La Ku Teh

Suatu hari, datanglah Bapak A (wisatawan dari kota A) ke kota Medan. Bapak A ini ingin sekali berkeliling di kota Medan. Maka dengan menyewa sebuah taksi dan seorang Supir, Bapak A pun memulai turnya di kota Medan.

Mulanya, Bapak A dibawa Supir melewati komplek Deli Plaza. Ceritanya dulu Deli Plaza masih berdiri dengan megah disana :D. Kalau sekarang mah, komplek eks Deli Plaza sudah dibeli oleh Agung Podomoro Land (APL). Dan rencananya, di atas tanah seluas lima hektar itu mau dibangun superblok yang bernama Agung Podomoro City Deli Medan. Haiyaahhh saya koq tahu, ya, apa yang terjadi di kota Medan sana? Hihihii :D. Iya, dong. Namanya juga Anak Medan, musti tahu dong perkembangan kotanya meskipun tak lagi tinggal disana 😀 :P.

By the way, menurut info yang saya dengar dari marketingnya hari ini, harga jualnya mulai dari Rp 24 juta/m2 untuk apartemen dan Rp 29 juta/m2 untuk kondominium. Siapa tahu ada yang berminat beli untuk keluarganya, untuk investasi, untuk ditinggali sendiri, atau mungkin ada yang mau beliin saya :D, nggak apa-apalah saya infokan disini, ya? Saya sih bukan broker apartemen. Cuma pemerhati properti saja 😀 (Ya amplooop pemerhati?? Sejak kapan, Mess?? Sejak APL masuk ke Balikpapan 😀 :P).

Jadi intinya adalah, kalau Anda tertarik, silahkan hubungi nomor yang tertera dibawah ini (dibawah manaaa??? nomor apa?? nomor sepatu?? :D) Berisik, ah. Pokoknya di bawah sana lah. Di bawah gugel dot com :P. Cari aja disana :D. Hari Senin harga naik 😀 :P.

***

Sampai dimana tadi kita? Maap nih, gara-gara si APL jadi agak buyar tulisannya hihihii :D.

Oke-oke, kembali ke Supir taksi…

Melihat luasnya komplek Deli Plaza itu, Bapak A terkesima. Pujian serta pertanyaan pun segera terlontar dari mulutnya. “Waaaaaah, besar sekali komplek ini. Siapa yang punya? Pastilah orang kaya berat, ya?” tanyanya kepada Supir.  “La Ku Teh*,” jawab Supir taksi dengan singkat. Bapak A manggut-manggut sambil terheran-heran masih dibawah pengaruh terkesima…

Supir taksi pun lanjut membawa tamunya ke bandara Polonia (dulu masih Polonia. Kualanamu masih di awang-awang :D). Lagi-lagi si Bapak A terkesima dibuat oleh besar dan luasnya bandara Polonia waktu itu. “Waaaaahh, besar sekali bandara ini. Lebih besar lagi daripada komplek Deli Plaza tadi. Siapa pula yang punya ini?” tanyanya lagi ke Supir taksi. “La Ku Teh,” jawab Supir taksi persis seperti untuk pertanyaan Bapak A yang sebelumnya. Kali ini sambil manggut-manggut dan geleng-geleng kepala akibat terkesima, Bapak A berkata dalam hati, “Hebat sekali si La Ku Teh ini. Sudah punya komplek Deli Plaza, eeh, bandara Polonia juga punya dia. Hebat.. Pastilah dia orang kaya berat.”

Selanjutnya Supir taksi membawa Bapak A ke arah Padang Bulan. Tiba disana, mereka melewati salah satu kerumunan massa yang riuh. Rupanya disitu sedang diadakan upacara kematian untuk seseorang. Penasaran, Bapak A bertanya ke Supir taksi, “Siapa yang meninggal itu?” Masih setia dengan dua jawaban sebelumnya, kembali si Supir menjawab, “La Ku Teh.” Dalam seketika raut wajah Bapak A berubah sedih. Dengan lirih ia berkata, “Ah, kasihannya. Begitulah, ya. Orang kaya mau seberat apa pun, mau punya komplek Deli Plaza atau punya bandara Polonia, mati juganya rupanya.” Supir taksi tidak menjawab apa-apa.**

***

*La Ku Teh: bahasa Karo. Artinya: mana saya tahu; mana ku tahu; saya tidak tahu.
**(Seperti yang diceritakan oleh seorang teman di Medan kepada saya beberapa tahun yang silam.)

LA KU TEH

***

Moral of the story:

  • Tak perlulah saya uraikan lagi, ya? Pasti kalian sudah bisa menangkap maksud cerita ini, kan, Kawans? 😉
  • Happy weekend. Kalau ada yang mau ber-La Ku Teh di weekend ini, pastikan dulu orang yang Anda ajak bicara tidak ngerti bahasa Karo, yaaa :D.
  • Happy A Pe El.. Eh, Happy La Ku Teh maksud saya 😀.

 

 

 

Advertisements

27 thoughts on “La Ku Teh

  1. hahaha.. lagian bapak2 nya gak nanya apa arti La Ku Teh
    jangan2 klo nanya juga sopeir taxi masih jawab La Ku Teh

    Like

    1. Kayaknya cerita ini terkenal banget dulu di Medan mbak 😀 iya tuh si deli udah dibeli APL. Tertarik beli, mbak? Hari senin harga naik lhoo *halaahhhh 😀

      Like

  2. hehehe pernah tau cerita ini dimana gitu tapi dengan versi yang beda
    pada akhirnya semua manusia baik itu kaya atau miskin bakalan kembali kepadaNya
    hehehe

    Like

  3. aku aja sering make frasa ini hahahah di medan dulu ya, enak kan gitu kayak dilagukan la ku teh
    Sekarang udah jarang, makanya pas baca yang terbayang bayang bakuteh ish

    Like

  4. hehehe bahasa itu unik ya, meskipun orang yang menyepakati penggunaan bahasa itu, tetapi kalau dikomunikasika dengan orang yang tidak tau ya jadi lucu 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s