Dentist Chef: Culinary was My First Crush

Saya selalu terkesan dengan mereka para pemasak handal yang bisa mengubah bahan makanan mentah menjadi hidangan masterpiece yang disajikan dengan begitu indahnya layaknya karya seni di dalam piring. Untuk itu, tamu spesial kita pada wawancara bulan Maret ini adalah Dedy Oktavianus Pardede, atau yang sering kita kenal di blog masak-memasaknya dengan sebutan Dentist Chef.

Dedy saat ini adalah mahasiswa tahun terakhir di kedokteran gigi Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang.

Simak petikan wawancara kami berikut ini:

  • Anda mahasiswa kedokteran gigi, tapi koq bisa tertarik dunia masak memasak? Bagaimana ceritanya itu?

Well, sebenarnya suka masak sudah dari lama. Dulu waktu kecil tiap weekend biasanya masak bareng nyobain resep baru sama mama, papa dan kakak-kakak. Terus dulu waktu kami masih kecil, mama tiap lebaran biasanya menerima pesanan cake. Jadi sebenarnya lingkunganku membuatku terbiasa dengan dunia dapur. Aku secara pribadi menganggap kalau kuliner ini lebih sebagai passion daripada hobi. Karena hobi biasanya terkikis dan bisa berubah seiring dengan waktu.

Aku baru sadar karena dulu waktu masih kecil aku hobinya mancing, nyari belut dan ikan ke sungai kecil diluar komplek rumah. Terus agak besar punya hewan peliharaan. Ikan, burung, dll. Beranjak dewasa beralih ke video game, basket, dll. Tanpa disadari seiring berjalannya waktu, aku bosan dengan semuanya itu kecuali dunia kuliner dan masak-memasak. Jadi jauh sebelum aku mengenal dentistry, culinary was my first crush.

Alasan utama masak sendiri ya karena kalo makan di restoran fine dining terus kagak kuat di dompet. Steak wagyu seporsi bisa 500 ribu. Kalau beli di restoran, angsio abalone sama hoisom (teripang) bisa satu juta lebih. Dengan modal setengahnya (dari hasil nabung tentunya), bisa masak sendiri dan bisa adjust rasanya biar sesuai dengan lidah.

  • Di blog, Anda sebutkan kalau Anda personal chef untuk keponakan Anda. Koq bisa Anda jadi personal chefnya? Bangga, dong, ya, bisa masak khusus untuk keponakan 😀

Yup, karena ponakanku mewarisi lidah ompung borunya (bahasa Batak artinya: nenek -red). Picky dan punya standar yang tinggi tentang rasa dan tekstur. Ada ‘pride’ tersendiri kalau bisa ‘ngakalin’ ponakanku. Karena mereka nggak suka beberapa jenis bahan makanan, terutama sayuran. Aku juga suka sharing tentang cara supaya ponakanku punya self esteem dan punya hubungan emosional yang kuat sama kedua kakakku yang notabene wanita karir. Salah satunya dengan memasak bersama (walau ponakanku pasti sukanya ngerecokin).  Setelah selesai dan jadi masakannya, mereka bangga dan antusias untuk makan masakan mereka sendiri dan punya quality time dengan orangtuanya.

Karena anak-anak suka makanan fast food dan instan kayak nugget, burger, dll, makanya aku berusaha supaya mereka bikin fresh ‘fast food’ sendiri. Contohnya bisa bikin sendiri chicken nugget, salmon nugget, and kentucky fried chicken. Sekarang malah tiap Sabtu Minggu kakakku bikin nugget. Tinggal dibungkus kedap terpisah dan disimpan dalam freezer. Tiap minggu ganti-ganti bahannya.

  • Masak-memasak tidak mengganggu perkuliahan Anda?

Dibilang iya juga enggak, dibilang enggak juga masih bersifat relatif. Terutama soal budgeting karena sekarang aku masih dalam tahap pendidikan klinis. Bahasa kerennya dokter gigi muda (koas) dan ngabisin duit yang lumayan buat requirement klinik. Jadi harus pintar-pintar bagi duit, biar dunia koas dan masak-masak bisa jalan bareng. Orangtua nggak ngasih budget khusus selain duit bulanan. Tahu sendiri kalau fine dining plate sama bahan-bahan makanan gourmet itu muahal. Jadi kesimpulannya adalah: “passion always find its own pathway”.

  • Foto-foto makanan yang Anda tampilkan di blog tampak sangat menggiurkan. Ada tim khusus untuk menjepret makanan atau Anda jepret sendiri? Kalau jepret sendiri, Anda belajar food photography dimana?

Well, thanks for the compliment. Aku ngerjain semuanya sendirian. Mulai dari persiapan semua alat dan properti, masak dan food styling dan food photography-nya. Kalau fotografi aku belajarnya otodidak dan learning by doing.

  • Bumbu apa yang harus selalu ada di dapur Anda?

