“Maaf, Bu, di Sini Dilarang Memotret”

Peringatan: tulisan dibawah ini agak panjang. Kalau Anda malas membaca yang panjang-panjang, lebih baik segera tutup halaman ini. 🙂

***

Dulu, kemanapun pergi, kamera pertama saya yang bandel itu (Canon Eos 35oD) selalu ikut di dalam tas. Ke pasar, ke kantor, ke pesta, pokoknya kemana-mana, pasti ia ikut. Termasuk ke mall/plaza.

Mengapa ia selalu saya bawa? Alasannya, ya, karena saya memang suka motret, makanya ia selalu dibawa kemana-mana :D. Masak bawa jengkol? 😀

Makanya gara-gara saya suka jepret apapun, dimanapun dan kapanpun, beberapa kali pula saya pernah dilarang untuk memotret. Khususnya di mall atau plaza. Padahal mall itu, kan, ruang publik, ya? Beberapa kali saya mesti motret diam-diam/sembunyi-sembunyi. Saya pastikan dulu sekuritinya ada atau tidak di dekat saya. Kalau aman, barulah saya jepret. Kedengarannya jadi seperti pencuri, ya? :(.

***

Pengalaman dilarang yang paling berkesan pertama adalah saat saya ingin memotret pilar salah satu mall di Jakarta. Desain pilarnya indah sekali menurut saya. Cantik, elegan dan kokoh. Persis kayak saya 😀 (halaaahhhh 😀 *lempar jengkol satu truk* :D). Saking indahnya, saya pun tak tahan untuk tak mengabadikannya.

Ketika bunyi “jegrek” sudah hampir kedengaran, Bapak Satpam menghampiri saya dan melarang saya untuk menjepretnya. Beliau bertanya apakah saya punya surat izin untuk memotret atau tidak. Tentu jawabnya tidak punya. Lalu saya jelaskan kepadanya bahwa mall tersebut ruang publik. Jadi tak perlu, lah, pakai surat izin segala. Namun Pak Satpam tetap tidak membolehkan motret. “Maaf, Bu, kami hanya melaksanakan tugas dan menjalankan perintah atasan…”

***

Pengalaman paling berkesan kedua adalah ketika suami membawa saya ke satu resto di Jakarta. Desain restonya mengambil tema pertanian ala Eropa. Begitu melihatnya, saya langsung jatuh cinta dengan atmosfir pertaniannya yang kental. Kayu dimana-mana. Duh, kesannya sederhana sekaligus elegan sekali lah pokoknya. Tapi saya tidak menjepret apapun saat kunjungan pertama itu. Karena tidak bawa kamera.

tiru lagi ah

Tahun berikutnya kami berkunjung lagi kesana. Dan saya dengan pedenya langsung jeprat-jepret restonya. Tiba-tiba salah satu stafnya menegur saya. “Maaf, Bu. Disini dilarang memotret,” katanya. Saya kaget, lalu saya tanya mengapa. Jawabnya, “Peraturannya memang begitu, Bu. Takut ditiru desainnya, Bu.”

Saya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Hilang sudah nafsu makan di resto keren tersebut. Hilang sudah keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke sana, dan hilang sudah kesempatan si resto saya publikasikan gratis di blog saya :D.

***

Sebenarnya saya kurang suka membandingkan “kebijakan” negara-negara di luar negeri sana dengan Indonesia. Misalnya di beberapa mall atau tempat yang pernah saya kunjungi di luar negeri, tidak ada satu pun yang melarang pengunjungnya untuk mengambil foto. Tidak ada yang takut kalau misalnya mallnya ditiru. Malah kalau bisa, ambillah foto sebanyak mungkin, dan sebarkan ke seluruh penjuru dunia, supaya orang-orang berdatangan ke negara mereka. (****)

Sangat kontras dengan kita di Indonesia ini, kan? Apa-apa dilarang. Begini dilarang. Begitu dilarang. Semua dilarang. Ke laut aja, deh :D. Eh, tapi ke laut pun dilarang. Hahahahahhaaa :D.

