Life is Beautiful

 

Bicara tentang cinta, pastilah bicara tentang pengorbanan. Jika ada yang bilang I love you pada Anda, tapi tidak mau berkorban, maka bisa dipastikan, itu cuma omong kosong atau omong doang. Kalau kata anak Medan: Cintamu ecek-ecek. Ecek-ecek = palsu/pura-pura.

Dan jika ada film yang bercerita tentang pengorbanan, maka La Vita E Bella atau Life is Beautiful menurut saya adalah salah satu yang terbaik.

Bersetting di Italia tahun 1930-an, film ini bercerita tentang Guido (seorang Italia keturunan Yahudi), yang pemberani, banyak akal serta memiliki sense of humor yang sangat tinggi.

Guido bertemu dan jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama Dora, yang berprofesi sebagai guru. Bersama, mereka memiliki seorang anak yang bernama Giosue. Kisah kelam namun lucu dimulai ketika Guido dan Giosue ditangkap oleh tentara Jerman dan dibawa ke kamp pembuangan atau kamp kerja paksa.

Tak ingin membuat anaknya yang masih berumur empat tahun itu hidup dalam suasana horor di kamp, Guido menjelaskan bahwa mereka sebenarnya berada dalam suatu permainan. Peraturannya, siapa yang pertama mendapatkan poin 1000, maka ia adalah pemenangnya, dan akan mendapatkan sebuah tank. Giosue, anaknya yang masih berumur empat tahun itu, tentu percaya saja apa pun yang dikatakan ayahnya.

Scene favorit saya dalam film ini adalah ketika tentara Jerman masuk ke dalam sel Guido. Si tentara bertanya kepada penghuni sel, apakah ada yang bisa berbahasa Jerman. Guido (yang tidak tahu bahasa Jerman), nggak pakai mikir dua kali, langsung tunjuk diri dan maju ke depan, berdiri di samping si tentara, “menerjemahkan” semua yang dibilang si tentara ke dalam bahasa Italia. “Terjemahan” Guido yang tentu saja abal-abal itu, mampu membuat anaknya gembira, membelalakkan matanya seolah tak percaya dan beberapa kali senyam senyum mendengar ayahnya menerjemahkan “peraturan permainan” di kamp. πŸ˜€

Tujuan Guido, melakukan semua yang nampaknya seperti suatu “kebohongan”, selama hidup di dalam tekanan, di kamp yang tidak indah itu, sebenarnya hanya satu: ia ingin anaknya memiliki kehidupan yang indah. Saya setuju dengannya. Apa yang tidak akan Anda lakukan demi mereka yang Anda kasihi? Demi anak Anda bahagia?

Kalau diperhatikan, sepertinya falsafah hidup Guido ini mirip falsafah orang Batak jika mengenai anak. Yaitu: Anakkonki do hamoraon di au (anakku itulah kekayaanku).

Seperti semua film, tentunya ia mempunyai ending. Dua ending malah. Sedih dan bahagia. Sedih karena Guido akhirnya mati ditembak tentara Jerman. Bahagia karena Giosue bisa tetap hidup dan “memenangkan” tank-nya, serta bisa bertemu lagi dengan ibunya. Kurang indah apa lagi, coba?

“This is the sacrifice my father made. This was his gift to me,”Β kataΒ Giosue di akhir film.

Berani mencintai berarti berani berkorban.

Apa saja yang telah Anda korbankan demi mereka yang Anda cintai?

 

 

 

 

Advertisements

16 thoughts on “Life is Beautiful

  1. Ailtje Binibule says:

    Aku pernah nonton film itu, tapi baru ngeh judulnya. Filmnya indah.

    Pengorbananku belum akan dilakukan tapi akan dilakukan, resign dari pekerjaan, meninggalkan Jakarta demi membangun keluarga bersama.*kumpulkan mental*

    Btw, pengorbanan dia, dia pernah tidur di lantai rumah sakit pas aku DBD. kasian….

    Like

  2. Pypy says:

    Gw korbanin cita2 gw untuk nikah ma org demi Ai.. Padahal udah ada satu yg ngajak nikah lgsg, dah mapan bgt pula di Jerman sono..hahaha *jawab sekalian curhat* hahahaha :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s