To Be A Better Man

Sebelum akhir tahun 2012 berlalu, saya bertekad untuk menjadi ‘orang yang lebih baik’. Mulia sekali kedengarannya, ya? πŸ˜€ Entah dimana pernah saya baca, isinya begini, “Kalau Anda ingin hidup Anda berubah menjadi lebih baik, maka pertama sekali yang harus diubah adalah diri Anda sendiri, bukan orang lain. Mungkin orang lain tidak memperhatikan usaha-usaha yang Anda lakukan, tapi Tuhan melihat dan memperhatikan. Karena tujuan Anda untuk berubah adalah hal yang baik, maka hidup Anda akan berubah menjadi lebih baik secara ajaib.”

Setelah saya jalani, memang benar hidup saya berubah menjadi lebih baik. Tapi ternyata berat sekali jalan yang harus dilalui untuk menjadi orang yang lebih baik ini. Contohnya saat saya pergi ke supermarket beberapa waktu yang lalu. Saya bukan bermaksud untuk belanja, tapi untuk mengambil barang titipan yang lupa saya ambil.

Dengan tutur kata yang baik, saya berbicara dengan seorang staf penitipan barang serta menunjukkan kartu titipan. Kemudian ia memanggil Atasannya. Sang Atasan (laki-laki) bertanya jenis barang yang saya titipkan. Jujur saja saya jawab bahwa saya tidak ingat. Tanpa ba-bi-bu, Sang Atasan menaikkan volume suaranya dan berkata bahwasanya bukan saya si pemilik barang yang sesungguhnya dan mengucapkan hal-hal lain yang membuat saya semakin terkejut. Saya terkejut atas perilaku Sang Atasan yang menurut saya ‘tidak menampilkan sosok Atasan’ itu.

Di masa lalu, sudah pasti saya akan ‘meladeni’ sikapnya itu. Tapi berhubung saya dalam proses menjadi orang yang lebih baik, maka saya memilih untuk tidak meladeni sikapnya itu. Saya memilih untuk tetap tenang. Malah saya berpikir kalau Sang Atasan itu kemungkinan besar sedang menghadapi banyak masalah, sehingga dia ‘berkata-kata’ seperti itu kepada kliennya.

Setelah menarik napas dan memikirkan kalimat yang harus saya keluarkan dari mulut ini, saya pun berkata dengan tutur kata yang baik, “Memang saya pemilik barang yang dititip di nomor sekian ini, Pak. Tapi saya lupa jenis barangnya apa. Bukankah manusiawi kalau lupa, Pak? Karena memang sudah seminggu lebih tidak saya ambil. Tapi ya sudah, kalau memang barang titipan yang tidak diambil dalam 24 jam tidak bisa diambil lagi, apa boleh buat. Terima kasih.”

Setelah pergi dari situ, saya merasa lega dan bersyukur bisa menghadapi ‘ujian’ itu. Dan saya juga yakin bahwa barang yang saya titipkan itu pastilah ‘tidak begitu berharga’ sehingga saya lupa. Kemungkinan besar, barang yang saya titipkan itu adalah payung lipat yang sudah jelek dan setengah rusak. Karena setelah saya cek, hanya dialah yang tidak ada lagi di dalam tas saya. Ha ha ha :D.

Selanjutnya, untuk menjadi orang yang lebih baik, saya bertekad untuk menahan diri. Contohnya, menahan diri untuk tidak lagi mengumpat atau memaki. Awalnya saya disiplin untuk tidak mengumpat, jika ada perilaku orang lain yang tidak pas di hati saya. Setelah beberapa minggu, pertahanan saya mulai longgar. Kata-kata “taik kucing”, “brengsek”, “gila”, “latteung“, “pukimak”, “halode” (ketiga-tiganya bahasa Batak. Latteung & pukimak bisa berarti brengsek. Halode artinya keledai), dan sederet umpatan lainnya pun kembali meluncur keluar dari mulut saya dengan bebas.

Sebenarnya nurani saya telah memperingatkan supaya menahan diri untuk tidak mengucapkan kata-kata itu. Tapi ‘kemanusiaan’ atau ego saya merasa sangat puas saat saya mampu mengeluarkan kata-kata ‘tak senonoh’ itu. Setelahnya, saya merasa bersalah. Karena sesungguhnya, menurut saya, saat saya mengumpat mereka, saya juga mengumpat Tuhan yang notabene Pencipta saya dan mereka. CiptaanNya (kita manusia) sudah sempurna menurutNya, ehh, malah saya yang dengan seenak perut (yang juga manusia ciptaanNya) memaki-maki dan mengumpat mereka (karena mereka yang saya maki-maki itu juga berperilaku seenak perut mereka). Maka sebenarnya saya dan mereka sama-sama berperilaku seenak perut. Perut saya enak, perut mereka juga enak. Pusing nggak bacanya? πŸ˜€

Dalam rangka menjadi orang yang lebih baik ini, saya juga bertekad menggunakan waktu semaksimal dan sebaik mungkin. Tidak lagi menyiakan-nyiakan waktu dengan melakukan hal yang tidak penting.

