Ketidakberesan Anak, Siapa yang Disalahkan?

Seorang teman blogger pernah berkicau kurang lebih seperti ini di twitter: “kalau anak tak beres, pasti ibunya yang disalahkan.”

Ya, saya juga sering mendengar hal semacam itu dan saya sendiri juga pernah melakukan hal itu (menyalahkan ibu seseorang kalau anaknya tak beres). Bahkan ibu saya pun pernah berkata, kalau kami (anak-anaknya) tak beres/jelek (bukan rupa, tapi karakter), pastilah beliau yang akan disalahkan, bukan bapak saya. Kejam sekali, ya, kedengarannya?

Mungkin orang sering lupa (termasuk saya), bikin anak itu mesti berdua (suami & istri), tak bisa seorang diri. Maka sama halnya seperti bikin anak, membesarkan anak juga pastilah berdua. Jadi, menurut saya, orang-orang yang hanya menyalahkan salah satu pihak, adalah orang-orang yang belum dewasa. Tapi manalah bisa kita larang atau kita atur orang untuk berkomentar, kan?

Supaya sportif, dua-duanya dong disalahkan, jangan hanya satu pihak saja. Seperti yang pernah diakui oleh ayah dari teman baik saya, saat salah seorang anaknya yang berkarakter tidak sesuai dengan nilai-nilai (baik) yang diajarkannya. Beliau menanggapi kenyataan itu dengan rendah hati seraya berujar, “Kesalahan kami mendidiknyalah itu sebagai orangtuanya.”

Beliau ayah yang dewasa menurut saya. Tidak mencari kambing hitam untuk disalahkan. Padahal bisa saja beliau menyalahkan istrinya atau lingkungan atau pergaulan anaknya di sekolah, misalnya. Tapi beliau tidak melakukan itu.

Lantas, kenapa kita cenderung menyalahkan ibu atas ketidakberesan anak? Mungkin karena pola yang selama ini kita ketahui adalah, bahwa dalam suatu rumah tangga (umumnya), ayah berperan sebagai pencari nafkah (pergi keluar rumah), ibu berperan sebagai pengurus anak yang tinggal dirumah. Maka sebagai orang yang (lebih banyak) tinggal dirumah, ibu tentulah lebih sering bertemu dengan anak; lebih sering bercakap-cakap dengan anak; lebih sering dilihat anak seperti apa tingkah lakunya; lebih sering ngajarin anak; pendek kata, ibulah yang lebih dekat dengan anak. Makanya kalau anak tak beres, pasti ibunya pun tak beres? Benarkah?

Perlu diingat, dalam rumah tangga yang baik, sebelum memutuskan untuk memiliki anak, tentulah ayah & ibu telah membicarakan dengan jelas (agar tak saling menyalahkan di kemudian hari), hal-hal penting atau mendasar, misalnya seperti:

  • Bagaimana cara kita membesarkan anak ini?
  • Mau pakai bahasa apa membesarkannya? Indonesia, Batak, atau Inggris? Atau campuran ketiganya?
  • Mau jadi apa anak ini nantinya? Jadi ‘orang’ atau jadi ‘monyet’ ?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas pendidikannya? Ibunya saja atau bapaknya saja atau dua-duanya? Atau mungkin asistennya???
  • Mau dikenalkan kepada Tuhan atau tidak?
  • Dan seterusnya
  • Dan seterusnya

Setelah hal-hal mendasar itu dibicarakan, nantinya kita merasa sudah tidak ada lagi celah untuk ‘ketidakberesan’ pada si anak ini. Kita merasa, semua cara yang kita gunakan dalam membesarkan si anak sudah sempurna, sudah yang terbaik. Tapi kita lupa kepada yang terpenting, yaitu bahwa ada Tuhan yang masih bekerja dan selalu bekerja dalam kehidupan ini. Kita lupa bahwa Dialah yang berkuasa atas kehidupan ini. Sehingga ketika ‘ketidakberesan’ itu muncul, kita pun ‘lupa’ dan tak bisa menerima kenyataan, bahwa mungkin hal itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang tak bisa diintervensi manusia. Beda anak, beda pula rencanaNya. Sebaik-baiknya manusia merancang hidup anaknya, keputusan Tuhan jualah yang terjadi.

Jadi kesimpulannya, jika ada anak dari kenalan kita atau mungkin anak kita sendiri atau anak orang lain yang tidak kita kenal (jumpa di jalan), yang tak beres, jangan cuma menyalahkan ibunya. (Kalau kita bukan pengecut), salahkanlah kedua orangtuanya dan juga Tuhan.

Yang terakhir, jika kita terbeban supaya ‘ketidakberesan’ anak itu menjadi ‘beres’, doakanlah! Mudah-mudahan intervensi kita didengar Tuhan. Sekian.

Advertisements

5 thoughts on “Ketidakberesan Anak, Siapa yang Disalahkan?

  1. Ceritaeka says:

    Nice sharing 🙂
    Yep! Bikin berdua, mbesarin ya berdua. Walau ibu sering di rumah tetap saja untuk seorang anak tumbuh berkembang itu akan butuh figur bapak dan ibu. Gak bisa salah satu.
    Sekarang jadi mikir, mau aku ajarin bahasa apa nanti anaku ya? Bahasa batak aku gak mahir! ><

    Like

  2. kasparovsitumorang says:

    Jadi kalau anaknya berhasil (beres), siapa yg “disalahkan”….hahaha? I hope all of them ya.
    Salam partopi tao toba.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s