Cakwe Tega Rasa

TEGA RASA

Usai mengurus SIM card yang saya blokir akibat kehilangan iphone, saya mampir di depot mie pangsit ayam yang berada di bilangan Balikpapan Permai. Tujuan saya bukan mau membeli mie pangsitnya, tapi cakwenya. Cakwe mereka, menurut saya, paling enak se-kota Balikpapan πŸ˜€ . Maklum, cakwe Medan soale πŸ˜€ .

Tiba di depan depot, seorang perempuan muda bercelemek menyambut saya serta merta menanyakan apa maunya saya. Saya perhatikan, bukan hanya cakwe saja yang mereka jual sekarang. Tahu telur, tahu petis dan tahu gejrot juga sudah ikutan nangkring dengan manis di sana πŸ˜€ .

Agak keblinger karena saya baru tahu kalau mereka menjual tahu, saya tak bisa memutuskan apakah mau membeli cakwe saja atau cakwe plus tahu. Seolah menangkap ke-keblingeran saya itu, seorang pria berperawakan tinggi kurus, yang berdiri tak jauh dari saya, dengan antusias meminta saya untuk mencoba tahu petis dan tahu gejrotnya. “Nanti kalau kakak sudah coba tahunya, pasti ketagihan. Coba aja, kak,” katanya meyakinkan.

Seolah tersihir oleh antusiasme pria tersebut, saya pun setuju untuk membeli tahu petis, tahu gejrot dan tentunya tak ketinggalan, cakwe Medan. Kalau ternyata rasa tahunya mengecewakan, ya kapan-kapan tidak usah beli disitu lagi. Gampang, kan? Gitu aja koq repot πŸ˜€ .

Pria tinggi kurus itu mempersilakan saya duduk bergabung di mejanya, sembari menunggu pesanan saya selesai dimasak dan dibungkus. Dari sisi tempat saya duduk, semakin kelihatanlah kalau rupanya bukan hanya tahu saja yang bertambah dalam menu jualannya. Ada mantau (kue khas Balikpapan berwarna putih-red), bakpau, pisang goreng KFC, lapis Medan, dlsb. “Wah, nampaknya sudah terlalu lama saya tidak singgah ke depot ini sehingga tak tahu perkembangan,” pikir saya.

***

Segelas kopi hitam dan sepiring cakwe menjadi santapannya sore itu. “Ini sarapan saya, kak,” katanya sambil mencelupkan sepotong cakwe ke dalam kopi. Saya ditawarinya juga untuk mencicipi cakwe tersebut. Tapi berhubung tidak lapar, ya saya tolak. Kalau lapar sih, saya embat juga hihihi πŸ˜€ .

“Lho, koq sarapan jam segini, Koh?” tanya saya heran. “Maklumlah, kak. Saya kalau masak mantau sampai pagi. Supaya besoknya bisa dijual. Pagi baru tidur dan sore baru bangun. Makanya inilah saya baru sarapan,” jelasnya. Kemudian ia nyerocos panjang lebar tentang bisnis kulinernya yang sudah beberapa kali jatuh bangun. Rupanya ia pemilik cakwe fenomenal tersebut πŸ˜€ . Awalnya ia berjualan cakwe, lalu belajar dan belajar lagi membuat makanan lain.

Pandangan saya beralih ke papan nama jualannya yang terbaca jelas dari sisi saya duduk. “Cakwe Tiga Rasa..” gumam saya dalam hati. Eh, bukan. Saya pun menoleh sekali lagi. Yang benar adalah, “Cakwe Tega Rasa.”Β 

Merasa bukan nama yang lazim untuk sebuah merek dagang, saya pun bertanya ke si Koh, mengapa dinamakan Tega Rasa. Ia tertawa dan berkata, “Sudah panjang ceritanya, kak.” Tapi akhirnya ia ceritakan juga kepada saya, panjang kali lebar πŸ˜€ . Menurut penuturannya, dulu ia pernah melanglang buana kemana-mana. Kerja di Singapura, Malaysia, Batam, dll. Kemudian oleh kakaknya, ia dipanggil pulangΒ untuk bekerja padanya di Balikpapan. Ia pun setuju. Namun karena pekerjaannya tak sesuai dengan yang diharapkannya, ia memilih hengkang dan memutuskan berjalan sendiri.Β 

Kakaknya itu, menurut si Koh, orang yang kaya raya. Tapi selain kaya raya, ia juga kaya tega. Gara-gara teganya perlakuan kakaknya terhadap saudaranya sendiri itulah makanya ia memutuskan untuk tidak lagi bekerja pada kakaknya. Dari pengalamannya itu, tercetuslah nama: Tega Rasa.

