Raun-raun

Pernah dengar istilah raun-raun? Waktu kecil saya senang sekali kalau diajak raun-raun oleh orangtua saya. πŸ˜€ Biasanya kami raun-raun pada malam hari. Berdiri di kursi depan mobil (di antara orangtua saya tentunya), saya dengan wajah sumringah melihat kelap-kelip lampu di kota pada malam hari, rasanya udah macam betul aja lah itu (muncul logat anak Medan-nya hahahaaa). πŸ˜€

Sering kami hanya raun-raun saja. Nggak singgah di sana atau singgah di sini, beli ini atau beli itu. Pokoknya hanya keliling kota. πŸ˜€ Bagi anak kecil yang hidup di zaman yang saat itu belum ada i-pad, i-phone, i-capekdeh, dan i-i lainnya, raun-raun adalah hal yang keren menurut saya.

Raun-raun artinya jalan-jalan, muter-muter, atau pusing-pusing kalau kata anak Medan. Kemungkinan kata ini berasal dari bahasa Inggris: round-round. Bagaimana dengan Anda, kawans? Ada yang suka raun-raun?

Jadi selama di Hongkong kemarin, kami raun-raun dengan MTR (sebutan untuk kereta cepat nan canggih di Hongkong). Mungkin kita suka terbalik-balik mengucapkannya dengan MRT yang ada di Singapura, ya? Tapi yang jelas, keduanya merupakan alat transportasi massal. Untuk Anda yang belum tahu, di Indonesia belum ada MTR/MRT. Mudah-mudahan yang rencananya akan dibangun di Jakarta bukan rencana tinggal rencana, ya? Mudah-mudahan…

Begitu kami masuk ke dalam MTR, ia pun segera melesat. Mamak saya langsung mengomentari si MTR ini dengan, “Dang pardihana ate Jakarta? (terjemahan bebasnya: nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Jakarta, ya?)” Ya iyalah, Mak… Jakarta macet nggak jelas, lha ini… (silahkan Anda sambung sendiri, dalam hati saja).

Oya, The Peak atau Victoria Peak yang menjadi destinasi utama kami di Hongkong kemarin itu, menyambut kami dengan cuaca yang tidak bersahabat. Ia, yang katanya adalah puncak tertinggi di Hongkong (makanya disebut The Peak), kala itu berkabut tebal, sehingga tidak kelihatan apa-apa dari atas. Kabut thok! Pupuslah impian kami untuk memotret Hongkong dari puncak tersebut. 😦 Kalau tidak ada kabut, maka seperti inilah kira-kira pemandangan dari atas.

Secara keseluruhan, cuaca Hongkong selama kami berada di sana, kurang bersahabat. Selalu mendung, hujan dan berawan gelap. Mungkin waktu yang paling cocok untuk berkunjung ke Hongkong adalah Februari-Juni? Hmm, entahlah.

Oke kawans, berikut ini saya tampilkan lagi beberapa foto yang berhasil saya abadikan. Enjoy!

Advertisements

7 thoughts on “Raun-raun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s