E.. Tika..

etika

Mungkin teman-teman sudah pada tahu cerita atau kisah di balik foto yang di atas (saya meminjamnya dari akun fesbuk seorang teman). Jika salah satu dari Anda para pembaca budiman, ada yang berteman dengan sang fotografer, tolong kirimkan salam saya, siapa tahu beliau ada waktu untuk memotret Erau tahun depan disini :D. Atau jangan-jangan, jika Anda sendiri orangnya, maka salam kenal dari saya! 🙂

***

Foto di atas terjadi sewaktu perayaan Waisak di Borobudur kemarin. Banyak pihak yang mencaci si fotografer, karena katanya dia tak punya etika dalam mengambil gambar. Banyak juga pihak yang menyalahkan panitia karena tidak membuat aturan atau batasan yang jelas untuk para pengambil gambar/foto. Bahkan banyak juga yang berkomentar, sebaiknya masyarakat umum tidak diperbolehkan masuk saat perayaan Waisak tahun depan di Borobudur.

Saat saya masih kecil, orangtua saya mengajar kami untuk membuka sepatu atau sandal di teras rumah atau di luar rumah sebelum masuk ke dalam rumah. Tujuannya adalah, supaya sepatu kami -yang entah sudah menginjak apa saja diluar sana- tidak mengotori lantai dalam rumah. Begitulah etika-nya dahulu, ketika hendak masuk ke dalam rumah orangtua saya.

Kebiasaan ber-etika seperti itu saya bawa hingga sekarang ke rumah saya. Kecuali kalau saya sudah terburu-buru banget atau kebelet banget mau ke toilet sepulang dari bepergian, atau ketika saya malas banget untuk membuka sepatu diluar rumah, maka terpaksa sepatu/sandal saya ikut masuk ke dalam rumah.

Namun begitu pun (dalam hal pengecualian itu), saya merasa tidak enak kalau saya memakai sepatu/sandal di dalam rumah. Ada perasaan bersalah atau sedih ketika saya tidak ber-etika. Kenapa tidak dilepas saja dulu sepatu atau sandal saya di luar rumah? Masak iya, saya tidak bisa menunggu barang 10 detik? Memangnya saya langsung mati gitu kalau tidak ke toilet dalam 10 detik?

Begitu pula ketika saya memotret upacara Erau beberapa waktu lalu. Saya patuh kepada aturan panitia, kepada etika-nya, yaitu boleh memotret dari jarak 4 meter. Bukan dari jarak dekat. Dan seperti yang sudah saya tuliskan pula, banyak yang tidak taat kepada aturan itu. Banyak yang tidak punya etika demi mendapatkan foto bagus. Upacaranya pun menjadi tidak khusyuk lagi menurut saya. Miris.

Punya etika seolah sudah menjadi ‘barang mahal dan langka’ sekarang.

Maka, menurut saya, keputusan apa pun yang akan diambil panitia Waisak tahun depan di Borobudur, selama kita tidak punya etika, bisa dipastikan, kejadian di atas akan terulang, atau bahkan mungkin lebih buruk lagi.

Bagaimana dengan Anda kawans, masihkah ada etikamu?

Advertisements

20 thoughts on “E.. Tika..

  1. pursuingmydreams says:

    Kalau sudah ada aturan misal memotret dari jarak 4 meter, ya harusnya dipatuhi. Nah klo bicara dari sisi kerjaan (fotografer)nya mereka dituntut mendapatkan foto sebaik mungkin, ya jadinya persis foto diatas itu, jarak dekat sekali. Jadi mirip para paparazi :D.

    Klo bertamu ke rumah orang Jerman, malah sepatu ga boleh dilepas loh, sama yg punya rumah biasanya dibilang “pakai aja, jangan lepas” .. saya baru tahu alasannya ketika kursus Integrasi. Jadi kalau sepatu dilepas seringnya menimbulkan aroma2 bau kaki :)). Makanya klo ada tamu orang Jerman ya mereka biasa aja tuh pakai sepatu kedalam rumah.

    Like

    • h0tchocolate says:

      iya kak, beda rumah beda negara beda-beda pula etika nya kan.. mengenai juru kamera itu, meskipun mereka dibayar utk ngambil gambar yg bagus, mestinya pakai lensa jarak jauh dong ya..

      Like

  2. helgaindra says:

    agak bingung sih ya kalo mau ngomongin etika tentang mengambil gambar pas beribadah gitu.
    cuma mungkin kalo saya jadi potografer itu saya bakal memanfaatkan lensa jarak jauh untuk mengambil foto dari jarak yang sudah ditentukan panitia.

    kalo menyalahi aturan seperti itu juga bakal ngeganggu orang yang beribadah..

    Like

  3. teena says:

    huah..saya juga ngikuti kabar mirisnya perayaan Waisak Borobudur tahun ini..tapi baru lihat gambar itu. Sungguh tidak etis..
    semoga tahun depan tidak terulang..

    Like

  4. nyonyasepatu says:

    Aku setuju tuh waisak, borobudur ditutup aja atau dikasih pembatas, 6 taon lalu aku nonton waisak di Borobudur n sedih bgt liat moncong2 lensa deket bgt ke muka biksu2 yg lg berdoa. Cobaaaaaaa kalo kita digituin, gimana rasanya.

    Like

  5. ikabundajoy says:

    meskipun tidak ada tulisan utk aturan pengambilan foto min jarak 4m, harusnya kita tetep menghargai saudara2 kita yg sedang sembahyang…
    definitely agree with your title: ETIKA musti ada…
    di gereja ku pun klo ada yg lagi di baptis ato diberkati oleh Pendeta, juru foto tetep harus berada di bawah altar… jadi Majelis harus tetep sabar ingetin hal ini… *jiahhh…yang satu tempat ibadah pun masih belum beretika….. #miris…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s