Mendoakan Pasangan

ayam enak

Saya punya seorang kenalan perempuan (sebut saja namanya Santi), yang suaminya (sebut saja Randi) adalah seorang yang gemar memakan makanan enak. Namun rupanya kegemaran suaminya tersebut telah membuatnya mengidap diabetes tipe dua. Diabetes tipe dua disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat/baik. Gigi Randi sudah keropos disana-sini akibat tingginya kadar gula dalam darahnya. Randi bertubuh kurus, tidak gemuk.

Suatu hari, Ibu saya mendatangi mereka dengan membawa masakan khas Ibu, sekaligus kesukaan Randi. Di dapur, di tempat yang tidak terlihat suaminya, Santi protes kepada Ibu saya, “Aduh, kenapa bawa ayam enak? Randi akan makan melulu nanti…”

Dan benarlah, ketika mereka makan bersama, Randi tidak bisa berhenti memakan si ayam meski kadang ia merintih karena sakit di daerah mulutnya. Tidak tahan melihat penderitaan suaminya, Santi pun berkata, “Sudahlah bang, cukuplah ayamnya untuk sekarang. Nanti disambung lagi.” Randi rupanya tidak senang akan ucapan istrinya itu. Sambil setengah membanting piring yang berisi ayam, ia menjawab, “Ribut sekali pun kau! Untuk kau sajalah semua ini!” Randi bangkit dari kursi, meninggalkan Santi serta Ibu saya yang terdiam di meja makan.

***

Dulu, Ayah saya perokok berat. Kata-kata apa pun yang diucapkan Ibu saya supaya Ayah berhenti merokok, tidak ngefek. Sekali dua kali Ibu berbicara, mengungkapkan keberatannya, namun Ayah tetap tidak berhenti merokok. Ibu pun tak pernah lagi menyinggungnya. Saya yakin, Ibu saya tahu kalau berbicara untuk ke tiga kalinya adalah tindakan bodoh.

Ayah berhenti merokok ketika salah satu anggota keluarga kami meninggal dunia akibat merokok berat dan gaya hidup tak sehat. Ketika itu, kami anak-anaknya masih kecil. Setelah kejadian itu, Ayah mulai berpikir: bagaimana nanti dengan hidupnya yang notabene juga perokok berat? Anak-anaknya masih kecil… Kalau Ayah meninggal, siapa pula yang nantinya memberi makan (menafkahi) keluarga? Maka demi kami keluarganya, akhirnya Ayah berhenti merokok.

***

Yang mau saya sampaikan dari kedua kisah diatas adalah, meskipun sudah menikah, sudah menjadi suami-istri, sudah menjadi satu, namun sesungguhnya suami dan istri tetaplah dua pribadi yang berbeda yang mempunyai kehidupan pribadi masing-masing. Ada hal-hal yang bisa kita intervensi (campuri), ada juga hal-hal yang mutlak tidak bisa kita campuri, seperti dalam dua kisah di atas. Entah itu gaya hidup, pertemanan atau kehidupan sosial, cara berpikir, hubungannya dengan Tuhan, kebiasaan, pekerjaan, kesukaan, hobi, dlsb, pastilah ada yang tidak bisa kita campuri dan tidak bisa kita ubah.

Randi dan Ayah mempunyai masing-masing kesukaan. Randi suka makan enak, Ayah suka merokok. Lalu Santi dan Ibu masuk, mereka ingin supaya suami mereka berhenti melakukan kesukaan yang -menurut mereka- tidak baik untuk kesehatan. Lebih jauh, mereka ingin supaya suami mereka berubah mengikuti kebiasaan hidup mereka yang -mereka anggap- lebih sehat.

***

Mana yang Anda pilih: 1. Suami/istri Anda berubah menjadi seseorang yang persis seperti yang Anda inginkan. Tetapi di lubuk hati mereka, perlahan mulai muncul bibit-bibit kebencian kepada Anda. Dan perlahan tapi pasti, rumah tangga berubah menjadi ‘neraka’ ; 2. Suami/istri Anda tidak berubah menjadi seseorang yang persis seperti yang Anda inginkan, tetapi mereka ‘cinta mati’ kepada Anda, dan ‘surga’ tumbuh di rumah tangga Anda. Pilih yang mana?

***

Maka, daripada Anda sibuk sepanjang tahun setiap hari mengubah pasangan Anda menjadi seperti yang Anda inginkan, mengapa tidak menyerahkan mereka sepenuhnya kedalam tangan Tuhan? Maksud saya, doakanlah pasangan Anda agar Tuhan membentuk mereka menjadi pribadi terbaik sebagaimana yang Tuhan inginkan, bukan seperti yang Anda inginkan. Lagipula, kalau bukan kita yang mendoakan pasangan kita, siapa lagi? Dan bukankah justru karena perbedaan-perbedaan itu yang membuat Anda mulanya tertarik lalu jatuh cinta kepada pasangan?

