Butet

Ada seorang teman, sebut saja namanya Butet. Butet kini mengalami guncangan dalam kehidupannya. Butet merasa dirinya yang sekarang adalah akibat dari perlakuan-perlakuan yang diterimanya di masa lalu. Butet merasa dirinya yang sekarang ibarat Monster mengerikan yang kapan saja siap menghancurkan dirinya sendiri serta orang-orang yang dikasihinya. Berikut ini saya ceritakan kisah si Butet.

***

Pada awalnya, hanya ada Papa dan Mama. Setelah beberapa waktu menikah, Mama pun hamil. Tapi kehamilannya tak berlangsung lama, karena Mama keguguran. Keguguran itu terjadi karena Mama masih sering mengangkat tempayan air di masa-masa awal kehamilannya. Setelah keguguran itu, Mama rupanya sulit untuk bisa hamil lagi.

Belasan tahun pun berlalu, Papa dan Mama dapat mempertahankan rumah tangganya, meski tanpa anak. Pada tahun yang kesekian belas, datanglah kerumah mereka, seorang Perempuan yang masih terbilang saudara mereka. Perempuan ini datang ke kota untuk wawancara pekerjaan.

Perempuan yang datang ke kota ini, kehilangan ibu kandungnya ketika ia masih kecil. Otomatis, ia tumbuh tanpa kasih sayang dari Ibunya. Ibunya meninggal saat melahirkan adiknya yang paling kecil. Ayah Perempuan ini (seorang Guru), akhirnya menikah lagi supaya anak-anaknya mendapat Ibu baru. Namun Ibu Tirinya itu tidak harmonis hidupnya dengan anak-anak dari Ayah Perempuan itu. Mereka sering bertengkar.

***

Melihat tingkah lakunya yang baik, muncullah keinginan Mama supaya Papa mengambil Perempuan itu menjadi istrinya, agar mereka dapat memperoleh keturunan melalui Perempuan itu. Setelah melalui pergumulan yang panjang, akhirnya Papa dan Perempuan itu dinikahkan oleh orangtua dan para tua-tua adat.

Perempuan itu pun hamil. Namun kehamilannya itu menjadikannya sombong. Ia menuntut ini dan itu dari Papa. Termasuk menuntut supaya Papa meninggalkan Mama. Papa menolaknya. Mama adalah cinta dalam hidupnya. Papa tidak akan pernah meninggalkan Mama. Perempuan itu lupa akan posisinya, bahwa dia adalah “tongkat” untuk menegakkan keturunan Papa dan Mama.

Dalam masa-masa kehamilan anak pertamanya, Perempuan itu sering lari dari rumah karena tidak dituruti permintaannya oleh Papa. Dia tidak tahu, kalau tindakannya itu nantinya akan mempengaruhi jabang bayi yang ada dalam perutnya itu.

Setelah empat belas tahun menunggu, akhirnya Papa dan Mama beroleh anak pertama mereka melalui Perempuan itu. Mereka menamakannya Butet. Mama pun resmi menjadi Ibunya si Butet. Meskipun Butet sudah lahir, keadaan dalam rumah tangga mereka bertiga bukannya semakin membaik, melainkan sebaliknya. Kini, sebutan untuk Perempuan yang telah melahirkan si Butet itu adalah Mami.

Tidak akan pernah ada damai sejahtera dalam rumah tangga yang beristrikan dua dan serumah pula. Mami sering cemburu kepada Mama, karena Papa tetap sayang kepada Mama. Dan untuk membuat Mama dan Papa menderita, Mami pun melarikan si Butet yang masih bayi itu, kerumah orang tuanya atau ke tempat adiknya. Mama yang sudah terlanjur sayang kepada si Butet ini pun sedih, karena tidak bisa berpisah dengan Butet yang notabene kini sudah menjadi anaknya sendiri. Mama cemas akan kesehatan dan kondisi jiwa si Butet ini kalau terlalu sering dibawa lari.

