Tempurung Sakit Hati

Gara-gara sakit hati, kita tidak bisa makan dengan nikmat, tidak bisa tidur dengan nyenyak. Kita kehilangan momen-momen yang indah dalam hidup ini hanya karena terlalu banyak menyimpan sakit hati. Sayang sekali, bukan? Bahkan ada pula lirik lagu yang mengatakan, “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini…” Ah ya, sakit hati (yang konon menjurus menjadi kepahitan), memang tidak pernah enak. Mudah-mudahan renungan di bawah ini dapat mencerahkan hati para pembaca budiman yang saat ini sedang bergumul dengan sakit hati. Selamat membaca!

***

Terlalu banyak kepahitan yang tersimpan di dalam hatiku. Hal itu membuatku terdampar pada sebuah keputusasaan dan kekosongan jiwa. Pada suatu hari, di puncak ketidakmampuanku untuk menanggungnya, aku diperhadapkan pada sebuah pilihan, melepaskan sebuah pengampunan atau masuk rumah sakit jiwa.

Aku memilih untuk melepaskan pengampunan yang telah tersimpan bertahun-tahun. Hal yang pertama kulakukan adalah menerima jamahan kasih karunia Tuhan untuk dapat melepaskan semua kemarahan dan sakit hati yang ada.

Aku mengkilas balik semua peristiwa yang menyakitkan dan melepaskannya satu per satu, tanpa satu pun yang tertinggal. Malam itu menjadi malam pelepasan bagiku. Sejak saat itu, aku tidak lagi merasakan satu emosi negatif apa pun ketika mengingat kembali peristiwa tersebut.

Ketika kepahitan telah membuat jiwa kita sakit, maka detik-detik pelepasan pengampunan membuat jiwa kita begitu sesak, karena yang kita lepaskan adalah sesuatu yang telah menjadi bagian dari hidup kita selama ini. Kita melepaskannya dalam sebuah jeritan jiwa dan derasnya air mata, namun setelah itu damai sejahtera Tuhan memenuhi hati kita. Lalu dalam terang cahaya kebenaranNya, kita menyadari betapa kepahitan memiliki daya penghancur yang luar biasa, terlebih lagi bisa melumpuhkan kerohanian kita.

Alkitab mencatat, “Sesungguhnya orang bodoh dibunuh oleh sakit hati…..” (Ayub 5:2). Menyimpan kemarahan dan sakit hati adalah sebuah kebodohan, melepaskan pengampunan merupakan sebuah pilihan yang bijak. Seperti yang dinyatakan oleh Cherie Carter-Scott, “Kemarahan akan membuat Anda semakin kecil, sementara melepaskan pengampunan mendorong Anda bertumbuh ke tingkat yang lebih tinggi.”

Dengan kata lain, kemarahan dan kepahitan hanya akan menempatkan hidup kita bagai katak dalam tempurung. Membuat kita tidak dapat melihat keindahan di luar tempurung sakit hati. Sementara itu, pengampunan akan menajamkan kepekaan hati kita untuk melihat rencanaNya melalui semua yang terjadi.

Kita mampu melihat semua kepahitan sebagai berkat rohani yang terselubung, yang hanya dapat kita mengerti ketika pintu pengampunan terbuka lebar. Seperti apa yang dialami oleh Yusuf, “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu… Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah.” (Kejadian 45:5, 45:8)

Betapa indahnya pengampunan yang akan membuka cakrawala pemikiran kita, yang beralih dari kepicikan karena sakit hati kepada pemahaman akan rencanaNya melalui semua yang terjadi.

Jadi, masihkah kita memilih untuk menjadi orang yang bodoh, yang hidup dalam tempurung sakit hati, ataukah menjadi orang yang bijak dan menikmati indahnya sebuah hati yang mampu mengampuni?

(Sumber: Manna Sorgawi Desember 2012, No. 177 Tahun XV. Selasa 18 Desember 2012)

Advertisements

10 thoughts on “Tempurung Sakit Hati

  1. padahal orang yang bikin sakit hati kita belum tentu sakit hati juga, alias dia hidup tenang-tenang saja, sedangkan kita yang sakit hati malah memikirkannya berhari dan menjadikan akar pahit, hilang sukacita. So mari beri pengamupunan. Happy sunday! :).

    Like

  2. setuju banget mbak, meski kadang terasa berat melakukannya. Dan hanya ketika kita sudah bisa merasakah kasih Tuhan, maka kita bisa mengampuni … btw, Ayub ini tokoh yg luar biasa, yang sering kuingat ketika aku mengalami kesulitan …
    TFS …
    Salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s