***

Beberapa kali saya pernah menjelaskan kepada yang melarang saya, bahwasanya sayang kalau dilarang-larang memotret. Padahal, kan, bisa untuk ajang promosi dan publikasi gratisan. Hasil jepretan bisa saya unggah di blog atau di media sosial. Yang untung siapa? Tentu tempat-tempat atau event-event yang saya publikasikan gretongan itu, dong. Lalu saya? Ya, untung juga :). Kemampuan memotret dan menulis saya sudah pasti semakin terasah. Kalau pembaca tertarik datang ke tempat-tempat yang fotonya saya unggah atau saya ulas itu, berarti tulisan saya berhasil, kan? :D.

***

Menurut saya nih (sebutlah misalnya Anda punya resto), kalau Anda takut konsep resto Anda ditiru, ya, nggak usah bikin resto. Atau kalau pun Anda sudah kadung punya resto, tutupi saja restonya pakai kain besar dari luar, supaya nggak ada seorang pun yang bisa melihat dan meniru. Sak udel-udel e ditutupi wae :D. Sampai-sampai pengunjungnya, pun, kalau bisa, ditutupi kain sambil makan :D. Atau sekalian saja tidak usah masuk :D.

tiru ah

Nah, untuk Anda yang punya mall/plaza, sama juga perlakuannya jika Anda takut bangunan atau konsepnya ditiru. Tutupi saja semuanya pakai kain segede bagong. Nyarinya dimana? Ya, terserah Anda dong mau nyari dimana. Yang takut, kan, Anda. Bukan saya :).

Dan untuk Anda semua pembaca blog ini, misalnya yang punya foto bagus tapi fotonya nggak pernah di pamerkan di ruang publik gara-gara takut ditiru; Atau mungkin Anda jago bikin kerajinan dari keramik tapi takut ditiru kalau dipamerkan; Bikin lukisan pun takut ditiru kalau dipamerkan; Jago menulis tapi nulisnya cuma di buku harian (takut dicaplok orang lain atau ditiru kalau karyanya diunggah ke ruang publik); dlsb; Kalau Anda takut melulu, saya sarankan nggak usah bikin apa-apa, deh.

Kalau pun Anda tetap ngotot mau bikin karya, nikmati sendiri sajalah karya Anda itu di dalam kamar Anda. Jangan lupa kunci pintunya supaya tak seorang pun dapat melihatnya.

***

Kawans, menurut saya melarang itu bukan solusi. Anda semua pasti sudah pada tahu kalau ditiru itu adalah resiko yang sudah pasti akan dihadapi saat memutuskan untuk berkarya di blog atau di dunia maya, bukan? Lha wong karya-karya di dunia yang bukan maya saja sering ditiru, apalagi di dunia maya.

Makanya kalau ada yang meniru karya Anda, itu tandanya karya Anda keren dan bisa menginspirasi orang lain. Dan kalau Anda benar-benar kreatif (plus keren), Anda nggak perlu takut jika karya/konsep/ide Anda ditiru. Kalau ditiru, bikin aja lagi karya lain yang lebih keren. Ditiru lagi? Bikin lagi yang lebih keren lagi, lagi, lagi dan lagi. Jangan gara-gara takut ditiru lalu Anda mati gaya dan manyun.

Dan, psst, sini saya kasitau rahasianya: “Mereka yang meniru karya Anda itu adalah mereka-mereka yang kurang keren dan kurang percaya diri ;).”

***

Jadi, ayolah kawans, terus berkarya dan semangat! Tak usah takut karyamu ditiru! Ikhlaskan sajalah kalau ada yang meniru! Tak usah dilarang ini itu! Manusia itu nggak mempan dilarang! Justru kalau dilarang melakukan sesuatu, manusia akan semakin “kreatif” mencari cara untuk melakukannya! :D. Seperti yang saya lakukan di mall/plaza yang melarang memotret itu 😀 :D.