***

Si Butet pun tumbuh dalam keluarga yang kalau dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah “broken family”. Keluarga yang ideal hanya ada satu ibu dan satu bapak. Tapi yang terjadi adalah dua ibu dan satu bapak. Pertengkaran demi pertengkaran yang kerap ‘menghiasi’ rumah tangga orangtuanya, seringkali harus disaksikan dan didengarkan secara langsung oleh si Butet ini. Sering, Mami lah yang selalu memulai pertengkaran.

Tidak peduli apakah pagi, siang, malam, atau saat sarapan, makan siang atau makan malam, Butet harus selalu siap mendengar dan menyaksikan pertengkaran yang mengerikan serta menakutkan. Kadang Butet mengintip atau mendengar dari balik pintu kamar, saat orangtuanya bertengkar di meja makan.

Papa pun lambat laun berubah menjadi sosok yang pemarah, karena telah terlatih sekian lama menghadapi sikap Mami, yang tak bisa dihadapi dengan sikap lembut. Karena tak ada kedamaian dirumahnya, Papa jadi sering keluar malam, lalu pulang kerumah dini hari dalam keadaan mabuk.

Seperti tinggal di neraka, kata Butet. Ia pun, tanpa disadari, ikut menanamkan perilaku-perilaku kasar itu ke alam bawah sadarnya dan sering muncul dalam perilakunya sehari-hari. Memang benar kata pepatah, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.

***

Karena kondisi rumah tangga orangtuanya yang tidak kunjung membaik, maka ketika Butet duduk di kelas IV SD (usia Butet sekitar 9 tahun), diputuskanlah agar Mami pisah rumah. Mami pun membawa ‘paksa’ Butet dengan adik-adiknya pindah ke tempat yang baru, padahal Butet ingin tinggal bersama Papa dan Mama. Karena Butet sayang sekali kepada Mama. Dia tak mau berpisah dengan Mama. Tapi apa daya, Butet kecil tidak bisa melawan Mami. Dia pun hanya bisa menangis saat kendaraan yang membawa mereka pergi semakin menjauh dari rumah. Alasan Mami membawa Butet dan adik-adiknya adalah supaya Papa dan Mama menderita, karena anak-anak sudah tidak ada lagi bersama mereka.

Di tempat yang baru, Mami mengumbar kepada orang-orang, bahwa tak satupun dari Butet dan adik-adiknya yang ingin tinggal bersama Papa dan Mama. Butet berteriak dalam hatinya, “Bohong! Mami bohong! Mami tak pernah bertanya apakah kami mau tinggal bersama mereka atau tidak! Aku mau tinggal bersama mereka, tapi Mami tidak membolehkan!”

Semakin lama, bibit kepahitan yang sudah lama ditabur Mami, tumbuh subur didalam diri Butet. Butet menjadi pribadi yang tertutup, sensitif, tidak banyak bicara, pemarah, mudah tersinggung, mudah depresi, mudah sedih, pemurung, dll. Butet pun semakin lama semakin benci kepada Mami.

***

Setelah sekian lama tak bertemu, pada suatu hari, saat jam istirahat sekolah, Mama datang menjumpai Butet. Alangkah senangnya hati Butet. Butet pun menangis tersedu-sedu menceritakan kehidupannya di tempat yang baru. Rupanya melalui salah seorang penjaja kue, Mami memata-matai siapa saja yang bertemu dengan Butet. Tapi Butet tidak perduli apakah akan ketahuan oleh Mami atau tidak.

Kali berikutnya, Mama datang lagi diam-diam. Kali ini lengkap membawa satu set pakaian Butet yang bagus. Rupanya Mama bermaksud agar mereka foto berdua di studio foto dekat sekolah. Supaya ada kenang-kenangan. Siapa tahu, Butet tidak akan pernah lagi kembali kepada Papa dan Mama.

***

Pada suatu siang saat jam sekolah, Mami datang dari kantornya membawa kertas yang diperlukan Butet sebagai bahan prakarya. Butet menemui Mami di luar kelas. Ternyata jenis kertasnya tidak sesuai dengan yang diperlukan Butet. Butet marah kepada Mami. “Bukan begini jenis kertasnya! Kalau begini mana bisa aku mengerjakan apa-apa nanti! Ah sudahlah Mi!” Butet masuk ke kelas, Mami pun pergi.