***

Sebagai penutup, saya pernah mengenal seorang Ibu Pendeta yang mempunyai seorang suami menderita kanker dan akhirnya meninggal dunia. Saya heran, Ibu itu tetap segar bugar meskipun usianya sudah senja, tetapi sang suami yang telah hidup puluhan tahun bersamanya, justru kena kanker. Apa pasal? Rupanya, meskipun menikah dan keduanya hidup satu atap, kedua orang ini menjalani gaya hidup yang berbeda. Si Ibu menjalani gaya hidup sehat, si Bapak sebaliknya. Ibu Pendeta tidak mau mencampuri gaya hidup pilihan suaminya tersebut. Persis seperti yang dilakukan Ibu saya, sekali dua kali beliau memperingatkan suaminya, namun tidak di kali ketiga.

“Kalau suami saya jatuh sakit karena gaya hidup pilihannya, maka sudah menjadi kewajiban saya untuk mengurusnya dalam kasih. Tapi untuk mengubah suami saya, itu saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Saya cukup berdoa saja. Meskipun suami saya akhirnya meninggal karena gaya hidupnya itu, saya percaya, pasti itulah yang terbaik menurut Tuhan.” ujar Ibu Pendeta kalem.

Advertisements

12 thoughts on “Mendoakan Pasangan

  1. kalo aku mending kisah randy, bicara kaya gitu tapi ya emang sedikit makan ati kalo jawabannya seperti itu yah. Tapi sabar aja deh, tar juga suami tau kenapa kita berbuat seperti itu.
    Btw aku baru nyadar kl km non muslim :p maaf yah ..
    Padahal km sering pos abis ketemu pendeta, dari gereja … hihihi

    Like

  2. Aku pribadi lebih suka dengan gaya Ibu terhadap Ayah yang perokok. Di situ Ibu lebih memilih bisa tetap “mengendalikan” Ayah karena Ayah merokok di hadapannya daripada Ibu terkaget-kaget melihat Ayah yang menuruti kemauan Ibu tidak merokok tiba-tiba sakit parah karena sebetulnya si Ayah masih merokok secara sembunyi-sembunyi.

    Like

  3. aq gak pilih Randy atau Ayah… tp dr prtanyaan di atas aq pilih no.2 “Suami/istri Anda tidak berubah menjadi seseorang yang persis seperti yang Anda inginkan, tetapi mereka ‘cinta mati’ kepada Anda, dan ‘surga’ tumbuh di rumah tangga Anda.” karena no.2 ini gak menunjukkan kalimat hrs spt Randy atau Ayah seperti yg no.1, jd itu hanya pernyataan tanpa terkait ke permasalahan sebelumnya, hehehe…

    Menurutku mendoakan pasangan itu sedini mungkin, bahkan dari lahir. Sehingga dalam waktuNya Tuhan, kita pun dipertemukan dgn pasangan yg telah dipersiapkan sebelumnya, sambil kita pun mempersiapkan diri sendiri. Jadi dalam hal cerita ini, si Randy dan Ayah sudah diubahkan terlebih dahulu sebelum bertemu istri mereka.

    Bila tetep terjadi kondisi spt di atas, pertanyaan nya adalah: kemane aje pas waktu pacaran? kok pas udah nikah masih berkutik dgn hal itu? bukan kah waktu pacaran pun udah tau demikian?

    Aq belajar bhw seharusnya dalam keadaan single atau pun married, yg menjadi tujuan hidup kita atau pun pasangan adalah menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai rencanaNya. Sehingga karakter yg mau diajar dan mau belajar selalu kita miliki, yang tentunya akan berlapang dada ketika pasangan mengingatkan hal yg terbaik utk kita. Maka tulisan di atas “meskipun sudah menikah, sudah menjadi suami-istri, sudah menjadi satu, namun sesungguhnya suami dan istri tetaplah dua pribadi yang berbeda yang mempunyai kehidupan pribadi masing-masing” seharusnya dibalik menjadi berikut “meskipun sesungguhnya suami dan istri tetaplah dua pribadi yang berbeda yang mempunyai kehidupan pribadi masing-masing, namun menjadi satu” yaitu, sbg suami istri yang saling mengasihi seperti kepada dirinya sendiri.

    maaf jadi kepanjangan ^_^
    salam…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s