Memasak? Jangan Takut!

Kapan pertama kali Anda memasak sendiri?

Selama bertahun-tahun, saya telah melihat Ibu saya memasak di dapur kami. Dan saya selalu membantunya sebisa saya. Namun saya belum pernah benar-benar memasak sendiri tanpa bantuan Ibu saya. Biasanya saya hanya memasak sesuai dengan petunjuk atau instruksi Ibu saya.

Hingga pada suatu waktu -saat itu saya duduk di bangku SMU dan beberapa hari lagi Tahun Baru- saya menemukan buku masak Ibu saya, yang sepertinya sudah lama ‘terabaikan’ didalam lemari perkakas rumah tangga. Bukunya berjudul ‘Kumpulan Resep Cake Cokelat Sepanjang Masa’ atau seperti itulah kira-kira. Yang pasti, buku itu berisikan beberapa Resep Cake Cokelat yang telah di ujicoba oleh sang penulis.

Karena ingin tahu, saya mengambil dan membacanya. Ternyata isinya menarik dan menurut saya tidak sulit untuk membuat cake-cake yang tertera di buku itu. “Tetapi mengapa Ibu saya belum pernah membuat satu cake pun yang ada di buku ini?,” pikir saya. Mungkin karena berbagai kesibukan, Ibu saya menjadi tidak sempat lagi membuat cake. Atau mungkin karena pada zaman itu sudah banyak toko kue berseliweran di sekitar tempat tinggal kami. Jadi mudah saja, hanya dengan berjalan kaki beberapa ratus meter dan membayarkan sejumlah uang, sudah bisa membawa pulang cake yang diinginkan.

Saya tidak tahu yang mana jawaban Ibu saya persisnya. Namun, setelah membolak-balik halaman di buku resep tersebut, saya memutuskan membuat dua cake cokelat, untuk kami santap sekeluarga di malam pergantian tahun. Saya memutuskan membuat cake karena saya ingin belajar dan saya ingin memberi cake yang ‘berisi’ (bukan cake ‘kosong’ dari toko kue), kepada keluarga saya.

Saya sebut cake ‘kosong’ karena biasanya cakenya mengembang tinggi (menggunakan pengembang kue yang banyak), serta cantik (dihiasi krim mentega atau buttercream yang juga ‘kosong’ dan terlampau banyak). Sehingga pada saat dimakan, cakenya terasa ‘kosong’ di lidah. Memang tidak semua toko kue menjual cake ‘kosong’. Ada juga beberapa toko kue yang menjual cake yang ‘berisi’.

Setelah membeli bahan kue, saya pun memasaknya sendiri dirumah. Saya yakin, dengan sedikit pengalaman memasak dan mengikuti langkah-langkah sebagaimana tertera di buku resep, cakenya pasti berhasil. Atau setidaknya masih bisa dimakan :D.

Dan memang kedua cake cokelat saya lumayan berhasil. Berhasil bantet maksudnya :D. Meski bantet (karena saya menggunakan telur yang bersuhu lemari pendingin, bukan bersuhu ruangan), keluarga saya menyantap cake tersebut dengan sukacita :D. Mungkin karena saat itu tengah malam sehingga kami semua kelaparan, atau karena mata saya membelalak (seakan memaksa mereka supaya segera menghabiskan kuenya :D), atau mungkin karena tidak ada pilihan cake lain, maka apa pun yang disuguhkan harus disantap dengan sukacita 😀 :D.


Jadi, apakah bisa memasak merupakan salah satu resolusi Anda di tahun yang baru nanti? Dengan berdisiplin latihan, mungkin Anda bisa menjadi jago memasak. Siapa tahu? Seperti yang dikatakan chef Julia Child (1912-2004), “Jangan pernah takut untuk mencoba memasak, karena tidak ada orang yang dilahirkan benar-benar jago memasak. Semua butuh proses.”

chicken rice

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s