Waktu jam istirahat, Ibu Guru Wali Kelas Butet memanggilnya. Butet pun pergi menemuinya. Rupanya Ibu Guru melihat kejadian antara Butet dan Mami siang itu. Ibu Guru menegur Butet dengan keras. Ia mengatakan seharusnya Butet berterima kasih kepada Mami karena Mami mau repot-repot keluar dari kantornya untuk mengantar kertas itu ke sekolah.

Butet tidak bergeming di tempat duduknya, tapi hatinya berkecamuk, “Ibu Guru tidak tahu siapa Mami itu. Saya sudah hidup sekian lama dengannya, dan Ibu baru bertemu dia sebentar. Mami itu pemain sandiwara, Bu Guru. Kami semua diangkutnya ketempat yang baru, padahal dia tak sanggup mengurus kami sekaligus. Supaya tidak repot, kenapa tidak ditinggalkannya kami sebagian bersama Papa dan Mama? Kalau Mama pasti bisa menemukan kertas yang tepat. Mami, mami.. Lihatlah, jadi dimarahi Ibu guru anakmu ini karena sandiwaramu itu.”

Selesai dinasehati, Butet pun pergi ke toilet lalu menangis disana tersedu-sedu, mengadu kepada tembok kamar mandi.

***

Setelah sekian bulan lamanya tinggal di tempat yang baru, Mami akhirnya setuju untuk memberikan Butet beserta seorang adiknya, tinggal bersama Papa dan Mama. Adiknya yang lain, tetap tinggal bersama Mami.

Mengapa Mami akhirnya setuju untuk berbagi? Karena Mami mendengar kabar bahwa Papa dan Mama akan mengadopsi anak, kalau Mami tetap bersikeras tidak mau menyerahkan anak-anak. Mami pun kebakaran jenggot, akhirnya dia mengalah.

Meskipun Butet sudah tinggal bersama Papa dan Mama sekarang, namun Mami membuat syarat supaya Butet serta adiknya datang setiap akhir minggu ke tempatnya. Dan kalau Butet serta adiknya berulang tahun, harus dirayakan di tempat Mami. Lagi-lagi, Butet tak bisa menolak.

Mami pun sering menginterogasi Butet tentang seperti apa kehidupan di tempat Papa dan Mama. Butet tidak suka itu. Butet tidak suka berlama-lama disana. Butet selalu ingin secepatnya akhir minggu berakhir kalau ditempat Mami. Waktu terasa berjalan sangat lambat kalau sedang berada ditempat Mami.

***

Setelah tinggal bersama Papa dan Mama, hidup Butet menjadi lebih baik di tahun-tahun akhir masa SD, SMP dan SMA. Namun bukan berarti Butet berubah menjadi ‘orang lain’. Butet tetap seperti Butet di masa kecil. Dia akan melawan kalau ada orang yang semena-mena kepadanya. Apalagi kalau ia tahu dirinya benar. Tapi meskipun berperangai seperti itu, Butet menyukai humor juga.

Rumah tangga Papa dan Mama kembali dirundung masalah sejak datangnya Adik Papa kerumah. Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut singa. Seperti itulah kira-kira pepatah yang tepat untuk menggambarkan keadaan mereka waktu itu. Adik Papa yang tidak menikah itu selalu mencampuri rumah tangga Papa dan Mama. Akibatnya, mereka pun jadi sering bertengkar. Adik Papa itu bersikeras tetap tinggal dirumah mereka. Maka sekali lagi, Butet dan keluarganya kembali harus menjadi pemarah.

Butet pun semakin terlatih menjadi pemarah dan tukang melawan karena sikap Adik Papa yang suka semena-mena. Pertengkaran ‘face to face’ pertama mereka terjadi gara-gara piring kotor yang Mama tinggalkan di dapur karena harus pergi terburu-buru. Mama sudah berpesan supaya Butetlah yang mencucinya.

Butet yang waktu itu mencuci mobil di garasi, mendengar Adik Papa mengomel sambil mencuci piring-piring kotor itu. Butet tidak suka sikap seperti itu. Butet sudah siap untuk mencuci piring-piring itu segera kalau pekerjaannya mencuci mobil sudah selesai. Prinsipnya: Jangan melakukan pekerjaan sambil mengomel. Kalau tidak suka, jangan lakukan. Tidak ada yang memaksa dan tidak ada yang meminta Adik Papa untuk melakukannya.

