Si Anak

20130906-224517.jpg

Adalah seorang anak yang bercita-cita ingin menjadi orang sukses, kaya dan terkenal. Orangtuanya pun menyekolahkannya hingga ia tamat sekolah dan tidak kekurangan suatu apa pun. Hingga suatu saat, si Anak memutuskan meninggalkan tempat kelahirannya dan mencoba peruntungan di tanah asing.

Sebelum berangkat, orangtuanya berharap si Anak datang berpamitan kepada mereka agar diberikan restu. Namun apa boleh buat, si Anak tak kunjung datang untuk pamit. Orangtuanya tak bisa berkata apa-apa. Si Anak hanya berpesan, “Aku akan mengunjungi kalian kalau sudah sukses nanti.”

*****

Waktu berlalu. Kini si Anak telah mendapat impiannya yakni menjadi orang sukses, terkenal dan kaya. Namun ia tak kunjung pulang menemui orangtuanya. Orangtuanya hanya bisa melihat wajah anaknya melalui sebingkai foto si Anak ketika masih kecil, yang mereka gantung di rumahnya, di tanah kelahirannya. Mereka rindu berat tapi tak bisa bertemu. Hanya doa saja yang mereka panjatkan setiap hari, agar Si Anak selalu dilindungi Tuhan.

Suatu hari si Anak teringat akan ucapannya dulu, bahwa ia akan mengunjungi orangtuanya kalau sudah sukses. Sekarang ia sudah sukses dan pikirnya sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi orangtuanya yang sudah sangat tua. Namun si anak galau.

Ada tawaran bisnis yang sangat menggiurkan dari salah satu rekannya. Itu artinya, ia harus mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit. Ia menimbang-nimbang, “Mengunjungi orangtuaku masih bisa ditunda, tawaran bisnis menggiurkan seperti ini tidak mungkin datang dua kali.” Akhirnya si Anak batal mengunjungi orangtuanya. Sebagai gantinya, ia mengambil tawaran bisnis yang menggiurkan itu.

*****

Di tanah kelahirannya, orangtuanya yang sudah sangat tua kecewa berat dan sedih akan keputusan si anak yang tidak jadi datang. Mereka sangat terpukul hingga kesehatannya semakin menurun dan akhirnya meninggal dunia dengan membawa foto si Anak dalam pelukannya.

Si Anak akhirnya diberitahu dan ia sangat terkejut. Terkejut dan merasa bersalah. Merasa bersalah karena selama ini ia menunda-nunda untuk mengunjungi orangtuanya. Padahal hanya ia-lah satu-satunya anak mereka.

Si Anak berusaha secepat mungkin kembali ke tanah kelahirannya untuk melihat orangtuanya yang terakhir kalinya. Namun ia tidak bisa. Ia tiba di tanah kelahiran tiga hari setelah orangtuanya dikuburkan.

Di depan kuburan, si Anak menangis terisak-isak. Berbagai ungkapan penyesalan ia lontarkan. Berjam-jam ia menangis disana.

Setelah si Anak lelah menangis, tiba-tiba muncul malaikat tepat di sebelah kuburan orangtuanya.

Kata malaikat, “Untuk apa kau menangis disini? Orangtuamu sudah meninggal. Hanya onggokan daging yang sudah tak bernyawa kau tangisi disitu. Tidak ada lagi hubungan antara orang mati dan orang hidup. Rohnya sudah kembali ke Bapa di surga. Mereka sudah senang disana. Pikirmu mereka bisa kembali kalau kau menangis tersedu-sedu?”

Jawab si Anak, “Aku ingin bertemu dengan orangtuaku untuk yang terakhir kalinya. Tolonglah pertemukan aku dengan mereka. Aku sangat rindu.”

Kata malaikat lagi, “Untuk apa? Semasa mereka masih hidup kau tak mau mengunjunginya. Kenapa sekarang setelah mereka mati, justru kau ingin melihatnya?”

Jawab si Anak, “Aku salah. Aku ingin minta maaf kepada orangtuaku. Seharusnya aku pulang kemarin. Kalau aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku pasti pulang kemarin.”

Malaikat menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak. Kau takkan pulang meski kau tahu kalau orangtuamu akan meninggal. Aku tahu semua tentangmu, Nak. Bukankah Kau tak percaya kepada Kami? Kau anggap Kami ini hanya lelucon. Kau akan mengatakan “sampah” kalau kami datang ke hadapanmu dan memberitahu kalau orangtuamu akan meninggal. Jadi, tidak ada gunanya kau menyesal sekarang. Pulanglah ke tempatmu. Urus bisnismu. Kesempatanmu untuk bersama orangtuamu sudah habis.”

Jawab si Anak ketika malaikat berbalik hendak pergi, “Tunggu sebentar, jangan pergi dulu. Apakah tidak ada lagi harapan bagiku untuk menebus kesalahanku ini? Sungguh aku sangat menyesal. Tidakkah kau lihat penyesalan itu di dalam jiwaku?”

Jawab malaikat, “Kelak, kau akan menikah. Dan kau akan memiliki orangtua dari istrimu nantinya. Perlakukanlah mereka dengan baik. Kami akan menaruh tanda di hatimu agar kau selalu mengingat peristiwa ini. Dengan begitu, kau akan selalu ingat betapa sedihnya tidak ber-Bapak dan ber-Ibu lagi.”

****

Advertisements

6 thoughts on “Si Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s