Garam Masala (bumbu kari), Lada Hitam, dan Szechuan peppercorn. Karena aku asli berdarah Batak dan szechuan peppercorn punya rasa baal seperti andaliman (sering disebut dengan merica Batak, bumbu utama membuat Arsik -red). Jadi aku selalu sedia szechuan peppercorn karena mereka tahan disimpan lama dan andaliman susah didapat di Palembang.

  • Anda, kan, senang traveling juga, ya. Bagaimana traveling bisa menginspirasi masakan Anda?

Simple. Just eat, taste all the flavor, asking the authentic version from the locals and don’t forget googling for the dishes philosophy underneath.

  • Tidak berminat untuk menjadi profesional chef dan buka restoran sendiri?

Kalau niat ada, tapi kalau jadi profesi masih belum tahu. Just let the time give the answer. Kalau restoran, sih, masih angan-angan. Fine dining Indonesian restaurant somewhere abroad.

  • Apa pendapat keluarga Anda tentang kegemaran memasak Anda itu?

Ada yang supportive, ada juga yang enggak. Tapi biasanya kalau keluarga dekat kebanyakan mendukung. Tahu sendirilah prototipe orang Batak: cowok gak boleh masak. Padahal kalau faktanya, tiap ada horja (bahasa Batak artinya: pesta -red), yang masak pasti bapak-bapak.

  • Kompetisi memasak apa yang pernah diikuti?

Kompetisi masak amatir, biasanya di gereja, di kampus dll. Nb: sampai sekarang belum pernah kalah. Hehehe. Di bawah ini foto hasil masakan lomba BEM kedokteran gigi. Namanya agak panjang Cashew Basil Pesto Angel Hair Pasta & Assorted Seafood (pan fried lobster, squid, scallops and Red Snapper) with Roasted Bell Pepper Sauce.

cashew basil
Cashew Basil Pesto Angel Hair Pasta & Assorted Seafood with Roasted Bell Pepper Sauce (foto: dok.pribadi Dentist Chef)
  • Tahun lalu, sekitar 1.3 miliar ton atau 1/3 dari hasil pangan yang diproduksi dunia, terbuang percuma menjadi sampah. Bagaimana pendapat Anda?

Horrible. Tapi sebenarnya aku juga suka begitu. Kadang beli bahan makanan sampai busuk di kulkas (terutama sayuran segar). Tapi sekarang aku sudah lebih baik karena beli dengan perhitungan kapan harus dimasak dan tahan berapa lama di kulkas. Aku kadang hunting bahan sampai kemana-mana. Beli dari luar negeri, tapi waktu udah sampai di genggaman belum jadi juga dimasak.

  • Apa tempat belanja favorit Anda untuk membeli bahan pangan atau alat memasak?

Aku suka semua tempat belanja. Pasar tempat nyari bahan etnik. Pasar Cinde, Pasar Sayangan. Kalau gourmet store nyari bahan makanan fancy. Seperti Foodmart Gourmet, Kem Chick, Food Hall. Dan supermarket biasanya buat belanja makanan sehari-hari. Kalau alat masak, Carine Noir, Tefal, Oxone, dll. Satu lagi, aku suka kontak pengusaha makanan lokal kayak abalone lokal, teripang, sarang burung, dll.

  • Belakangan ini sedang marak gerakan ‘local food movement’ yang giat mengampanyekan penggunaan bahan pangan lokal non impor. Pendapat Anda tentang hal ini?

Yup, support the local farmers and local products. Itu terobosan bagus buat win-win solution. Harga terjangkau buat konsumen secara langsung juga berimbas ke banyak pihak, mulai dari petani, distributor, sampai pedagang kecil/pengecer. Yang jadi masalah sekarang, mutu produk lokal sering kalah saing dengan produk impor karena banyak kecurangan di dalamnya, mulai dari bahan pengawet, pestisida, dan jangan lupa juga bahwa bukan rahasia lagi kalau pedagang pengecer suka mainin harga plus timbangan. Banyak produk gourmet Indonesia yang nomor satu di dunia tapi orang Indonesia sendiri nggak pernah menikmatinya. Contohnya kopi luwak, teh putih, teripang, kerapu hidup, lobster hidup, dll.

  • Siapa chef favorit Anda?

Vindex Tangker

  • Apa spesialisasi masakan Anda?

Authentic Ethnic Indonesian, Chinese dan Western.

  • Seperti apa gaya memasak Anda?

Free style dan presisi dicampur aduk. Bingung mejelaskannya. Tapi sebisa mungkin menyajikan masakan yang otentik, terutama resep masakan indonesia. Contohnya: orang Batak sendiri banyak yang tidak tahu tentang ikan Batak. Jadi kalau bisa aku hunting ikan Batak sampai dapat sebelum bikin gulai ikan Batak. Begitu juga terubuk buat sayur besan, jamur pelawan buat lempah kulat pelawan, dll.

  • Tempat makan favorit di tempat tinggal Anda?

Bakmi Terang Bulan, Mie Sari Rasa, Pempek Sudi Mampir, River Side Restaurant, Golden Dragon, La Vita Bella, KFC dan kantin perpustakan kampus UNSRI.

