Do it Now or Not at All

Saya mewarisi paham “do it now or not at all” dari orangtua saya. Jika orangtua saya meminta tolong saya untuk melakukan sesuatu dan saya tidak melakukannya dalam jangka waktu sebutlah sekitar 2 jam, maka orangtua saya lah yang akhirnya melakukannya. Mereka tidak suka menunggu. Bagi mereka: kerjakan sekarang atau tidak sama sekali.

Karena dibesarkan dengan paham seperti itu, mau tak mau, saya pun akhirnya menganut paham yang sama. Sebagai anak paling besar dalam keluarga, saya bertanggung jawab membagi tugas rumah kepada adik-adik (sudah pasti saya juga ikut kerja lho ya, bukan cuma membagi doang). Misalnya hari ini si A mengepel, besok si B menyiram bunga, besoknya lagi si C menyapu, dst.

Kadang, kalau setelah saya suruh atau saya ingatkan satu dua kali akan tugas mereka, dan jawaban mereka adalah: “iya, tunggu, bentar, nanti, bentar lagi, dua bentar, tiga bentar, capek bentar”, tapi tidak dikerjakan juga, maka sayalah yang akhirnya turun tangan. Persis seperti pola asuh orangtua saya, kan? Saya pun mengerjakannya dengan perasaan sebal dan memutuskan tidak mau berbicara dengan adik saya yang tidak melakukan tugas itu untuk beberapa lama (cewek banget :D).

Intinya adalah: saya tidak suka menunggu. Hei, waktu terus berjalan, lho. Makanya, kerjakan sekarang atau tidak sama sekali.

Bagi saya, kalau Anda terus menerus menunda, atau tidak mengerjakannya saat-itu-juga, itu artinya Anda memang tidak berniat mau melakukan. Kalau memang ada niat, Anda akan melakukannya right away. Segera. Tak perlu mesti diingatkan atau disuruh berkali-kali. Memangnya Anda kerbau yang harus dicambuk dulu berkali-kali baru bekerja/bergerak? Tidak, kan?

Sekarang, bagaimana dengan saya sendiri? Kalau seseorang minta tolong ke saya, saya akan jawab apakah saya bisa melakukannya atau tidak sama sekali. Ya atau tidak. Dan tentunya saya akan jawab kapan tepatnya saya akan melakukannya. Jika ada perubahan waktu, saya pasti akan memberitahu orang tersebut. Tidak mungkin saya diamkan (kecuali kalau saya tiba-tiba mati, dan orang yang meminta tolong pada saya tidak tau kalau saya sudah mati). Tak perlulah berulang kali mengingatkan saya. Pasti saya kerjakan. Saya bukan kerbau.

Lalu bagaimana setelah punya suami? Kalau misalnya saya minta tolong ke suami untuk melakukan sesuatu dan tidak dilakukan, apakah saya sebal juga dan mendiamkannya untuk beberapa lama? Kadang iya juga hahaha :D. Tapi kadar kesebalan dan ke-diamannya sudah banyak berkurang 😀 :P. Saya kan sudah dewasa :D. Sekarang saya berusaha melihat sisi positifnya dan mencoba mengerti suami serta mencoba melihat situasi dari kacamata suami. Lagipula kalau bukan saya yang mengerti suami, siapa lagi? Ya, kan? Masak wanita tetangga sebelah? :D. Hancur minah kalau begitu :D. Mungkin suami lupa atau permintaan tolong saya terlampau heboh :D. Dan itu menjadi pengingat bagi saya bahwa saya tidak bisa mengharapkan orang lain persis melakukan seperti yang saya harapkan.

Meski begitu, kadang muncul juga sih kalimat-kalimat dari si Bolis (bahasa Bataknya Iblis -red) ke dalam kepala saya yang berkata, “Tuh, kan. Kalau temannya yang minta tolong, pasti segera dilakukan. Lha coba kalau kamu yang minta, lihat aja tuh, ada aja alasannya. Ujung-ujungnya nggak jadi dikerjain.” Hahahah.. Kalau situasinya sudah begini, saya akan segera menjawab si Bolis dengan, “Pergilah kau berenang, Bolis! :D. Jangan racuni pikiranku :D. Suamiku lagi sibuk makanya dia lupa :D.”