Sekali lagi, memang jalan yang harus dilalui untuk menjadi orang yang lebih baik ini tidak mudah, tapi dengan disiplin dan mengikutsertakanTuhan dalam hidup, pasti berhasil :).

***

Para pembaca yang budiman, dalam rangka Tahun Baru dan dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama serta dalam rangka menjadi orang yang lebih baik (banyak banget dalam rangkanya ya??? :D), saya mau memberi hadiah kepada Anda. Yakni sebuah tas etnik dan dua buah novel. Cara mendapatkannya, silahkan jawab pertanyaan berikut: Apa keinginan Anda tahun ini? Usaha apa saja yang Anda lakukan agar keinginan Anda itu terwujud? Yakinkah Anda kalau keinginan Anda itu akan tercapai? Jawaban ditunggu hingga tanggal 8 Februari 2013. Dan pemenang akan diumumkan tanggal 11 Februari 2013 di blog ini (ya iyalah, masak di blog tetangga? Hihihi :D).

Okeeeh, saya tunggu jawabannya ya!

Advertisements

7 thoughts on “To Be A Better Man

  1. 1. Apa keinginan Anda tahun ini? Mendapatkan nilai A pada semua mata kuliah di Jerman untuk Winter dan Summer semester.
    2. Usaha apa saja yang Anda lakukan agar keinginan Anda itu terwujud? Ora et Labora: Belajar keras siang dan malam, serta berdoa.
    3. Yakinkah Anda kalau keinginan Anda itu akan tercapai? Ora et Labora: dengan bekerja sambil berdoa pasti Tuhan akan bantu wujudkan itu semua.

    Like

  2. keinginanku untuk tahun ini to, menikah. usahanya udah pasti maksimal (dari ngurusin ini itu, ngatur waktu dan persiapan mental plus doa) krn udah deket hari H jga πŸ˜€

    selain ini di tahun ini aku sedang merintis usaha trip @kelilinglombok
    inginnya di tahun ini bisa eksis, jadi berkat buat banyak orang. usaha yg dilakukan sampai saat ini gencar promo dan melayani tamu-tamu @kelilinglombok dengan maksimal agar mereka puas πŸ˜€

    yang terakhir, aku pengen bikin buku tentang pariwisata lombok
    usahanya, baru jadi 1 buku tentang seri pantai, next seri gili. semoga tahun ini bisa kumplit… aymennnn

    Like

  3. Apa keinginan Anda tahun ini?
    Mulai Maret pengen menulis lebih banyak tentang wisata Indonesia supaya lebih banyak orang datang liburan dan devisa kita naik. Soalnya aku sering sedih lihat negara orang yang menurutku gak lebih bagus dari Indonesia tapi koq wisatawannya banyak. Aku bukan pengambil kebijakan soal wisata tapi aku blogger yang suka nulis maka aku ingin berpartisipasi menaikkan pariwisata Indonesia dengan menuliskannya.

    Usaha yang daku lakukan agar terwujud? Ada banyak:
    1. Langganan newsletter tentang tiket-tiket pesawat murah supaya tahu kalau ada tiket yang terjangkau kantong.
    2. Beli tiketnya dan atur trip ke sana, baik wisata kuliner atau wisata budayanya πŸ™‚ Maret ada trip keliling Jakarta, April ke Malang, Mei ke Jogja, Juni ke Karimun Jawa melalui Semarang. Nah bulan-bulan selanjutnya masih nunggu newsletter tiket murah hahaha

    Yakinkah Anda kalau keinginan Anda itu akan tercapai?
    YAKIN banget πŸ™‚ kan usahanya udah berjalan setengah, nanti setengahnya tinggal komitmen untuk menuliskan cerita-cerita perjalanan ituh πŸ™‚ Doakan sukses yaaa

    Btw aku salut sama usahamu menahan diri. That is nice πŸ™‚ Puji Tuhan aku udah gak berkata-kata kasar lagi dari SMP, somehow enggak biasa aja. Dulu sih karena pergaulan berkata kasar, begitu sadar berhenti mengumpat. Nah sekarang tidak mengumpat itu udah jadi pilihan gaya hidup sih πŸ™‚

    Keep up the spirit to be a better person ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s