Neraka

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya diterima bekerja di kantor cabang XXX, seorang pegawai perempuan yang sudah lama bekerja disana, menyambut saya dengan mengirimi ’email selamat datang’. Isinya berbunyi, “Selamat datang di neraka. Hahaha..”

Saya termenung sebentar membaca email perempuan itu. Heran, kenapa dia menertawakan saya? Memangnya saya ini badut? Bukannya mendukung atau menolong pegawai baru menyesuaikan diri di kantor baru, malah menertawakan. Saya pun segera memasukkan nama perempuan itu dalam daftar: YANG HARUS DIWASPADAI.

****

Dari cerita orang, rata-rata semuanya menghindari dipindah ke kantor cabang XXX tersebut. Dan dari semua berita yang saya dengar mengenai perilaku pegawai di cabang tersebut, satu pun tidak ada yang beres. Sehingga semua pegawai di cabang-cabang lain, takut dan gentar kalau mendengar nama kantor cabang XXX disebutkan. Tak heran ia disebut sebagai NERAKA.

Tapi rupanya kesanalah Tuhan membawa saya. Saya pasrah saja dan tidak gentar sedikit pun. Stigma jelek mengenai kantor XXX saya kesampingkan. Saya bulatkan hati, bahwa tujuan saya datang kesana adalah untuk bekerja dengan baik. Kalau ada yang harus diperbaiki, ya, mari kita perbaiki. Saya mau melihat dan mengalami kebenarannya, seperti apa sesungguhnya cabang XXX itu. Saya percaya, tak mungkin Tuhan meletakkan saya disana, kalau menurutNya saya tak sanggup.

*****

Setelah beberapa bulan bekerja disana (tentunya setelah mempelajari situasi, kondisi dan pegawai yang berada di kantor cabang XXX tersebut), kesimpulan saya adalah: kantor cabang XXX adalah kantor yang asyik. Orang-orangnya asyik diajak bekerja dan berdiskusi. Orang luar yang bukan bekerja di cabang XXX saja mungkin yang suka membesar-besarkan omongan.

Memang dahulu kala pernah ada kasus di cabang XXX tersebut. Yang pegawainya beginilah, begitulah, macam-macamlah. Mereka mengaku sendiri, ngomong langsung. Tapi itu sudah lama sekali. Manusia, kan, tentu saja berubah. Ada yang semakin dewasa, ada juga yang sebaliknya.

Makanya, menurut pengamatan saya setelah beberapa lama disana, cabang XXX itu sudah berubah. Bukan lagi neraka. Kecuali memang, perempuan yang HARUS DIWASPADAI itu. Ia suka ‘main belakang’. Maksud saya, bukan suka main-main di bagian belakang kantor, ya :D. Tapi, ia suka kalau ngomong di depan saya, mulutnya ‘manis’. Nah, di belakang saya, mulutnya ‘pahit’. Ia menanti-nantikan kejatuhan saya. Mengintip-intip kapan saya melakukan kesalahan. So Pathetic. Membuat saya jadi berpikir, kalau neraka sesungguhnya adalah dia.

****

Selang beberapa waktu kemudian, muncul kabar bahwa akan ada pengurangan pegawai di beberapa cabang. Perempuan itu termasuk salah satu yang akan diberhentikan. Dan akhirnya perempuan itu benar-benar pergi dari cabang XXX. Ah, Tuhan itu memang adil. Tidak dibiarkanNya neraka itu berlama-lama bercokol di kantor cabang yang kini sudah cemerlang.

Namun, kalimat “orang mati masih bisa meneror”, saya pikir benar adanya. Tak lama setelah perempuan itu pergi, emailnya datang lagi. Kali ini isinya, “Bacot lu.” Lagi-lagi saya termenung dibuatnya. Entah apa salah saya kepada perempuan yang satu itu. Bukannya berbaik-baik kepada saya -siapa tahu suatu saat nanti saya bisa menolongnya mencarikan pekerjaan baru- malah meneror.

Saya abaikan emailnya seperti yang pertama dulu. Lebih baik saya ngurusin pekerjaan ‘orang hidup’ daripada ngurusin email dari ‘orang mati’.