***

Di tengah serunya ia bercerita, kami tak menyadari kalau seorang pria Bule masuk ke dalam depot. “Mau beli cakwe,” katanya dalam bahasa Indonesia beraksen Inggris. Saya tercengang dan mulut saya pun setengah menganga. Saya mendongak ke arah si bule untuk memastikan bahwa ia memang bule. Mata saya tak percaya πŸ˜€ . “Ada bule mau beli cakwe,” kata saya dalam hati. “Pasti dia udah doyan banget tuh makan cakwe. Nggak mungkin ini kali pertama dia membeli cakwe,” kata saya lagi dalam hati sambil mengira-ngira siapa gerangan yang memperkenalkan cakwe kepada si Bule πŸ˜€ .

Si Koh pun menyudahi ceritanya dan sibuk melayani si Bule dalam bahasa Inggris campur Indonesia. Selang beberapa waktu, pesanan saya datang. Habis membayar tagihan, saya pun pergi meninggalkan si Koh beserta si Bule dan perempuan bercelemek itu. Sambil berlalu, dengan berteriak saya ucapkan “Semoga sukses terus ya, Koh!” Si Koh yang di tengah cerita kami tadi berhasil menebak asal saya dari Medan, menjawab dengan berteriak juga, “Iya, iya!”

***

Setelah saya coba dirumah, tahu petis dan gejrotnya uenak banget pemirsaaa πŸ˜€ . Kombinasi asam, pedas dan manisnya benar-benar TEGA. TEGA banget menggugah selera saya, dan TEGA banget membuat saya jadi ketagihan pengen makan lagi hihihii πŸ˜€ . Kalau cakwenya sih sudah pasti enaknya TEGA juga πŸ˜€ . Tak salah memang, kalau si Koh memberi nama dagangannya itu dengan: TEGA RASA πŸ™‚ .

tahu-gejrot
foto tahu gejrot dipinjam dari jenzcorner.net
tahu-petis
foto tahu petis dipinjam dari www.sambalterasi.com
cakwe
foto cakwe dipinjam dari tabloidbintang.com

Oya, mohon maaf kalau foto makanannya hanya foto pinjaman dari hasil pencarian di om gugel yah πŸ˜€ . Soale si iphone yang setia mengabadikan-momen-apa-saja itu sudah tidak ada lagi πŸ˜€ . Saya lagi males pakai kamera DSLR yang gede itu πŸ˜€ . Keburu habis dulu makanannya ntar barulah saya jepret hahahaaa πŸ˜€ .

Kalau Anda penasaran dengan cakwe dan tahu Tega Rasa, silahkan langsung saja mampir ke depotnya yang terletak di Ruko Balikpapan Permai, belakang toko Ace Hardware. Bon Appetit!

Advertisements

39 thoughts on “Cakwe Tega Rasa

  1. Aih, iponmu ilang, Mes…? Ish! Ini berita ke 2 temen blogger kehilangan iponnya, huhuhu..
    Aku juga suka cakwe. Di bandung yg heitz cakwe haustea. Itu enaaaak, bgt. A3 aja suka! πŸ™‚
    Kalo tahu gejrot aku tak doyan, cuma A3 tuh, doyaaan bgt. Secara ya, itu makanan favorit asal kampungnya baginda raja di cirebon sana. πŸ™‚

    Like

    1. Toss mba fit…aku penggemar cakwe haustea…ahhh itu jd mengingatkan pada seseorang…makannya di IP pulak… btw messa, semoga cpt dpt ganti iponnya yak….

      Like

  2. Gak tau ya, aku gak ngerti enaknya cakwe dimana ito, tp herannya byk temen2 yang suka..
    kalo aku sukanya cakwe yang diisi adonan udang terus di deep fried
    tp aku suka attitude si koko, inilah yg namanya disebut pendendam positif ito!

    Like

    1. mungkin gara2 rasanya gurih dan kalau baru digoreng kan rada2 krispi gitu πŸ˜€ makanya enak πŸ˜€ iya aku setuju dengan sikap si Koh itu πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s