Healthy and Sexy in My 30s

 hand

 

Beberapa bulan lalu saya bangun pagi dengan sekujur tangan kanan terasa demam/meriang. Setelah saya raba, terasa paling sakit di pergelangan tangan. Saya pun memeriksakannya ke dokter A dan beliau menjelaskan panjang lebar dengan ‘bahasa malaikat’ serta meresepkan obat untuk tangan saya. Berhubung saya bukan ‘malaikat’, melainkan ‘manusia’, saya nggak ngerti entah apa yang dijelaskan dokter A.

Setelah mengonsumsi obatnya selama beberapa hari, tetap tidak ada perubahan di tangan saya. Masih saja sakit. Ini tangan kanan yang notabene paling sering digunakan untuk bekerja, lho! Untuk makan, untuk masak, untuk mandi, untuk ngetik, dlsb. Kalau saya kidal, mungkin akan saya abaikan saja sakitnya. Tapi berhubung saya bukan kidal, maka saya butuh tangan kanan saya sehat secepatnya.

Karena tidak ada perubahan, saya pun pergi ke dokter B. Dokter B menjelaskan dengan ‘bahasa manusia’ alias bahasa yang dipahami oleh orang awam seperti saya ini. Beliau memberi contoh sapu lidi. Sapu lidi biasanya kan diikat supaya lidi-lidinya bersatu. Nah, kadang karena terlalu sering dipakai, ikatannya lepas, lidinya pun keluar dari jalur. Kira-kira tangan saya mengalami hal seperti itu juga. Tangan kita ini terdiri dari banyak otot yang terikat pada pergelangan tangan. Karena terlampau sering dipakai, atau mengalami tekanan yang terlampau berat, ikatan pada pergelangan tangan itu jadi lepas atau mengalami kerusakan. Kira-kira macam gitulah.

“Tapi orang lain juga menggunakan tangannya seperti saya, Dok, koq mereka aman-aman saja, tuh?” tanya saya dengan muka melas. “Karena tekanan yang dialami tangan mereka tidak sebesar tekanan yang dialami pergelangan tangan Ibu, atau mungkin juga karena tingkat ketahanan tubuh mereka lebih tinggi daripada Ibu..” jawab dokter B.

Dokter B merekomendasi saya pergi ke dokter C yang spesialis bedah tulang. Saya pun manut, demi sembuh. Setelah diperiksa oleh dokter C, beliau mengatakan bahwa hal ini sering terjadi pada perempuan seusia saya. Beliau mempunyai banyak pasien yang keluhannya sama seperti saya. Jreng jreng jreng….

Pertanyaannya, “Koq bisa, Dok?” “Biasanya ini terjadi karena trauma dan kolesterol tinggi, Bu….” Jreng jreng jreng… Seingat saya, tangan saya tidak pernah trauma. Jadi… “Ibu sudah pernah cek kolesterol?” sambung si dokter lagi. “Tahun lalu pernah, Dok, hasilnya oke,” jawab saya. “Kalau begitu, nanti cek lagi ya, Bu. Minggu depan datang lagi kemari dengan membawa hasilnya. Jangan dikira karena tubuh kita tidak gemuk, kolesterol tidak tinggi…” Jreeeeng…

“Untuk sekarang, pergelangan tangan Ibu harus disuntik. Atau Ibu mau dibedah saja?” tanya dokter. “Mana yang terbaik sajalah menurut Dokter. Saya ikut saja. Saya mau sembuh, Dok.”

***

Diabetes & Kolesterol Tinggi

Suami pernah berkata (gara-gara luka saya lama sembuhnya), “Jangan-jangan kamu sudah kena diabetes.” Jreeeng…

Saya pun meluncur di gugel dot com (kalau nyari info di perpustakaan lama cing :D), mencari tahu tentang diabetes dan kolesterol tinggi. Menurut hasil pencarian, diabetes ada dua macam. Pertama, terjadi karena diturunkan/diwariskan, kedua karena gaya hidup yang kurang baik.