Tentu ada efek negatif dan postifnya dari menganut paham ‘do it now or not at all’ ini. Efek negatifnya antara lain:

  • Saya jadi capek dua kali lipat. Karena selain mengerjakan tugas saya, saya juga harus mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh adik saya.
  • Rumah jadi sepi dan mulut kering hingga bau kalau saya diamkan suami saya gara-gara beliau tidak melakukan permintaan tolong saya :D.
  • Adik-adik dan suami menjauhi saya karena takut kena ‘timpuk’ 😀 :P.

Efek positifnya:

  • Saya menjadi lebih mandiri dan dewasa serta belajar agar tidak bergantung dan tidak berharap kepada orang lain.
  • Tubuh saya menjadi lebih kuat karena saya kerja dua kali lipat :D.

*******

do it now

Bagaimana dengan Anda, kawans? Lebih suka “do it now or not at all” atau “ntar dulu, ye” ? :D.

Advertisements

22 thoughts on “Do it Now or Not at All

  1. aku liat kondisi mes,
    kalo ke suami misalnya aku minta tolong urus ini itu yang aku bener2 ga bisa ngelakuin ya aku tunggu dan biasanya push dia sampe ngelakuin hal itu *istri demanding* 😀

    Tapi kalo aku emang bisa yowesss dilakukan dewe’ lahhhh 🙂

    Like

  2. Kadang kan ada istilah, “jangan pernah membantah orang tua” jadi kalau diminta melakukan sesuatu harus disegerakan. Aku sih setuju ya, tapi kayaknya kelak ketika jadi orang tua aku akan lebih fleksibel hehe.

    Harus menyesuaikan sudut pandang anak dan ortu. Terlebih ortu pernah jadi anak sedangkan anak belom pernah jadi ortu.

    Tapi, jika ingin berbuat baik, membantu orang lain (dengan kadar yang lebih ‘spesial’) aku sedang berusaha menerapkan paham “MENYEGERAKAN” hahaha 🙂 Jd kalau mau sedekah, ya sedekah aja, jangan banyak mikir. Dan lain-lain 😀

    Like

  3. kalau mamak-ku mungkin prinsipnya : ” do it now or I’ll do it “. dan kalau pd hahaha … aku pernah disuruh nyokap beliin vitamin rambutnya. dan aku lupa sampe seminggu loh. akhirnya pas nyokap bilang ” kalau mamak bisa belanja sendiri ke carrefour, mamak beli sendiri inang. ini mamak gak bisa ” ( nyokap gak ngerti belanja di supermarket, taunya cuma belanja di pasar … hahaha ), langsung deh aku merasa bersalaaaaaaah banget karena lupa. habis bilang gitu, langsung aku pasang reminder di HP, dan beli keesokkannya.

    tp setuju tuh, kerjakan sekarang atau gak sama sekali. drpd membuat orang ngarep-ngarep bakal dikerjain apa gak. tp kl aku biasanya liat orangnya dl. kl mmg orgnya lebih banyak ” ntar-nya ” ketimbang ” olo-nya “, gak bakal nyuruh deh. capek ati 😀

    Like

  4. aku kalau minta tolong nggak segera ditolongin, akhirnya kerjain sendiri. Kadang sama menggerutu, tapi lebih sering nggak menggerutu. Semakin bertambah usia semakin iklas ngerjain segala sesuatu. Kayaknya ini yang disebut proses iklas. Emang mandiri, tapi rawan diperdaya orang lain juga.

    Like

  5. Wah, prinsipnya keren, Mbak!
    Tapi bener juga ya. Mending langsung dikerjain sendiri deh daripada nantinya lebih repot lagi. Memang sih jadi lebih capek. Yah, hitung-hitung untuk melatih diri lah, hehe….

    Like

  6. kalo dirumah karena ada adik2 biasanya sih masih sering nyuruh2 adik.
    meskipun kadang juga ujung2nya saya yang ngerjain.

    tapi…. kalo lagi males-malesnya, saya sering di entar2in kalo mau ngelakuin kerjaan
    hehehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s