***

(****) keterangan: Kecuali kalau di dalam kasino. Biasanya memang dilarang mengambil foto kalau di dalam kasino. Kalau di luar tidak dilarang.*
Advertisements

32 thoughts on ““Maaf, Bu, di Sini Dilarang Memotret”

  1. keknya dulu ga gitu yah, semenjak ada socmed jadi lebay, kek yg design nya paling juara sedunia…**ikutankesel :p

    eh bo, mendingan lu email PR nya kl mau bikin review di blog, apalagi blog lu kan jumlah viewer nya ok tuh, biasanya mereka mau sih, secara promo gratis gitu jg buat mereka 🙂

    Like

  2. Tergantung kebijakan masing2 tempatnya juga sih Mess. Disini banyak tempat dilarang potret-potret sembarangan. Misal di retail tanaman, di pintu masuk sudah ada tanda kamera dicoret, jadi ga bisa potret2, dan kamera ada di banyak sudut ruang, klo jelalatan lihat ke atas keliatan kameranya pada nangkring 😀 , klo nekat mau potret paling di atur posisinya spy ga ketangkep kamera 😆 atau potret bagian luar saja.

    Like

  3. Saya pernah kena tegur neh di Citraland, itu area dibangun kayak Singapore gitu, ada merlion dll. Langsung ilfil dan ngibrit dari situ >_<
    Tapi klo di Mall belum pernah tuh ditegur, mungkin skrg pake hape jadi kesannya biasa hahaha

    Like

  4. Mes, herannya foto pake henpon di mall kok, boleh yaaaa…? Karena susah ngawasinnya?
    Yang paling ajaib ya pas kalian dilarang foto di tempat makan itu. Kamsude opooooo…? *bingung*
    Alasan takut ditiru itu sungguh menggelikan, kapanan kalo mau niru sesuatu macem desain interior bangunan itu KAGAK MUNGKIN modal foto hasil jepretan orang, ya?

    Like

    1. Lha ya itu mbak. Mereka takut ditiru desain interiornya yang emang kece banget. Makanya belakangan ini aku motret pakai iphone, nggak pernah dilarang-larang lagi. Malah pernah sengaja kujepret didekat sekuritinya. Pengen tau apakah dimarahin atau nggak huahhaha #jahat

      Like

  5. Bbrp foto di blogku ditampilkan di resto kelas atas, dan tag Dentistchef-nya gak diilangi, klo diilangin aku bakalan ngamuk……
    rasanya campur aduk, bingung antara bangga atau kesan, tp dua kali complain ke manager restonya, smuanya berbuah makanan gratis….hahaha
    tp paling sebel sama foto masakan pindang tulangku, ada kali sepuluh warteg yg pasang fotonya di printed bannernya……

    Like

    1. Waahh kereeen 😀 bangga dong ito 😀 kalau aku mah biarin ajalah karyaku dicomot orang. Ikhlas to :D. Kalau itu bisa bikin mereka bahagia dan kaya, yowes lah 😉

      Like

  6. itulah sbgian bsr org indonesia ito, kurang bs menghargai hak kekayaan intelektual seseorang….
    klo yg punya warted kmungkinan uneducated n biasanya nyuruh yg org advertising cr di internet, lah klo yg punya resto kelas menengah keatas yg kemungkinan educted bs pake foto org tanpa izin itu artinya ????

    Like

    1. Itu artinya nggak mau rugi 😀 hahahh 😀 tapi ya kayak komentarku tadi ito, if it makes them happy and rich, ikhlaskan ajalah. Yg jelas ito sudah berkontribusi dalam membuat mereka kaya dan bahagia 😉

      Like

  7. Iya ini nih yg bikin sebel, ngapain dibikin konsep yg indah kalo ga bisa diabadikan yah..huhuh.. Waktu itu malah mau foto2 di WTC ehh.. Dilarang sama satpamnya.. Padahal kan itu komplek perkantoran..huhuhu

    Like

  8. Yup, aku juga pernah diusir dari salah satu mall gara-gara motret. Padahal yang dipotret bangunan di seberang, dan di mall itupun aku cuma di numpang berdiri di salah satu parking area-nya. Kalau di dalam mall-nya ya aku sih maklum, tapi ini di tempat parkir 😦

    Like

  9. Kalau menurutku mungkin ada alasan yang lebih masuk akal daripada takut dicuri desainnya kali yaaa.. tapi lebih ke arah keamanan. Maksudnya bisa aja kan ada orang yang niatnya ga baik (entah mau nyuri atau apapun yg lebih parah) pura2 jadi turis dan foto sudut2 mana yang kosong untuk pengamatan. Tapi ga tau juga sih kalo mall2/resto di Indo alasannya beneran karena itu atau emg takut di colong aja desainnya..

