Bunga Rampai Cinta 1: Bencilah Daku, Kau Kukejar

Well, mumpung masih suasana hari cinta-cintaan, maka kali ini saya mau cerita tentang cinta. πŸ˜€ Monggo disimak πŸ˜€ πŸ˜€

***

Bencilah Daku, Kau Kukejar

Menurut saya, enggak semua orang bisa melakukan hal yang sama; tiap orang beda-beda talentanya. Ada yang talentanya jualan.Β Jual apa pun laku. Ada yang tidak tahu diri dengan talentanya. Sudah tahu kalau berjualan bukan talentanya, namun tetap ngotot mau jualan. Sudah berpuluh tahun ikut pelatihan jualan, tapi tetap nggak bisa menjual apa-apa. Mungkin bisa, tapi tidak secemerlang orang yang memang talentanya berjualan itu. Namun ada juga yang tahu diri, tahu minatnya di mana, maka mereka pun memilih mengikuti minatnya itu.

Nah, menjelang akhir kelas dua SMU ada pembagian jurusan. Karena tahu diri, saya memilih mengambil jurusan IPS karena saya tidak begitu berminat untuk memperdalam ilmu pengentahuan alam (IPA). Kalau kata saya dulu menggambarkan jurusan IPA itu… “Duh, bola jatuh ngapain juga diukur kecepatannya? Jatuh, mah, jatuh saja. Iseng banget ngukur-ngukur kecepatan πŸ˜€ .”

Tapi rupanya kalau mengambil jurusan IPS, ada satu ilmu yang tetap “ikutan” di dalam daftar mata pelajaran, yaitu Akuntansi. Saya paling benci sama mata pelajaran yang satu ini. Ngapain juga musti balance debit dan kredit? Lalu kadang disuruh pula membikin jurnal penyesuaian yang diperlukan. Duileeeeh, pelajaran yang aneh. Mending bikin jurnal perjalanan saja deh, Bu Guru? πŸ˜€ . Saya paling demen tuh πŸ˜€ . Pokoknya bawaan saya stres kalau sudah masuk pelajaran Akuntansi.

Pernah satu kali, saat ujian Akuntansi, saya nggak tahu mau nulis jawaban apa. Karena saya nggak ngerti soalnya. Serius. Saya nggak ngerti.Β  “Ini soal apaan, sih?” tanya saya dalam hati waktu itu. Nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya saya gambar wajah orang di lembar jawaban. Gambarnya seperti di komik-komik ala Jepang itu πŸ˜€ . Maklumlah, saya penggemar komik πŸ˜€ . Gambarnya pun gede, segede kertas folio. Di bawah gambar orang itu, saya tuliskan: “Maaf, Bu Guru.” (Guru Akuntansi saya dulu perempuan). Biarinlah saya kasih jawaban seperti itu. Daripada pusing. Saya orangnya apa adanya. Kalau memang nggak tahu, saya nggak akan sok tahu. Lumayan dapat uptul, alias upah tulis, jadi nilainya nggak nol πŸ˜› .

***

Setelah selesai menggambar, saya letakkan pulpen dan menyapu pandangan ke sekeliling. Ada yang serius berkutat dengan pulpen dan lembar jawabannya. Ada yang gelisah. Ada yang bisik-bisik: “Ini kayaknya salah soal dehGimana ya… Jawab nggak ya….?”

Akhirnya, di menit ke-15 dari 90 menit waktu ujian yang diberikan, saya bangkit dari kursi dan menyerahkan kertas jawaban ke guru pengawas. Lalu saya lenggang kangkung keluar kelas. Di luar kelas, saya perhatikan masih sepi. Tidak ada murid lain selain saya πŸ˜€ . Rupanya memang cuma saya yang keluar kelas dari beberapa kelas yang mengadakan ujian yang sama. Huahhahaaa. Parah. Itu ujian paling parah yang pernah saya hadapi πŸ˜€ .

Selewat ujian, tibalah waktunya evaluasi. Menurut guru akuntansi kami, soalnya memang salah. Dan dia sengaja bikin soal salah. Di sekolah saya dulu, beberapa guru memang sering membuat soal yang salah ketika ujian. Mereka mau lihat apakah ada yang ‘berani’ menjawab atau “berani tidak menjawab”. Di situlah ‘ujiannya’ πŸ˜€ . Kalau menjawab kan sudah pasti nilainya nol. Atau paling tidak uptul-lah. Nah, yang nggak menjawab berarti pinter, kan? Soale dia tau kalau soalnya salah. Lha kalau soal salah ngapain dijawab, coba?

Bu Guru saya bilang: “Jadi memang sebaiknya soal kemaren tidak usah dijawab, anak-anak…..Huahahha… Bu Guru iseng banget deh πŸ˜€ . Untunglah saya gambar orang waktu itu πŸ˜€ . Tapi untuk kasus saya itu, saya memang nggak tahu apakah soalnya salah atau tidak, karena saya memang nggak ngerti. Soale saya emang nggak belajar dan saya tidak pernah benar-benar cinta sama Akuntansi. I guess i was just lucky that time. Hahahaa πŸ˜€ .

Tapi coba tebak, ke jurusan mana saya akhirnya melangkah setamat SMU? Akuntansi sodara-sodara πŸ˜€ . Yeah, nampaknya si Akuntansi ini emang ‘cinta berat’ sama saya. Dikejarnya saya kemanapun melangkah πŸ˜€ . Well, nampaknya kalimat bijak yang mengatakan, “Jangan terlalu membenci seseorang atau sesuatu, suatu saat nanti bisa-bisa kamu berjodoh dengannya,” benar adanya πŸ˜€ . Makanya temans, kalau nggak mau berjodoh dengan yang Anda benci itu, jangan keterlaluan membencinya, ya? Yang sedang-sedang saja, seperti kata penyanyi dangdut Vety Vera πŸ˜€ .

***

Happy Valentine dear friends!

Advertisements

12 thoughts on “Bunga Rampai Cinta 1: Bencilah Daku, Kau Kukejar

  1. Hahaha, aku ngakakkk Mes. Kocak amat itu gurunya iseng bikin soal yg salah.. aku juga kan kuliah di akuntansi, Mes. Tapi samaaa… nggak ngerti2 kalo baca soal akuntansi. Loadingnyan lamaaaa….! πŸ˜†

    Like

  2. ahh..gurunya ngaco ihh.. masak sih salah soal gitu? kayaknya, gurunya lagi ndak konsen pas buat soal deh… πŸ˜€ tahun lalu aku juga ngalamin gitu, tapi aku sbg dosen yang salah ngasi soal alias ngasi soal yang memang ndak bisa kejawab.. lalu dengan tampang seriusnya aku beralasan yg sama dng alasan gurunya mbak Messa.. “sengaja bikin soal yg salah buat ngetes murid..” padahal aslinyaaa… akunya yg lg nglindur waktu bikin soal.. haahaa…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s