Maka karena sudah lelah mendengar omelan Adik Papa, dan karena ia pun ingin memberi pelajaran kalau Adik Papa tidak boleh berkata dan berbuat sewenang-wenang dirumah orangtuanya, Butet pun berkata dengan keras dari garasi supaya Adik Papa jangan mencuci piring-piring itu kalau dia tidak suka. Adik Papa datang mendekat supaya lebih jelas ia mendengar kalimat Butet. “Apa kau bilang?” Butet berdiri dengan tegar sambil menjawab, “Jangan Kau kerjakan itu kalau Kau tidak suka. Jangan Kau ngomel-ngomel disitu. Aku bisa menyelesaikan itu semua.”

Adik Papa memandanginya untuk beberapa saat. Butet pun tetap berdiri di tempatnya. Lalu Adik Papa berkata, “Memang kau pemberontak. Berani kau bilang begitu samaku.” Butet tidak menjawab apa-apa. Memang dia tidak berniat untuk melanjutkan pertengkaran. Sudah cukup dikeluarkannya apa yang harus dikatakannya. Terserah Adik Papa mau bilang apa tentang dirinya. Butet memandang Adik Papa dengan sengit untuk terakhir kalinya sebelum ia tinggalkan Adik Papa disitu dan melanjutkan pekerjaannya mencuci mobil.

Butet duduk di bangku SMP sewaktu kejadian itu. Lalu apakah setelah kejadian itu Adik Papa langsung pergi keluar meninggalkan rumah orangtuanya? Tidak. Adik Papa masih tinggal disitu bersama mereka hingga Butet lulus kuliah dan bekerja. Selama itulah mereka harus menghadapinya didepan mata mereka dan menjadi batu sandungan dalam rumah tangga orangtua Butet.

Semakin lama, Mama semakin khawatir kalau terlalu lama Butet hidup dalam kondisi seperti itu, Butet pun lambat laun akan menjadi perempuan seperti Adik Papa. Tidak menikah, kondisi kejiwaan yang tidak stabil, mengganggu ketenangan rumah tangga orang lain, pemarah, dll.

***

Meskipun didalam hatinya Butet selalu berkata agar tidak menjadi seperti Mami atau Adik Papa, tapi rupanya bibit-bibit jelek yang sejak kecil sudah tertanam dan tumbuh dalam diri Butet, terus terbawa-bawa hingga Butet menikah. Meskipun Butet mengaku sudah hidup baru, namun Monster itu masih ada dalam dirinya. Yang datang kalau diundang, pulang kalau diantar.

Perilaku Monster yang buas, tidak mau tunduk, tidak mau diperintah, dan tak ada rasa takut kepada Tuhan di matanya ini, sering muncul dalam kehidupan pernikahan Butet. Syukurnya, Butet menyadari kalau perilakunya itu telah menjadi batu sandungan dalam pernikahannya. Butet pun sebenarnya sudah lelah hidup dalam kengerian seperti itu. Butet ingin mengalahkan si Monster ini, agar ia tidak kembali lagi untuk selamanya. Namun Butet tahu, hal itu tidak semudah seperti membalikkan tangan.

Tidak mudah mengubah ataupun menghapus perilaku yang telah mendarah daging. Tapi mungkin Butet lupa, bahwa sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, asalkan Butet mau menyerahkan dirinya agar diubahkan Tuhan. Pertanyaan besarnya adalah, apakah Butet mau menyerahkan hidup dan pernikahannya secara total kepada Tuhan, atau tidak? Semoga jalan terbaiklah yang akan diambil Butet.

***

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah si Butet ini adalah:

  1. Manusia hanya melihat apa yang di depan mata.
  2. Demi mendapat anak, orangtua rela mengorbankan apa pun.
  3. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.
  4. Apa yang ditabur orang, itu pula yang akan dituainya suatu saat nanti.
  5. Hidup itu berat.
  6. Ada yang mau menambahkan?
Advertisements

3 thoughts on “Butet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s