Pernikahan: Disakiti-Menyakiti

Teman baik saya pernah bertanya apakah dia sudah siap menikah atau belum. Tentu saja saya tak tau apakah dia sudah siap menikah atau belum. Yang paling mengetahui apakah dia sudah siap menikah atau belum, pastinya dia sendiri, bukan?

Tapi saya menambahkan sedikit kepadanya, “Kalau mau menikah itu, harus sudah siap untuk disakiti atau menyakiti. Karena, kalau bukan kamu yang disakiti, pastilah kamu yang menyakiti.”

Mudah memang mengucapkannya. Tapi sesungguhnya tak mudah menghadapi rasa “sakit” itu. Banyak yang tak siap, karena datangnya sering tiba-tiba. Namanya “sakit”, seharusnya diperiksa ke dokter untuk didiagnosa lalu diberikan obat supaya sembuh. Tapi kadang, kita yang berumah tangga ini, kalau “sakit” lebih sering pergi ke “dokter abal-abal” atau mengobati sendiri. Maka bukannya semakin sembuh, tapi semakin parah penyakitnya.

Dalam janji pernikahan juga sudah jelas tertulis, kalau kita akan menghadapi “susah dan senang”. Kalau urusan “senang” tak perlu panjang lebar dijelaskan, pastilah semua orang tahan menghadapi “senang”. Namun kalau menghadapi “susah”, bagaimana pula? Menurut saya, disakiti-menyakiti ini termasuklah dalam kategori keadaan “susah” ini.

Pertanyaannya, mengapa bisa muncul hal disakiti-menyakiti ini? Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang bisa memunculkan hal menyakiti-disakiti ini. Namun saat ini hanya dua hal saja yang mau saya sampaikan.

  1. Karena kurang menghargai pasangan. Kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda. Orangtua yang berbeda. Asal muasal yang berbeda. Pendidikan yang berbeda. Jenis kelamin yang berbeda. Jalan pikiran yang berbeda. Intinya, segala sesuatunya berbeda. Saya dan Anda pasti beda dalam merespon segala sesuatu. Mengapa kita tidak bisa atau kurang bisa menghargai perbedaan yang sejak awal pun anda sudah tahu mengenai semua perbedaan itu. Tiba-tiba, dengan seenaknya kita memaksakan kehendak kitalah yang harus dilaksanakan. Kita tidak berpikir, bagaimana jika seandainya kita berada di posisi pasangan kita itu.
  2. Karena salah satu pihak merasa kedudukannya lebih tinggi dari pasangannya. Mungkin karena kita yang mencari nafkah dalam rumah tangga itu, kita merasa berkedudukan lebih tinggi daripada yang bukan mencari nafkah. Sudah lupakah kita bahwa kedudukan suami istri itu sepadan? Sepadan berarti sejajar. Tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah. Kalau kita menganggap pasangan kita tidak sepadan dengan kita, bahaya.

Sering, hal-hal yang kita anggap kecil/remeh/sepele lah yang menjadi penyebab hal disakiti-menyakiti ini. Seperti yang pernah terjadi dalam perbincangan antara suami istri seperti dibawah ini. Supaya adil, saya tidak menyebut siapa yang istri dan siapa yang suami.

A: Jadi hari ini sudah tau mau jalan kemana saja, ya?

B: Iya.. kita ke sini, ke sini dan ke sana. Hanya sekitar sini saja koq.. (Sudah lama menunggu si A untuk pergi)

A: Coba saya cek dulu lewat peta di internet..

B: …………… (berkata dalam hati: lho, untuk apa lagi dicek lewat internet? kan saya bilang sudah tau….)

A: (sambil mengutak-atik internet) saya kan orang teknik…

B: ………….. (terus menunggu, memikirkan menit demi menit yang sudah terbuang. tidak menjawab. tapi tambah mencelos hatinya akibat ucapan si A barusan. berkata dalam hati: apa maksud ucapannya itu? maksudnya kalau orang teknik pasti lebih baik caranya daripada orang non-teknik?? kalau begitu kenapa tidak dia saja dari awal yang mencari jalannya? dulu dia menyuruh saya. sudah capek-capek saya kerjakan selama ini. kalau toh yang dia percayai paling benar adalah caranya sendiri, ngapain dulu nyuruh saya???)

