Di Doa Ibuku, Namaku Disebut

Ketika ada masalah dalam hidup, kepada siapa Anda berpaling minta tolong?

Salah satu teman baik saya (sebutlah namanya Nina) pernah bercerita pada saya, tentang pengalamannya ketika dia menghadapi suatu masalah besar. Saat itu Nina tidak tahu lagi mau mengadu kepada siapa. Masalahnya telah ‘menelan’ dirinya bulat-bulat hingga membuat sekujur tubuhnya sakit, terutama bagian kepalanya. Kalau kepala sudah sakit, bagaimana mau berpikir jernih, ya toh?

Tetapi dibalik kesakitan kepalanya, rupanya masih ada secercah kesadaran Nina yang ingin segera pulih dan bangkit dari keterpurukannya. “Darimana lagikah kucari pertolongan, ya Tuhan? Tolonglah aku,” seru Nina dalam doanya.

Sebuah suara (Nina yakin kalau itu suara Tuhan) membisiki nuraninya, “Ibu”. Kali pertama, suara itu masih samar-samar. Ketika di kali kesekian suara itu membisikinya, Nina pun yakin kalau Tuhan berkehendak supaya Nina berbicara kepada Ibunya.

Diangkatnya gagang telepon, lalu ditutupnya lagi. Ia ragu. Hatinya mendua. Di satu sisi ingin segera berlalu dari masalahnya, namun di sisi lain ia malu menelepon Ibunya dan memberitahu masalahnya. Namun jika semakin lama ditunda, maka semakin sakitlah ia dan semakin lama hidupnya terkatung-katung.

Setelah bergumul beberapa lama, akhirnya Nina memutuskan untuk menelepon Ibunya dan mengatakan semua masalahnya hingga ia menangis terisak-isak. Begitu beratnya rupanya masalah yang membebaninya. Ibunya berjanji untuk mendoakannya dengan syarat: Nina juga harus mau melakukan seperti yang diminta Ibunya. “Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, Nina,” jelas Ibunya di telepon.

Beberapa hari berlalu. Perubahan yang signifikan memang terjadi pada diri Nina. Masalahnya berangsur-angsur selesai. Hidupnya terasa enteng (baca: ringan). Tidak ada lagi beban yang membuatnya sakit. “Ini adalah mukjizat. Memang benar, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan,” kata Nina, seperti mengulang kalimat Ibunya.

***

Doa orangtua, terutama Ibu, apalagi Ibu yang ‘benar’, menurut saya, memang sangat manjur. Selama Ibu masih hidup, pastilah ia mendoakan kita. Karena menurut saya, tidak ada Ibu (yang benar) yang ingin supaya anaknya ‘tersesat’ atau berjalan menuju kebinasaan.

Makanya kalau ada hal-hal spesifik yang sedang Anda gumuli atau inginkan, mengapa tidak minta didoakan olehnya? (Selama keadaan fisik mereka memang masih mendukung untuk diajak berbicara tentunya). Dan Anda, selaku orang yang meminta didoakan, tentunya harus mau mendengarkan saran atau permintaan Ibu Anda.

Nina sungguh beruntung masih memiliki Ibu yang bisa diajaknya berbicara ketika seluruh dunianya runtuh dan mau mendoakannya. Bagaimana dengan Anda, masih maukah Anda berbicara kepada Ibu Anda atau meminta Ibu Anda mendoakan Anda ketika Anda menghadapi masalah? Atau apakah Anda ‘jual mahal’?

Advertisements

17 thoughts on “Di Doa Ibuku, Namaku Disebut

  1. Ceritaeka says:

    Jarang banget curhat sama mamak 😀 soalnya masalah kalau besar banget itu justru kalau bermasalah sama mamak 😀 kalau masalah lain2 malah bisa cepat ditanggulangi sendiri :p

    Like

  2. Fascha says:

    kalo aku ada masalah aku simpen sendiri, kasian Mama ntar jadi kepikiran, soalnya emakku itu orangnya suka hiperbola, mendramatisir keadaan, Tapi kl aku lg ada masalah pasti Mama udh ngerasa duluan, Mama emg the best yah 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s