***

Kawans, mungkin ada dari Anda yang saat ini sedang dilanda ‘neraka’. Entah itu dalam pekerjaan, keluarga, organisasi, sekolah, lingkungan, dlsb. Tapi percayalah, Tuhan itu adil. Dan Anda tidak berada di tempat yang salah. Cepat atau lambat, neraka itu akan berlalu dari hadapanmu. Ada kalanya, maksud ‘neraka’ itu datang menghampirimu adalah untuk membuat Anda tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup ini. Dan biasanya, menurut pengalaman saya, setelah lepas dari ‘neraka’ yang satu, kita akan masuk lagi ke ‘neraka’ lain yang ‘apinya’ lebih besar.

api

Advertisements

19 thoughts on “Neraka

  1. anastasiaajeng says:

    wew – perempuan itu ya yak ampun sampe segitunya, tapi saya juga pernah kok ketemu dengan temen kantor yg so pathetic dan ngga tau kenapa ya yg pathetic itu rata-rata cewek [bukannya diskriminasi gender ya] entahlah biasanya wanita dan gosip selalu dekat hubungannya [lah kok jadi ke gosip] , well benar mbak Messa, saya selalu yakin bahwa apapun yang kita hadapi sekarang baik kondisinya neraka ato surga ato tengah-tengahnya [memang ada ya 😀 ] saya selalu yakin bahwa “If God brings you to it; He will bring you through it.”

    Like

  2. monda says:

    iya ..kadang orang luar suka kasih pandangan negatif dulu sih ya..
    waktu baru pindah kakak juga dengar orang ngomong yg jelek2 tentang calon teman2 kerja, tapi malah kenyataan sebaliknya lho…, untunga aja dulu nggak ikutan pesimis

    Like

  3. nonaaling says:

    gw mengalami hal yang beda beda tipis seperti ini 2 tahun lalu ketika masuk ke kantor sekarang. Ada orang yang niatnya memperingati kita untuk berhati-hati pada si ini dan si situ harus begini dan begitu. Pada kenyataannya insting dan hati kitalah yang menentukan tingkah laku dan reaksi kita terhadap apapun. Tetap pakai mata atau kacamata sendiri untuk melihat sesuatu, jangan pernah pakai kacamata/mata orang lain. Gw hanya berprinsip bersikap biasa saja, wejangan disesuaikan saja. Toh kita punya mata dan punya hati, kalo niat baik akan ada jalan baik dan teman-teman baik dan itu gw buktikan sendiri.
    Neraka hanya ada dipikiran, dipikiran orang orang yang memang kacamatanya sudah harus diganti 🙂

    Like

  4. Ailtje Binibule says:

    Tempat kerja itu bisa dilihat sebagai neraka, bisa dilihat sebagai surga. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, tergantung lagi repot atau nggak. Kecenderungan orang-orang kalau lagi repot, saling nyolot sana sini, apalagi kalau pas tanggal tua.

    Tapi ada satu hal yang saya sampai detik ini nggak paham, di Indonesia itu walaupun posisi sama-sama kacung kampret, kalau yang satu lebih tua, tetep yang lebih tua merasa lebih berkuasa dan kalau sama orang yang lebih tua dilarang marah, walaupun yang tua yang salah. Capek deh…

    Like

  5. ratna wulandari says:

    meniru perkataan salah satu ustadz: “Jika seputaranmu terasa gelap, curigalah bahwa dirimu yang dikirim Allah sebagai cahaya bagi mereka”. mungkin Mba Messa ini memang dikirim sebagai cahaya di kantor cabang XXX 🙂 salam kenal yah, Mba Messa! eh, atau cukup Messa ajah aku panggilnya?

    Like

  6. evy doloks says:

    kalau pengalamanku, pas masuk baru ketauan siapa – siapa yang disebut ” neraka “. dulu aku sempat bentrok sama si ” neraka ” ini. aku tahu aku di posisi yang benar. dan semua orang termasuk bossku juga menilai aku yang benar. waktu itu udh siap deh, dia mo ngomongin apa di belakang, who cares ! dan bisa dikatakan semua orang di kantor sudah gerah karena orang ini sudah melebih-lebihi boss. syukurlah tahun ini dia resign. semua bisa bernafas legaaaa …. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s