A: jadi dilihat perbandingannya peta ini adalah satu banding sekian….

B: … (berkata dalam hati: ya ampun.. habis sudah waktu dihabiskan disini, padahal diluar sana juga sudah ada penunjuk arah yang jelas.) Begini sajalah, mau ikut penunjuk jalan yang sudah jelas diberikan oleh pemerintah disini, atau ikut caramu?

A: ….saya tidak.. jangan nanti..

B: (semakin gemas karena makin habis waktu terbuang untuk argumen yang tak perlu dan karena merasa usahanya selama ini mencari rute tak dihargai) jangan nanti apa? koq seperti mengancam?

A: oke saya mengalah. ingat ya, saya (suami/istri) kamu (sambil menunjuk-nunjuk kepada si B). saya mengalah. yang saya pikirkan adalah mereka juga. tapi kamu mikirnya lain. maksudmu saya harus seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, menuruti semua apa kata kamu. oke saya akan diam. cara kamu saja dipakai. tapi saya juga punya limit. hati-hati kalau menjawab ya. saya tak suka kamu bicara bernada tinggi. kamu selalu bernada tinggi kalau bicara dengan saya. saya tak suka itu.

B: …. (berkata dalam hati: lho, koq jadi begini? gara-gara jalan saja koq jadi berantakan begini?? koq jadi melebar kemana-mana?? bicara nada tinggi? kerbau?? apa pulak ini???) dari awal kan kamu yang nyuruh saya untuk mencari jalan. ya sudahlah cara kamu sajalah dipakai. seharusnya ini jalan-jalan yang menyenangkan…

***

Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga, kata pepatah. Gara-gara masalah “sedikit”, akhirnya si A dan B menghabiskan liburan mereka dalam “penderitaan”. Bukankah pernikahan itu seharusnya adalah soal kompromi, kompromi dan kompromi? Mana mungkin pasangan kita bisa persis berkelakukan seperti yang kita mau. Mana mungkin bisa terus sependapat.

Jadi, bagaimana seharusnya ketika sedang dilanda disakiti-menyakiti ini? Sebaiknya anda temuilah Dokter Agung, jangan “dokter-dokteran”. Mintalah agar Dia meresepkan Obat untuk menyembuhkan pernikahan dan hubungan anda. Ingatlah tentang buah roh yang sembilan itu. Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dinginkan dulu kepala dan hati anda supaya anda bisa berpikir dengan jelas. Janganlah mengambil keputusan ketika masih dilingkupi amarah. Mungkin diri anda dan pernikahan anda sedang dimurnikan. Emas mesti dibakar dalam api sekian ratus derajat untuk dimurnikan. Manusia dimurnikan melalui ujian iman. Kadang ringan, kadang berat, kadang beraaaaat sekali, kadang sangaaaaaat beraaaaaat hingga rasanya ingin menyerah. Tapi jangan menyerah. Kalau menyerah, anda akan habis ditelan Iblis.

Namun kalau anda tidak ingin repot dengan semua tetek bengek itu, menikah dengan robot sajalah. Iya, robot buatan manusia yang tak punya hati dan tak punya perasaan itu. Robot yang takkan pernah protes terhadap apa pun.

Sekian.

Advertisements

3 thoughts on “Pernikahan: Disakiti-Menyakiti

  1. Ckckckck….bilang ama temennya Kak jgn emosian kali la hidup itu. Dibawa selow sante saja. Kan biasa ngecek spy aman perjalanan, jgn lgsg merasa dikecilkan teman Kakak itu.
    Kami sebagai laki2, memang tugasnya melakukan cross cek terhadap pekerjaan yg didelegasikan ke pasangan hidup. Temennya Kakak langsung emosi sih…wkwkwk.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s