Semua ciri klasik kena diabetes dan kolesterol tinggi, terdapat dalam diri saya ketika itu. Saya tidak obesitas, tapi rupanya diabetes dan kolesterol tinggi tidak pilih-pilih tubuh.

Sering menguap, gatal-gatal, sering kencing, sering pusing, cepat lapar, selalu haus, cepat lelah, sering mengantuk, tubuh kesemutan, luka lama sembuh, dll… Semuanya terjadi pada diri saya, dan saya perhatikan, belakangan ini memang semakin parah.

Mengapa diabetes bisa terjadi? Kira-kira begini penjelasannya dengan “bahasa manusia”: kita makan, tapi tidak berolah raga. Karena tidak berolah raga atau tidak melakukan aktivitas berat, makanan yang kita makan itu tidak diubah menjadi energi, melainkan diubah menjadi gula dan lemak hingga menumpuk didalam darah. Kadar gula di dalam darah menjadi tinggi. Darah yang mengalir didalam tubuh menjadi tidak lancar, karena “dilarang lewat” oleh lemak. Saraf pun terganggu, otak terganggu (makanya jadi sering kencing, mengantuk, sering makan, cepat haus, dlsb). Intinya, semua bagian tubuh kena imbasnya.

Lalu apa pula hubungan kolesterol tinggi dan diabetes? Kolesterol tinggi terjadi karena pola hidup yang tidak sehat, kurang olah raga, diabetes (nah ini dia hubungannya), dan tentu saja karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang berkolesterol tinggi. Berarti orang yang kena kolesterol tinggi otomatis kena diabetes, kan? Ih, ngerinya…

***

J-Lo, Olahraga…

Malamnya sepulang dari dokter C, saya menonton final American Idol. Kalau Anda juga menontonnya waktu itu di televisi, berarti Anda juga menyaksikan Jennifer Lopez alias J-Lo bernyanyi sambil jingkrak-jingkrak di panggung dengan menggunakan sepatu bertumit tinggi!

Mpok J-Lo yang notabene sudah berumur empat puluhan dan sudah pernah melahirkan anak kembar itu, nampak sehat dan tubuhnya masih tetap berisi serta seksi (baca: tidak ada tumpukan lemak yang menjuntai kemana-mana). Lha saya, yang masih berumur tiga puluh, belum pernah beranak, sudah peyot. Mau jadi apa saya nanti? Kalau tidak berolahraga extra disiplin, saya akan bertambah peyot nantinya, iya nggak?

Maka, malam itu saya putuskan: demi kolesterol rendah, demi sehat serta demi seksi, besok pagi mesti olahraga!

jalan

Sejak kecil, ayah saya selalu menyuruh kami anak-anaknya untuk berolah raga. Minimal senam di lantai (pakai tikar) seperempat jam setiap pagi, sebangun tidur, sebelum mandi dan bersiap ke sekolah. Tapi waktu itu kami sering mangkir dan kucing-kucingan dengan ayah. Dalam pikiran kami waktu itu, olahraga adalah untuk ayah, bukan untuk kesehatan kami. Sekarang baru sadar, betapa hebatnya manfaat olahraga itu dan betapa ‘mahalnya’ kesehatan itu.

Keesokan paginya, sehabis sarapan, saya berolahraga jalan kaki di komplek rumah. Saat itu tubuh saya ‘terkejut’. Mengapa? Karena sudah lama sekali saya tidak berolah raga dan saya hampir lupa bagaimana rasanya berjalan kaki dibawah mentari pagi sambil mendengar kicauan burung. Ah, mewah sekali ternyata rasanya! Beruntunglah saya masih bisa menikmati semua kemewahan itu!

mentari pagi

Pagi itu saya jalan kaki selama satu jam. Perasaan saya senang, tubuh saya menjadi rileks, keringatan, dan yang pasti oksigen menjadi bebas masuk ke dalam tubuh saya :). Saya juga mengubah gaya makan saya. Saya sarapan havermut dan susu. Sebanyak mungkin, saya makan sayur dan buah yang ‘baik’.

buah

20130715-212835.jpg

***

Bagus!