    Di sini.. kalau foto2 di mall pakai kamera prof kayaknya juga ga boleh deh. paling kalo pake hp baru gpp.

    Like

  10. emang untuk beberapa restaurant , cafe , mall dijakarta ada yang melarang mengambil foto menggunakan kamera profesional kecuali kita ada minimal pembayaran pemesanan makanan mereka diatas 1juta.atau surat ijin dalam rangka keperluan tertentu.

    kecuali kalau pake iphone,bb or smartphone its oke aja si.

    tapi ada pengelaman kemaren salah seorang temen deketku dia fotografer langgananya sosialita gitu di salah satu cafe (baru) highend jakarta mereka lagi ngadain arisan ya seperti biasalah namapun wanita senengnya foto2 tiba2 dilarang sama manager mereka kecuali mereka harus bayar lagi untuk foto2 ditempat mereka. langsung saja di “didiskualifikasi” tempat itu dan tempatnya sekarang jadi sepi gitu hehehe tapi denger2 mereka udah ngrubah lagi kebijakanya. jadi sekarang bebas mau pake kamera profesional kek , kamera pocket kek hehehe
    secara sekarang eranya kan harus serba eksis dengan foto2 ya gak mba hihihi

    Like

  11. coba ke taman Suropati motret2 disitu pasti dihampiri satpam rumah Kedubes Amerika. Tamannya taman publik tapi suka dilarang motret karena ada rumah Pak Dubes. capek deh…

    Btw, kalau gak boleh motret di mall tertentu dengan DSLR saya patuh aturan. Males urusan sama satpam dan buat saya mall itu bukan bangunan penting yang layak difoto, buat saya mall itu = sampah 🙂

    Like

    1. huahahahaa mall=sampah alamaak 😀 aku juga sebenernya bukan anak mall mbak, cuma kalau pas lagi ke mall ketemu objek menarik, nah pengen kuabadikan gitu 🙂 buat kenang-kenangan 😀

      Like

  12. abis baca tulisan diatas, mengenai tiru meniru untuk saat ini setiap foto yang saya upload di blog ga peduli deh mau ditiru atau ngga. yang penting di publish dulu. hehehe

    tapi kalo masalah ruang publik saya juga sering kok mbak ditegur gitu.
    cuma biasanya kalo moto make hape ga begitu diperhatiin sih sama securitynya

    :p

    Like

    1. sama dong kita mas, aku juga sudah pasrah dan tau resiko mempublish foto atau tulisan di dunia maya ini 🙂 tapi masak gara2 takut ditiru kita berhenti berkarya? nggak dong kan? 😀

      Like

  13. Hmm, baca postingan ini aku jadi kepikiran juga karena hobi review gratis tempat2 makan atau cafe/resto gitu. Ternyata gak semuanya ‘bersedia’ dipublish di socmed ya. So far aku belum pernah ditegur sih, tapi yaa kudu ekstra hati2 juga berarti hehehe

    Like

    1. Kalau menurut mbak Fe (yg komentar diatas), biasanya mereka sih senang kalau ada yg review gratis 😀 tapi kalau mau review coba aja hubungi dulu customer service nya mbak 🙂

      Like

  14. Pernah baca di salah satu lifestyle blogger Indonesia, dan katanya memang kalau mau publish restonya alias poto-poto restonya sebelumnya memang ngehubungin dulu manager toko. Mungkin memang lebih nyaman aja kali ya..
    Tapi emang aneh sih kalau alesan nggak boleh di foto adalah takut ditiru..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s