Penting

Baru-baru ini, saya membaca artikel di majalah More Indonesia tentang: “Seberapa Penting Hal Penting Itu?”. Artikelnya mengingatkan saya pada kebakaran yang terjadi di rumah tetangga saya dulu. Saat itu saya masih kecil, masih SD dan baru pulang sekolah.

Siang itu, tidak ada siapa-siapa di rumah. Orangtua saya sedang bekerja di tempatnya masing-masing. Kunci rumah saya dapati di tempat yang sudah kami sepakati sebelumnya.

Keluarga kami punya kebiasaan: orang terakhir yang meninggalkan rumah, harus meletakkan kunci rumah di tempat-tempat yang sudah disepakati bersama dengan seluruh anggota keluarga. Misalnya di dalam sepatu rombeng yang ada di dekat pintu, di dalam atau di bawah pot bunga, di balik batu bata dekat teras, atau dititip di tetangga depan rumah.

Masuk ke dapur, di atas meja sudah terhidang makanan yang tertutup tudung saji. Rupanya Ibu saya sudah menyiapkannya sebelum beliau berangkat. Saya pun makan siang untuk menenangkan orkes keroncong yang sedari tadi sudah ribut bernyanyi di dalam perut.

Habis makan siang, tiba-tiba terdengar teriakan kencang dari arah depan rumah saya.

“Kebakaraaaan….. Kebakaraaaan…. Kebakaraaaaan…….”

Setengah berlari, saya segera menuju bagian depan rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saya melihat asap kehitaman dan api berkobar-kobar di rumah tetangga saya yang letaknya persis di sebelah kiri rumah saya. Dengan berlari, saya kembali lagi ke dalam rumah, membuka buku telepon, mencari nomor telepon kantor pemadam kebakaran dan langsung menelepon mereka.

Dengan suara agak tinggi, saya beritahu ke operator yang menerima telepon bahwa di tempat tinggal saya sedang terjadi kebakaran. Saya beritahu alamat lengkap terjadinya kebakaran serta nama saya.

Tapi rupanya sang operator ragu-ragu dengan kebenaran laporan saya. Katanya, “Tapi suaramu seperti suara anak kecil……” Agak kesal karena saya diragukan, saya pun menjawabnya dengan tegas dan lugas, “Memang saya masih anak kecil, Pak. Masih SD. Tapi saya tidak bohong. Jadi tolong bapak kirimkan mobil pemadam kebakarannya sekarang juga kesini. Terima kasih, Pak.”

Telepon langsung saya tutup, dan saya berlari lagi ke depan rumah untuk melihat perkembangan situasi. Orang-orang mulai berdatangan. Ada yang menonton. Ada juga yang ikut membantu menyiram.

***

Sebagian cabang pohon rambutan yang berada di sudut kiri depan halaman rumah saya, beserta temboknya, sudah ikut terbakar. Kabel listrik pun nyaris terbakar. Saya terus menanti si pemadam kebakaran datang. Dalam penantian itu, ibu D, salah satu tetangga saya, menghampiri saya dengan tergopoh-gopoh dan bertanya apakah orangtua saya sudah diberitahu tentang kebakaran tersebut. “Belum,” jawab saya singkat.

Jujur saja, sedikitpun tidak terlintas di kepala saya untuk memberitahu orangtua saya perihal kebakaran itu. Selain karena yang kebakaran bukan rumah saya, menurut saya buat apa menelepon mereka di tempat kerjanya sana siang-siang begini? Nanti hanya akan mengganggu konsentrasi mereka bekerja. Lagipula orangtua saya tidak bisa memadamkan api. Yang bisa memadamkan cuma pemadam kebakaran dan air. Bukan orangtua saya.

Itulah yang penting bagi saya saat itu: pemadam kebakaran datang dan apinya segera dipadamkan.

Ya, nantinya orangtua akan saya beritahu setelah apinya padam. Begitulah yang ada dalam pikiran saya. Ada langkah-langkahnya.

Tak lama, mobil pemadam kebakaran yang dinanti, akhirnya datang juga.

Tapi ibu D, tetangga saya itu, terus mendesak saya untuk segera memberitahu orangtua saya. Maka supaya ia senang dan berhenti mendesak saya, saya pun masuk ke dalam rumah bersamanya. Ia mendengar saya menelepon orangtua saya:

“Halo Pak, Mak. Tetangga kita yang di sebelah kiri itu, rumahnya kebakaran. Gara-gara anaknya yang masih kecil-kecil itu, main lilin sendirian di dalam rumah. Tak ada yang jaga mereka. Tapi jangan kuatir, sudah kutelepon pemadam kebakaran dan mereka sudah datang barusan. Rumah kita aman. Nggak usah kuatir. Oke, Pak, Mak.”

***

Beberapa jam kemudian barulah api dapat dipadamkan seluruhnya. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Namun rumah seluruhnya rata dengan tanah. Kepala rombongan pemadam kebakaran (yang ternyata masih ada hubungan keluarga dengan kami!!), datang ke rumah saya menemui orangtua saya yang sore itu mempercepat kepulangannya. Beliau minta maaf jika awalnya operator telepon mereka meragukan laporan saya.

