Erau Budaya Balikpapan: Pelas Banua (Catatan Singkat)

Sebelumnya sudah pernah saya singgung mengenai ‘Erau’ disini. Menurut wikipedia, Erau berasal dari bahasa Kutai Eroh’ yang berarti ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Erau Budaya Balikpapan kali ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun kota Balikpapan yang ke-116. Karena penasaran seperti apa sebenarnya acara Erau ini, saya pun memutuskan untuk pergi melihatnya di hari kedua pelaksanaan acara tersebut.

Hari itu matahari bersinar sangat terik. Setibanya di lokasi, saya ‘tersesat’. Karena menurut informasi yang saya dapat, acaranya diadakan di Banua Patra. Ternyata bukan. Lebih tepatnya, di komplek Banua Patra. *Anda lihat, hanya gara-gara satu kata yang hilang, manusia bisa tersesat*. Dan si pemberi informasi ini pun setengah-setengah dalam memberikan info kepada khalayak ramai (baca: pengunjung umum, bukan undangan khusus), yang menggunakan angkutan umum macam saya ini.

Maka dibawah matahari terik itu, saya pun berjalan mencari dimana tepatnya di komplek Banua Patra itu diadakan acara pada hari kedua tersebut. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang sedang hilir mudik di komplek tersebut, ternyata tak satu pun dari mereka yang tahu tentang acara Erau itu. Alamak! Yang berada di komplek sendiri saja tidak tahu, bagaimana pula dengan saya yang datang dari luar? Du du du.. Kalau dipikirin semua, bisa sewot sendiri jadinya saya…

Setelah berputar-putar cukup lama, saya pun mengikuti insting, berjalan ke arah Kafe Kilang yang letaknya lumayan jauh, menurut saya, dari gedung Banua Patra itu. Apalagi dengan matahari yang puanas tenan siang itu, semakin jauh saja rasanya jaraknya.

Ternyata benar, acara hari kedua siang itu bertempat di Kafe Kilang. Saat saya tiba, panggung yang berdiri di tengah halaman, sedang diisi oleh penyanyi yang menyanyikan lagu daerah. Pakaian yang mereka kenakan didominasi warna kuning. Lagu serta pakaian mereka mengingatkan saya kepada budaya Melayu yang mudah dijumpai di Medan (Sumatra Utara). Saya besar di Medan soale, makanya saya tahu :D.

***

Siang itu saya ditemani oleh Panasonic Lumix DMC-LX7 (bukan promosi lho ya, tapi memang meski kecil-kecil begitu, hasil jepretannya keren menurut saya). Sengaja saya tidak membawa kamera gede (baca: DSLR). Selain karena berat menentengnya, saya juga takut diusir oleh pihak keamanan karena tidak ada surat penugasan jepret-menjepret. Seperti yang sudah saya sampaikan di atas tadi, saya cuma pengunjung biasa yang penasaran, bukan reporter.

Merasa jarak tempat saya berdiri dengan ‘arena’ acara yang sedang berlangsung lumayan jauh, saya pun mendekati seorang anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) yang juga diundang, dan bertanya kepada beliau apakah pengunjung biasa seperti saya, dibolehkan mengambil foto dalam jarak dekat. Ternyata boleh! Maka setelah mengucapkan terima kasih kepada beliau, saya pun bergegas mendekati ‘arena acara’ agar tidak kehilangan momen bagus.

Di ‘arena’ itu saya melihat semacam tandu yang bertingkat-tingkat. Tidak jelas entah ada apa di atas tandu-tandu itu. Setelah dekat, ternyata di atas tandu-tandu itu adalah berbagai macam makanan. Di kepala saya otomatis keluar kata: sesajen.

Oleh pihak panitia, kami yang berkeinginan untuk memotret acara, dihimbau agar mengambil jarak sejauh 4 meter dari tandu sesajen itu. Maksudnya supaya tidak mengganggu kesakralan acara. Dalam hati saya berkata, β€œMana mungkin, lihat saja nanti. Pasti semua moncong-moncong kamera ini nggak ada yang mau jauh-jauh dari momen bagus.” Dan benar saja, jarak 4 meter itu hanya bertahan beberapa menit. Setelah itu para juru foto seolah ‘amnesia’ akan himbauan panitia tadi :D. Kecuali saya. Kalau saya tetap patuh kepada himbauan tadi :D.

Berhubung siang itu panas sekali, saya pun mengambil tempat untuk berdiri di sebelah pohon sawit yang lumayan bisa menutupi tubuh dari sengatan matahari. Disitu saya bertemu dengan seorang pria yang berpakaian serta bertutup kepala putih-putih yang sepertinya merupakan bagian dari acara siang itu.

Saya bertanya kepada beliau apa nama dari acara yang sedang dilaksanakan saat itu dan untuk apa sesajen itu. Menurut beliau (saya tidak bertanya siapa namanya), acara yang sedang kami lihat itu bernama Pelas Banua. Artinya kira-kira memberi makanan kepada alam supaya alam berbaik-hati kepada Balikpapan. Dan menurut beliau juga, nantinya sesajen tersebut akan dibawa ke laut. Maka, masih menurut beliau, melalui lautlah, ‘alam diberi makan’.

***

Setelah selesai mengucapkan doa-doa pada sesajen tersebut, acara dilanjutkan dengan makan siang. Saya pun undur diri, pulang, tidak ikut makan siang ataupun memotret kelanjutan acara Pelas Banua itu. Soale panas banget dan saya lapar berat. Malu dong makan siang disitu, siapa gue gitu loh :D. Bukan undangan, bukan reporter, pokoke bukan siapa-siapa lah :D. Meski cuek-cuek begini, saya masih tahu etika koq hihihihi :D.

Namun ada sedikit yang menggelitik hati kecil saya. Saya yakin, tujuan penyelenggara melaksanakan Pelas Banua itu sebenarnya adalah untuk melestarikan tradisi Kutai yang telah berlangsung turun-temurun. Tetapi, menurut saya, kalau sudah mengenal Tuhan, janganlah lagi memberi sesajen entah dalam bentuk apa pun, kepada alam. Karena menurut saya, bukan alam yang memberikan berkat atau yang berbaik-hati kepada suatu bangsa atau kota, tapi Tuhan. Alam ini adalah ciptaan Tuhan. Maka sebaiknya, bukan alamnya yang ‘diberi sesajen’, tapi Tuhan. Kalau alamnya yang diberi sesajen, bisa-bisa bukannya berkat dari Tuhan yang kita terima, melainkan murkaNya. Mungkin tradisi sesajen dalam Pelas Banua ini bisa diperbaharui, misalnya, dalam bentuk memberi bantuan kepada Panti Asuhan atau kepada anak-anak atau masyarakat yang kurang mampu, para jompo, dlsb. Tapi itu menurut saya lho yaaaa :D.

***

Okelah kawans, berikut beberapa foto yang berhasil saya abadikan kemaren. Oya, acara Erau Budaya Balikpapan ini berlangsung sampai tanggal 17 Februari 2013 di komplek Banua Patra (mudah-mudahan belum pindah :D). Jadi langsung saja kesana kalau pengen tahu.

Enjoy!

Advertisements

5 thoughts on “Erau Budaya Balikpapan: Pelas Banua (Catatan Singkat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s