Setelah seminggu berolahraga dan mengubah gaya makan, saya pun cek kolesterol ke laboratorium (lab). Hasilnya, kolesterol saya bagus sekali! Cihuy! :). Saya pun membawa hasil lab ke dokter C. Beliau juga senang dengan hasilnya. Dan tangan saya sudah bisa digerakkan seperti sedia kala. Sudah bisa mengadon donat 😀 hihihiii…

***

Suatu ketika, saya hendak mencuci pakaian di mesin cuci. Tangan kiri saya berada di dalam mesin cuci untuk mengubek-ubek pakaian. Waktu itu, air sedang mengisi sampai ke batas yang saya inginkan. Kalau air sudah mencapai batas yang diinginkan, mesin cuci pun otomatis mulai memutar pakaian. Hari itu saya tidak memperhatikan kalau airnya sudah mencapai batas. Sehingga begitu mesin cuci mulai bergerak memutar, tangan kiri saya refleks menarik diri dan.. BAAANGG! Pergelangan tangan kiri saya ‘menabrak’ pinggiran mesin cuci. Sakit? Pasti! Muka saya sampai meringis :(.

Ketika saya usap-usap supaya sakitnya berkurang, saya jadi teringat dengan tangan kanan saya dulu… Eng ing eng… Jangan-jangan, tangan kanan saya itu awalnya sakit karena ‘tabrakan’ alias trauma seperti kata dokter… Ow oww… Dan jangan-jangan, saya juga memang tidak kena kolesterol tinggi atau diabetes? Mungkin karena saya saja yang sudah parno duluan gara-gara ucapan Dokter dan Suami…

Hmm.. Entah yang mana pun yang benar, yang jelas tangan kanan saya sudah sembuh dan tangan kiri saya tidak menjadi sakit seperti sodaranya, si tangan kanan. Saya juga masih tetap berolahraga dan makan seperti kata Tyra Banks, “I love food, and feel that it is something that should be enjoyed. I eat whatever I want. I just don’t overeat.”

i love food

***

Memang saya akui, tidak cukup hanya olahraga dan makan yang baik saja supaya healthy and sexy. Pikiran juga mesti dijaga. Pikirkanlah yang penting untuk dipikirkan, jangan memikirkan yang tidak penting. Betul? 😀 Dan juga, ambillah waktu untuk melakukan hobi Anda. Entah menyanyi, melukis, menulis, memotret, menari, membaca, memancing (bukan mancing orang berantem, ya 😀 hihii), memasak, dlsb.

Oya, sebagai referensi bacaan untuk hidup sehat, Anda bisa membaca buku yang menurut saya informatif ini:

anda tidak perlu sakit

keajaiban antioksidan

*****

So… Yes, I wanna be healthy and sexy in my 30s.How about you dear friends? Menurut Anda sehat dan seksi itu bagaimana?

Advertisements

9 thoughts on “Healthy and Sexy in My 30s

  1. Halo, Mbak Messa.
    Syukur ya tangan kanannya sudah sembuh 🙂
    Oh iya, saya baru berusia 21 tahun. Tahun lalu seringkali mengalami sakit di leher bagian belakang. Begitu ke dokter, diminta untuk cek tekanan darah dan kolesterol. Waktu itu ngeles bahwa badan saya langsing banget ini gimana bisa kena 😀 😀
    Gak lama sejak itu saya memilih untuk mulai hidup sehat. Rutin olahraga juga tentu saja, hehe
    Selagi masih muda, iya kan? 😉 😉

    Like

  2. Memang sudah kodratnya kali ya mulai umur 30 an, lemak mulai menggelambir. Sudah nikah serasa “tidak dituntut lansing” lagi karena sudah laku 😆 . Belakangan sih saya perbanyak makan buah, dan banyak gerak, ya jalan lah ngider kompleks yg penting tdk hanya duduk berjam jam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s