  • Apa tragedi terburuk yang pernah dialami ketika memasak?

Nggak tahu, ini tragedi atau apa. Tapi waktu mau acara resepsi penikahan kakakku, tiba-tiba ada pemadaman listrik total. Toko roti baru ngasitau jam 12 malam, kalau pesanan wedding tart terancam gagal dieksekusi karena nggak punya base cake-nya. Kita coba bawa genset ke tokonya ternyata nggak kuat karena daya oven listriknya terlalu besar. Jadi jam satu malam kita bikin base buat cake-nya pakai oven tangkring.

Pertama coba gagal karena bantet. Terus, karena bahan cakenya terbatas, jadi keliling nyari telur jam dua malam ke rumah tetangga. Base cake baru selesai jam empat pagi. Itupun bisanya cuma dua tingkat dari rencana awal tiga tingkat (nggak ada oven tangkring yang cukup kesar buat cake 45 cm). Tatakan wedding cake yang paling bawah di gergaji, trus kuenya langsung dihias. Dan besok siangnya, puji Tuhan, siap dipotong waktu resepsi.

Makanya sampai sekarang aku agak trauma untuk bikin cake plus dessert, karena keinget stres dan pressure menantikan base cake buat resepsi kakakku keluar dengan sempurna dari oven.

wedding cake
wedding cake (foto: dok.pribadi Dentist Chef)

***

  • Resep yang ada di blog Anda, apakah semuanya hasil kreasi sendiri?

Sebagian besar diimprovisasi sampai menyerupai yang otentik. Tapi kalau resep di kategori fusion itu resepku sendiri.

  • Kalau ada pameran masakan internasional, masakan Indonesia yang mana yang akan Anda pilih untuk dipamerkan dan mengapa?

Rendang dan Arsik. Karena keduanya merepresentasikan Indonesia yang kaya akan rempah serta penduduknya yang sabar. 

  • Anda sudah pernah memasak berbagai makanan mancanegara, masakan dari negara mana yang paling Anda kagumi dan mengapa?

Jepang. Semuanya simpel dan efisien sesuai dengan work ethic mereka. Disusul dengan Cina yang masakannya sangat kaya dan beragam. Lalu Italia yg masakannya hampir bisa diterima oleh dunia.

  • Perempuan zaman sekarang cenderung malas turun ke dapur untuk masak. Alasannya karena memasak memakan terlalu banyak waktu. Solusinya menurut Anda?

I’m not buying that lame excuse. If woman can take her time for make-up, well I guess there’s more time for cooking. Kalau emang niat pasti ada jalannya. Aku juga prihatin karena sekarang ibu-ibu karir yang muda-muda cenderung ngasih anaknya makanan instan. Mereka gak sadar kalau makanan instan itu isinya cuma kalori tanpa nutrisi yang berarti. Makanya banyak anak overweight dan bodoh.

Mamaku wanita karir yang sukses, tapi selalu masak. Karena mamaku punya prinsip kalau punya pembantu itu seharusnya buat ngurusi rumah, bukan buat masak untuk suami dan anak-anak si nyonya rumah. Tapi seiring perubahan zaman, prinsip mamaku ini gak ‘nyangkut’ di kedua kakak perempuanku. Hehehe.

Keep trying and keep it going. Learning by doing it’s culinary all about. Semakin sering Anda memasak, maka tanpa Anda sadari Anda tahu apa isi masakannya dari mencium aromanya.

  • Terakhir nih, salah satu alasan Anda masak adalah karena Anda masih single. Apakah nanti kalau sudah tak single lagi, Anda masih mau masak? Untuk pacar misalnya 😀

Well, trik “impress her from the stomach” really works sometimes. But unfortunately, I’m living in the part of the world with stigma “guy who cook is who you want to going out with, instead of dating with”. I love to impress any person from their stomach, especially my girlfriend for sure.

chef dedy
Dedy Oktavianus Pardede sang chef (foto: dok.pribadi Dentist Chef)

facebook: dedy.oktavianuspardede

twitter: @mrdy0w

***

Terima kasih banyak, Chef! Sukses terus untuk masak-memasaknya serta dokter giginya! Dan terima kasih untuk para pembaca setia blog tercinta ini 😀 . Semoga wawancaranya berguna dan sampai ketemu di episode berikutnya 🙂 .

Advertisements

21 thoughts on “Dentist Chef: Culinary was My First Crush

  1. kenalan dulu ah ..:.
    anak muda yg inspiring nih…
    thanks Messa, keren ide wawancaranya., pertanyaannya dan jawabannya sama berbobot…, jempol buatmu

    Like

  2. ih ketemu interview di Dedi di sini keren banget…. berasa de javu aja, aku dulu hobi masak dari sd sampai kuliah … tapi gegara kerja di lapangan dan ga pernah di rumah bener2 ga pernah nyentuh dapur… ya udah skrg jalan2 ama makan aja deh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s