm nya kacrut, emang takada jiwa melayani. Bali itu totalitas pariwisata deh, bahkan pedesaanpun bisa jadi objek wisata

    Like

  3. nyonyasepatu says:

    Aku tetep gak pernah bosen ke Bali. Taon 2008 ada sekitAr 22 kali aku kesana. Mulai dr naik bis, travel, kereta sampe pesawat semua dijabanin hihi. Skr kejauhan dari Medan, jd ke Samosir ajalah gak bosen2, Mes

    Like

    • Messa says:

      masalahnya waktu itu jatah cutiku udah habis koh, gak ada lagi yang mau dipotong cuti 😀 makanya aku nyari liburan yg ada hari kejepitnya gitu 😀

      Like

  4. Ailtje Binibule says:

    Aku dari kecil sampai sekarang selalu menghabiskan liburan di Bali, soalnya dari Malang deket. Kalau sekarang dari Jakarta nggak deket lagi, tapi daripada liburan ke Singapura mendingan ke Bali aja.

    Btw koreksi, bangunan tinggi di Bali bukan nggak boleh dua lantai, tapi nggak boleh melebihi pohon kelapa, kalau gak salah 15 M. Kondisi Bali, Bali Selatan, menurutku memprihatinkan. Terlalu padat, terlalu ramai, macet. Pembangunan yang selatan sama utara nggak berimbang sama sekali. Soal angkot, mereka nggak seliweran karena dunia angkot di Bali mati. masyarakat Bali lebih suka pakai motor.

    Ayo ke Bali lagi, lihat sisi lain Bali, jangan ke Kuta deh. Ke Ubud dan ke Singaraja aja!

    Like

  5. dedy oktavianus pardede says:

    Tanah surga buat para pemakan babi, hehehe…
    yg paling berharga dr Bali itu kearifan lokalnya, mrk bs bergaul dgn seluruh orang dr penjuru dunia tp identitas mereka sbagai orang Bali tidak pernah lepas, ini yg membuat Bali jd spesial

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s