Pasalnya, beberapa kali mereka pernah mendapat telepon dari anak kecil tentang kebakaran fiktif. Setelah tim mereka diturunkan ke lokasi, ternyata tidak ada kebakaran. Mereka pun kapok. Namun hari itu, setelah telepon saya, rupanya muncul lagi telepon-telepon lain dari β€œorang dewasa” yang juga melaporkan bahwa di lokasi tempat tinggal kami sedang terjadi kebakaran. Dari situlah akhirnya mereka berkesimpulan, kalau kebakaran kali itu nyata, bukan fiktif.

Makanya, pelajaran nih, untuk Anda yang sampai sekarang masih suka menelepon iseng pemadam kebakaran, bertobatlah! Jangan Anda permainkan nyawa orang lain yang benar-benar membutuhkan pertolongan di luar sana πŸ™‚ .

Dengan Anda berlaku iseng seperti itu, Anda membuat pemadam kebakaran menjadi ragu akan tugas penting mereka yang sebenarnya. Yaitu memadamkan api.

***

Dalam kejadian kebakaran di atas, apa yang dianggap penting oleh ibu D (tetangga saya itu), bukan menjadi hal yang penting untuk saya. Sedangkan untuk pemadam kebakaran, laporan dari anak kecil, bukan hal yang penting. Laporan dari orang dewasalah yang penting menurut mereka. Serta untuk orang-orang yang berdatangan, ada yang menganggap menonton adalah hal yang penting. Namun sebagian lagi menganggap ikut menyiram adalah hal yang penting.

Dan karena penting untuk β€œmenyenangkan” si ibu D itu serta untuk membuatnya berhenti mendesak saya, makanya akhirnya saya menelepon orangtua saya.

Dalam tiap situasi, tiap orang memiliki definisi yang berbeda mengenai hal yang penting. Ada yang menganggap pangkat, status dan nama baik itu penting. Ada yang menganggap komentar dalam postingan di blog itu penting. Kalau tak ada yang mengomentari tulisannya di blog, hampa hidup rasanya πŸ˜€ . Ada pula yang menganggap penting blog stats. Kalau dalam sehari kurang dari 1000 hits, mau pingsan rasanya πŸ˜€ . Ada yang menganggap kesehatan itu penting. Ada juga yang menganggap punya emas segede gambreng, penting. Ada yang menganggap rupa itu penting. Namun ada juga yang menganggap kecerdasan lah yang penting. Kalau rupa bisa dipoles πŸ˜€ . Dst, dst.

***

Bagaimana dengan Anda temans? Apa yang penting dalam hidup Anda sekarang? Bisa jadi, apa yang Anda anggap tidak penting di masa lampau, menjadi penting di masa sekarang. Dan apakah hal yang Anda anggap penting itu benar-benar penting? Jika terjadi hal seperti di atas pada Anda, siapa yang akan Anda hubungi duluan? Orangtua Anda atau Pemadam Kebakaran?

Advertisements

24 thoughts on “Penting

  1. wah kalo polisi dan pemadam kebaakran ya gak boleh ada istilah kapok dong kalo emang pernah dikerjain anak kecil. mereka tetep harus dateng untuk memastikan. tapi mereka juga harus ngasih warning ke orang tua anak yang nelpon (biasanya pemadam kebakaran dan polisi bisa melacak nomor telpon yang masuk). kalo masih terulang lagi, orang tuanya harus didenda.

    Like

  2. waaahhh, untuuunggg apinya nggak menjalar kemana-mana ya, Mes. Mana kamu waktu itu masih kecil pula. Seremmmm bacanya… 😦
    Buatku sih yang paling penting sekarang ini keluarga semua sehat. Yang lain bisa menyusul penting setelah yg terpenting soal kesehatan keluarga itu terpenuhi. Duit banyak, rumah bagus, mobil keren… huahaha…

    Like

  3. Mes, beberapa waktu lalu aku nanya si Matt kalo ada apa2 yang dia selamatkan dulu apaan. AKu bilang pasti laptopnya secara dia gak bisa berpisah dari laptop yang isinya kerjaannya itu. Dia jawab mungkin, atau bisa jadi dia bakalan nyelamatin external hard disc aja dulu baru aku huhahaha. so…..kejawab dong ya

    Like

  4. Bahaya bgt ya Mes karna kerjaan orang iseng pemadamnya jadi ga percaya sm telfon masuk. Tapi untung kamu gpp ya. Aku jadi inget dulu waktu kecil tabung gas di rumahku pernah bocor dan ngeluarin suara yang kenceng bgt karna gasnya keluar semua. Orangtuaku lg ga di rumah waktu itu. Aku panik gatau mesti ngapain karna tepat di sebelah tabung gas ada lilin yg nyala. Keluar teriak2 minta tolong sama satpam tapi ga ada yang jaga satupun. Yang aku inget ade2ku ada di dalem rumah, jadi aku ngerangkak sambil bawa lilinnya keluar. Setelah kupikir lg itu tindakan bodoh bgt karna kl api kena gas bisa tiba2 meledak. Waktu itu bener2 ga kepikiran, yg aku pikirin cm supaya rmh ga meledak dan adik2ku selamat.

    Like

    1. kalau yg dulu itu seingatku nggak pakai bayar2an kak πŸ˜‰ uang lelah pun tak ada. Masak udah kemalangan malah ngasih uang lelah pulak ke dinas pemadam kebakaran πŸ˜€

      Like

  5. Ya ampun, harusnya mah ga ada istilah kapok yah. Jadi ga di sepelehin anak kecil yang nelpon. Yang pasti sih ortu juga harus dikasih tahu. Salut dengan kalimat “nggak usah kuatir” πŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s