Roti Tawar

roti tawar
roti tawar

Kawans, pernah makan roti tawar, nggak? Biasanya bagian pinggirnya yang berwarna kecoklatan itu, kan, keras, ya? Sebagian orang lebih suka memakan bagian roti yang putihnya saja dan membuang bagian pinggirnya karena keras.

pinggiran roti tawar dibuang
pinggiran roti tawar dibuang

Tapi berhubung dari kecil orangtua saya membiasakan harus memakan bagian pinggirnya, maka sampai sekarang pun, kalau makan roti tawar, saya tetap memakan bagian pinggirnya yang agak keras itu. Padahal, kan, sekarang makannya sudah nggak dilihat orangtua saya lagi, ya? Hihihi πŸ˜€ Well, mungkin karena sudah kebiasaan dari kecil, makanya sulit dihilangkan :D.

Alasan orangtua saya dulu membiasakan makan bagian pinggirnya yang agak keras itu adalah supaya gigi saya kuat. Kalau makan bagian roti yang putihnya saja, kan, gampang, tanpa perjuangan. Cuma di kunyah sebentar, hap hap hap, habis. Lembut soale. Tapi kemungkinan besar, gigi saya tidak menjadi kuat seperti sekarang.

***

Dalam perjalanan hidup, kita pun sering seperti itu. Kita tidak suka berhadapan dengan yang ‘keras-keras’. Kalau bisa, pengalaman hidup yang ‘keras’ itu dihindari. Padahal justru dengan mengalami hal-hal yang ‘keras’ itulah, kita dibentuk menjadi manusia yang dewasa, yang lebih baik serta lebih kuat agar tidak lembek menghadapi dunia yang (memang) keras ini.

Mungkin manfaat menghadapi pengalaman hidup yang keras tidak bisa kita rasakan sekarang. Bisa jadi beberapa tahun kemudian, atau belasan tahun atau mungkin berpuluh tahun kemudian.

***

Dan setelah saya perhatikan, jika saya membuang pinggirannya yang keras itu, saya agak kesulitan untuk menahan bahan olesan atau isian, karena batasnya sudah tidak ada lagi. Makanya saya pikir yang menciptakan roti tawar itu memang sudah memikirkan dengan sempurna, mengapa harus ada pinggirannya yang agak keras itu. Fungsinya adalah sebagai pembatas atau penahan selai/mentega/meises/taburan lainnya, supaya tidak meleber kemana-mana.

roti dioles selai
roti dioles selai

Bagaimana dengan hidup? Menurut saya, sama saja seperti roti tawar. Sang Pencipta Kehidupan ini sudah memikirkan dengan sempurna mengapa kita harus mengalami hal-hal yang keras dalam hidup. Ia mengizinkan kita mengalami hal-hal yang keras dalam hidup, supaya kita tetap ‘waras’.

Karena kalau tanpa pengalaman yang keras, kita takkan pernah belajar, tak pernah dewasa. Bisa-bisa hidup kita pun meleber kemana-mana karena semuanya tampak begitu mudah. Tapi dengan menghadapi hal-hal yang keras dalam hidup, kita diminta untuk tetap fokus (tidak melenceng ke kiri/ke kanan) terhadap tujuan hidup kita.

***

Jadi kawans, besok-besok kalau makan roti tawar jangan cuma bagian yang putihnya doang, ya? Bagian yang coklatnya dimakan juga :D. Eh, tapi kalau gigi Anda sudah goyah alias nggak kuat, jangan dipaksakan, lho, ya. Resikonya gigi Anda lepas, blog saya di demo massal hahahahhaaa :D.

Advertisements

14 thoughts on “Roti Tawar

  1. Sukaaa postingan iniiii.. Aku dari dulu kalo makan roti tawar juga disuruh makan pinggirannya soalnya gak boleh buang2 makanan kata bunda hehehe… Jadi sampe sekarang dimakan semua πŸ˜€

    Like

  2. aku juga dibiasakan makan dengan pinggiran, supaya tidak terbuang. Semua harus masuk perut. Dulu eyangku suka manggang pinggirannya, dicampur susu lalu dioven. Rasanya nggak enak, karena emang aku nggak doyan susu.

    Aku setuju, dalam hidup emang gak boleh maunya yang enak-enak, mesti usaha dengan keras. Hidup filosofi roti tawar!

    Like

  3. aku malah suka bagian yang kerasnya mes’, apalagi pas dipanggang … tabo nai bah ! tapi filosofi dikau yang terkandung di balik roti tawar itu memang benar. semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita, baik yang ” lembut ” maupun yang ” keras ” dihadirkan untuk mengasah kita dalam banyak hal sehingga kita mampu menghadapi kehidupan yang makin hari makin ” nggak waras ” ini … hahaha …

    Like

  4. Aku nggak pernah makan pinggirannya sih πŸ˜€ itu suamiku yang suka. Jadi ya dimakan tengahnya doank, pinggirnya kasih si Abang. Hahaha.
    Btw perenungan yang bagus πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s