Wake Up, You Create Your Own Problem

Seorang Ibu yang juga perempuan karir, mengeluhkan keadaannya (yang tidak bisa senantiasa menjaga anaknya), di akun media sosialnya. “Andai mama bisa menjagamu setiap waktu, Nak,” kicaunya.

Di tempat lain, juga seorang Ibu, yang sudah punya empat anak, mengeluhkan keadaannya kepada temannya karena kemungkinan besar ia hamil anak yang ke-5.

“Aduh, Say (sayur mungkin maksudnya πŸ˜€ ), aku hamil lagi. Baru beberapa hari ini ketahuan. Padahal anakku masih kecil-kecil dan baru saja aku melahirkan anak ke empat. Duuh.. Pusingnya… Gimana, ya… Pengen tak gugurin aja deh… Atau kasih ke kamu aja kali, ya…?”

Teman saya, yang kurang suka mengeluh dan kurang suka mendengar keluhan itu, berkata dalam hati, “Buset dah, ngasih apaan?? Enak aja… Kalau lo nggak mau hamil lagi, kenapa nggak lo tutup aja “pabrik” lo? Atau kalau lo nggak mau hamil lagi dan nggak mau KB, ya lo jangan berhubungan suami-istri lagi dong sama suami lo. Sekarang giliran udah hamil, baru deh ngeluh. Maunya apa, sih?”

Sementara di suatu tempat di Samosir sana, Ucok bersama temannya Togar, berjumpa dengan dua turis asing perempuan yang sedang berlibur di kampung mereka.

“Asal kalian berdua dari mana?”

“Kami dari Amerika.”

“Apa pekerjaan kalian?”

“Kami berdua guru.”

“Wah… Hebat sekali.. Pekerjaan kalian “cuma” sebagai guru, tapi koq bisa berlibur ke tempat sejauh Samosir ini? Pasti gaji kalian besar sekali, ya?”

“Well, kami menabung dan belum menikah…”

“Saya juga guru. Sudah menikah. Tapi karena penghasilan saya dari guru itu kecil, maka sepulang mengajar, saya bertani di sawah. Gitu pun, penghasilan saya sepertinya belum juga cukup untuk memberi makan anak istri saya. Apalagi pergi berlibur seperti kalian berdua,” keluh Togar.

“Memangnya anakmu berapa?” tanya si turis asing.

“Anakku sembilan….”

“Wow.. You create your own problem! Masalahmu kau ciptakan sendiri!” seru si turis takjub.

“Sudah tahu pekerjaanmu sebagai guru bergaji kecil, koq bisa-bisanya kamu bikin anak sebanyak sembilan orang??? Gimana kamu ngasih makan mulut sebanyak itu?? Kenapa kamu nggak ber-KB??” sambung si turis yang satu lagi kepada Togar.

Si Togar, yang masih memercayai pepatah: banyak anak banyak rezeki, kesal dengan omongan turis itu. Ia pun berseru juga keras-keras dalam bahasa Batak, supaya si turis tidak mengerti artinya.

“Dabu ma akkora on!!!”Β Terjemahan bebasnya: ke laut aja lah cewek-cewek ini!!!

wake up you create your own problem

Memang manusia sendirilah yang menciptakan masalahnya. Karena itulah kebanggaan kita. Kalau nggak ada masalah, nggak ada yang mau diceritain πŸ˜€ Kalau nggak ada masalah, nggak ada perjuangan. Benar, kan?

Dan dalam tiap keputusan yang kita ambil, pastilah ia memiliki konsekuensi/dampak/efek. Ketika kita tidak bisa menerima atau menghadapi konsekuensi-konsekuensi tersebut, di sinilah muncul masalah, yang cenderung membuat manusia mengeluh alih-alih mencari solusi.

Pada kasus Ibu yang pertama, ia tak mampu menerima konsekuensi dari pilihan hidupnya yang memutuskan tetap berkarir meskipun sudah mempunyai anak. Ia pun mengeluh.

Di kasus yang kedua dan ketiga, Ibu yang satu itu beserta Togar si guru, pun tak mampu menghadapi konsekuensi dari keputusan mereka untuk tidak ber-KB. Mereka juga mengeluh.

Punya masalah itu wajar. Tapi kalau boleh, tak perlulah mengeluh. Sekali dua kali, mungkin teman masih mau “mentolerir” keluhan Anda itu. Tapi setelahnya, panas juga mungkin hati dan telinganya mendengar Anda mengeluh melulu.

Mengeluh bukan solusi. Mengeluh itu, entah dimana pernah saya baca, hanya memperpendek umur katanya. Apalagi kalau disertai menyalahkan kambing hitam. Sudah terlalu banyak kambing hitam disalahkan. Sekali-sekali salahkan kambing merah, dong. πŸ˜€ Atau lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda keluar dari masalah Anda tersebut.

Saya teringat kepada salah satu adegan dalam film Devil Wears Prada, dimana Andrea si anak baru yangΒ curriculum vitae-nyaΒ mengagumkan, mendatangi Nigel temannya dan mengeluh bahwa nampaknya semua yang dilakukannya tak ada yang benar-benar memuaskan di hadapan Miranda bosnya, sang editor kejam.

Alih-alih menenangkan Andrea yang mengeluh, Nigel justru menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya. Menurutnya ia bisa mencari gadis lain (yang benar-benar mau bekerja), hanya dalam lima menit.

Tentu saja Andrea terkejut. Dia tidak bermaksud begitu. Nigel pun meneruskan wejangannya.

“Andrea, be serious. You are not trying. You are whining. What is it that you want me to say to you, huh? Do you want me to say, “Poor you. Miranda’s picking on you. Poor you”?

She’s just doing her job. Don’t you know that you are working at the place that published some of the greatest artists of the century? Halston, Lagerfeld, de la Renta. And what they did, what they created was greater than art because you live your life in it.

Bla bla bla bla bla…… And what’s worse, you don’t care. Because this place, where so many people would die to work, you only deign to work. And you want to know why she doesn’t kiss you on the forehead and give you a gold star on your homework at the end of the day. Wake up.”

Andrea pun bangun dan pada akhirnya ia berhasil menaklukkan masalahnya, pekerjaannya, serta bos kejamnya itu.

Kalau Anda ingin menjaga anak Anda, kenapa tidak Anda tinggalkan pekerjaan Anda atau bekerja dirumah? Anda harus membuat keputusan.

Kalau Anda tetap memilih untuk tidak meninggalkan pekerjaan Anda, dan anak nggak mau bisa Anda jaga, nggak usah berandai-andailah di media sosial kalau Anda ingin menjaga anak Anda. Fokus saja ke karir Anda. Atau jangan punya anak sekalian. Kasihan anak Anda itu menjadi korban andai-andai Anda.

Keputusan ada di tangan Anda. Ambil dan lakoni. Dan sebelum mengambil keputusan, sebaiknya Anda pikirkan dululah dengan matang menggunakan akal sehat, agar tak muncul penyesalan maupun keluhan di masa mendatang.

Wake up!

 

 

 

 

 

Advertisements

29 thoughts on “Wake Up, You Create Your Own Problem

  1. Kayaknya merencanakan hidup belum jadi bagian hidup deh. Orang suka menjalani aja seperti air. Tapi biaya pendidikan anak kalau sampai sembilan gitu dapat di aliran air yang manaaaaa

    Like

  2. Setuju, manusia emang kadang suka cari2 masalah sendiri. Misalkan udah tau punya anak itu biayanya gak sedikit ya gausah dibikin lagi gitu ya.. Giliran udah ada nantinya malah ngeluh2 hmmm.. Thanks for the reminder mbak messa πŸ˜€

    Like

  3. Mengeluh ini temannya org yg gak pernah puas dan bersyukur jadi begitu deh. Belajar dr masa lalu (mantan) dan ternyata emang enak menjalani hidup dgn penuh rasa syukur dan menurutku biarkan aja mengalir tentunya setelah kita membuat bendungan2 di titik2 tertentu dlm hidup kita, karena manusia gak selalu bs hidup sesuai dgn apa yg udh direncanakan, takutnya ntar meleset dr rencana bs2 mengeluh lagi deh πŸ˜”

    Like

    1. Memang betul, seperti yg kutulis mbak, keputusan apapun yg kita ambil dlm hidup ini pasti ada konsekuensi yg harus dihadapi. Salah satunya seperti yg mbak bilang: meleset dari rencana. Makanya jika meleset dari rencana kita pikirkanlah plan B atau cari solusi instead of mengeluh πŸ™‚

      Like

  4. yah abisnya kalo gak mengeluh gak puas haha. aduhhh postingan ini berasa nampar aku, Mes πŸ™‚ . AKu kan masih belon bisa terima loh balik lagi ke Medan ini, pokoknya aku sebel banget hahaha

    Like

  5. Reblogged this on .ndutyke and commented:
    bener banget. mengeluh dan berandai-andai sekali dua kali oke lah. tapi kalo sering, tiap hari fokusnya ke keluhan dan andai begini andai begitu…… duh yg dengernya aja capek loh. if you dont like something, change it. if you cant change it, then change the way you think about it. deal with it. reality bites. well thats life, hahaha πŸ˜€

    Like

  6. Super setuju Mes πŸ˜€ Hidup itu harus diperhitungkan biar gak menimbulkan keluhan kelak πŸ˜€

    Lagian gw juga kurang suka emang denger orang ngeluh tiap hari, rasa2nya kalo kita tau dan sering mengucapsyukur keluhan itu bakal menjauh yah πŸ™‚

    Like

    1. iya Py. eh tapi emang banyak koq manusia di dunia ini yg nama tengahnya adalah “tukang keluh”. dikasih yg bagus, ngeluh. dikasih yg jelek, juga ngeluh πŸ˜€ gue aja bingung, apalagi sang Pencipta kita ya hahaha πŸ˜€

      Like

  7. wadoh, ini postingan inang2 batak kali kak, hahaha
    satu kalimat yg bs menjelaskan hal ini semua “it’s human being!”
    klo boleh oot dikit, aku juga suka sebel sama pasien askeskin, udah tau miskin masih merokok lagi, klo mau berobat msh pake claim dr pemerintah, trus klo ada obat yg gak ditanggung pemerintah pada ngeluh nyalahin pemerintah, pdhl masalah kesehatannya mrk ciptain sendiri…

    Like

  8. bener juga ye. gw banged ni, suka ngeluh2 ga jelas ke suami (trutama soal anak), sbenernya gw ga ada maksud minta solusi sih, cman sekedar curhat biar plong hahaha. walo gw tau yg dicurhatin rada sebel. tapi yah drpd curhat di sosmed yg diliat seluruh dunia? wkwkwk

    Like

    1. kalau curhatnya ke pasangan sendiri gak apa2 dong mbak πŸ™‚ asalkan jangan di sosmed πŸ˜€ yang baca capek hati haha πŸ˜€ btw, thanks for coming ya πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s